Jurnal9.com
HeadlineNews

Menelusuri Misteri Kematian Diplomat Muda Arya Daru Pangayunan

Diplomat muda, Arya Daru Pangayunan saat bersama istri tercintanya, Meta Ayu Puspitantri.

JAKARTA, jurnal9.com – Polisi belum menemukan ponsel milik diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arya Daru Pangayunan (ADP), 39, yang tewas di kamar kosnya, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada 8 Juli 2025. Ini yang menjadi misteri.

Padahal malamnya sekitar pukul 21.00, ADP sempat teleponan dengan istrinya Meta Ayu Puspitantri (MAP). Ayu tinggal di Yogyakarta.

Seperti diungkapkan Meta bagus, kakak kandung MAP. “Malamnya adik saya Meta (MAP) kontak si Daru, terakhir jam 9-an. Dia (ADP) habis beli baju di Grand Indonesia, katanya lagi antre taksi,” kata Bagus.

Dan itu telepon terakhir kalinya ADP dengan istrinya, Meta. Setelah itu suaminya tak bisa dihubungi lagi.

Lalu Meta mencoba menghubungi penjaga kos (berinisial S). Dua kali menelepon penjaga kos itu tidak bisa dihubungi. Telepon pertama Senin malam 7 Juli pukul 22.40 WIB. Kemudian telepon kedua kalinya pukul 00.48 WIB (Selasa 8 Juli dini hari). Dua kali menghubungi penjaga kos itu tidak bisa.

Kemudian Meta menghubungi penjaga kos itu lagi pada pagi hari, pukul 05.27 WIB, Selasa 8 Juli 2025. Telepon yang ketiga kalinya ini baru bisa terhubung.

Menurut pengakuan si penjaga kos, saat istri ADP menghubungi dirinya sebanyak dua kali tidak tersambung. Karena itu nomor lama yang sudah tidak aktif. Lalu pagi harinya bisa tersambung karena Meta, istri ADP sudah mendapatkan nomor yang baru.

Dalam rekaman CCTV, si penjaga kos itu terlihat mondar-mandir melongok ke dalam kamar ADP. “Saya yang bolak-balik lewat samping kamarnya bapak (ADP) terlihat di CCTV. Ini yang bikin saya stres, karena menjadi pertanyaan polisi  Padahal saya diminta istrinya untuk mengecek ke dalam kamarnya,” kata si penjaga kos itu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi. “Benar. Istrinya minta penjaga kos itu untuk mengecek ke kamar ADP. Karena handphone suaminya mati,” tegasnya.

Istri ADP itu dari semalam, sudah berkali-kali tak bisa menghubungi suaminya. Sebelumnya sempat melakukan kontak terakhir dengan suaminya sekitar pukul 21.00. Tapi setelah itu ia mengaku berkali-kali sudah tak bisa lagi menghubungi suaminya.

Padahal menurut polisi, berdasarkan temuan fakta baru. Dari rekaman CCTV, pada Senin, 7 Juli 2025 pukul 21.43 sampai pukul 23.09 WIB, ADP berada di rooftop lantai 12 Gedung Kemenlu, di jalan Pejambon, Jakarta Pusat.

“Pada jam itu terekam CCTV, ADP sedang naik ke rooftop lantai 12. ADP terlihat membawa tas gendong dan tas belanja. Namun saat turun ke bawah, ADP tak membawa tas lagi,” ungkap Ade.

Polisi masih mendalami tujuan ADP pergi malam-malam ke kantornya Kemenlu. Ia naik ke rooftop lantai 12 malam itu. Apalagi pulang sampai jelang tengah malam pukul 23.09 WIB.

“Saat ini pihak kepolisian masih melakukan pendalaman. Masih terus mengumpulkan fakta, kesesuaian, apa yang dilakukan ADP di sana,” ujarnya.

Setelah ADP pergi ke kantor malam-malam itu, keesokan harinya, Selasa 8 Juli 2025, sekitar pukul 08.30 WIB, penjaga kos menemukan ADP sudah tak bernyawa. “Saya kaget saat pertama kali melihat kepalanya bapak dililit lakban. Lalu saya memanggil teman untuk menolongnya,” ujar penjaga kos yang berinisial S itu.

Polisi mengungkap tas gendong yang dibawa ADP pada malam itu ditemukan di rooftop lantai 12. Di dekat tangga darurat. Ditemukan sehari setelah ADP tewas di kamar kosnya. Diketahui di dalam tas itu berisi laptop, pakaian dan obat-obatan. Selain itu ada rekam medis ADP dari rumah sakit di Jakarta. Tertanggal 9 Juni 2025.

“Pakaian yang ada di tas itu rupanya baru dibeli. Karena di notanya ada tanggal pembeliannya. Kemudian ada beberapa obat-obatan. Namun kami tak bisa menjelaskan secara rinci obat apa saja. Karena bersifat privasi. Selain itu ada alat-alat kantor,” ia menjelaskan.

Baca lagi  Zona Merah Covid-19 di Indonesia Terus Menurun Jadi 20 Kabupaten/Kota

Lakban milik ADP

Kemudian Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak, menjelaskan soal lakban yang dililitkan di kepala ADP. Ternyata lakban itu milik pribadi ADP.

Menurut keterangan saksi istri ADP, lakban itu dibeli ADP bersama sang istri pada Juni 2025 di salah satu toko di Yogyakarta.

“Lalu sisa dari lakban itu masih ada. Dan lakban itu ditinggalkan di kediaman istri ADP di Yogyakarta,” ucap Reonald.

Meta Ayu, istri ADP bersedia menyerahkan sisa lakban itu kepada penyidik sebagai barang bukti. “Setelah diteliti pihak penyidik, ternyata lakban yang diserahkan istri ADP itu identik dengan lakban yang ditemukan di TKP,” ungkap Reonald lagi.

Saat jasad ADP ditemukan tak bernyawa di kamarnya, wajah ADP dililit lakban sampai menutup kepalanya. Sampai di bagian lehernya.

“Saat ditemukan jasad ADP, lakban itu masih menempel (melilit) kuat di bagian wajah sampai menutup kepalanya. Dan di bagian lehernya. Bahkan bonggol dari lakban itu masih menempel di sebelah kiri leher ADP,” jelasnya.

Kemudian dari fakta di TKP, polisi menemukan ada sidik jari korban (ADP) pada lakban yang melilit wajah dan kepalanya itu.

Dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban (ADP). Dan tidak ada barang-barang berharga milik korban lainnya yang hilang. Selain ponsel milik ADP yang sampai saat ini belum ditemukan.

“Sampai saat ini ponsel milik korban belum ditemukan. Padahal ponsel milik ADP ini penting karena ada jejak digitalnya. Tapi apakah ini menentukan penyebab kematian ADP, saya kira tidak,” kata komisioner Kompolnas Choirul Anam saat ditanya wartawan, Jumat (25/7/2025).

“Digital forensik dari barang elektronik lainnya, seperti laptop milik korban, juga bisa kan. Tapi sekali lagi saya menyatakan terkait penyebab kematian korban masih harus menunggu hasil otopsi,” ia menegaskan lagi.

Kemudian dari fakta lain, dari hasil olah TKP, akses masuk ke kamar kos ADP, pintu dalam kondisi terkunci dari dalam. Lalu kedua jendelanya juga dalam kondisi terkunci dari dalam.

Ade menjelaskan ada tiga kunci untuk bisa masuk ke kamar ADP, yaitu kunci manual dari dalam kamar, ada kunci slot terkunci dari dalam, dan kunci akses yang dipegang ADP. “Jadi ada tiga lapis kunci. Saat kejadian, semuanya dalam kondisi terkunci dari dalam,” ia menegaskan.

Ini yang masih misteri. Semua dalam kondisi terkunci dari dalam. Tapi ponsel yang sempat digunakan untuk menelepon istrinya terakhir pukul 21.00 tidak ditemukan di kamarnya. Kalau ada yang mengambil di kamarnya. Berarti ada orang yang masuk ke kamarnya. Masuk dari mana? Kan semua dalam kondisi terkunci dari dalam.

Siapa orang yang bertamu di tengah malam itu. Polisi tak menerima laporan, ada orang luar yang datang bertamu menemui ADP. Kalau tidak ada orang luar yang masuk ke kamarnya. Siapa lagi kalau bukan orang yang ada di sekitar tempat kos itu. Lalu ponsel milik ADP yang hilang itu, apakah diambil dan disembunyikan orang yang ada di sekitar itu?

Dan yang menjadi tanda tanya besar lagi. Dari fakta olah TKP itu ditemukan adanya sidik jari korban (ADP) pada lakban yang melilit wajah dan kepalanya. Sehingga memicu ada spekulasi penyebab kematian ADP, mungkinkah ADP melakukan bunuh diri?

“Allah yang maha melihat apapun yang tersembunyi dan dirahasiakan.” (Surat Al Mulk 14).

ARIEF RAHMAN MEDIA      

Related posts

Boneka Arwah: Budaya dan Agama

adminJ9

Peti Jenazah Covid-19 Jatuh dari Ambulans ke Jalanan Saat Melewati Jalan Menanjak

adminJ9

Kemenag: Pesantren Penerima Bantuan Harus Punya NSPP

adminJ9

Leave a Comment