Jurnal9.com
BusinessHeadline

Kinerja Siantar Top pada 2025 Meraih Penjualan Bersih Rp 5,24 Triliun

Direktur Utama PT Siantar Top Tbk, Armin (foto kiri) dan Suwanto Direktur, (foto kanan) usai public expose 2026 di Surabaya

SURABAYA, jurnal9.com – Meski perekonomian global dihadapkan pada ketidakpastian, PT Siantar Top Tbk (STTP) bisa meraih pendapatan sekitar dua digit pada tahun 2025 yang mencapai Rp 5,24 triliun dengan laba bersih 2025 sebesar Rp 1,18 triliun.

“Penjualan tumbuh 5%. Penjualan tahun 2025 sebesar Rp 5,24 triliun. Naik dibandingkan periode tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,96 triliun. Kenaikan ini salah satunya didorong pertumbuhan penjualan ekspor,” papar Armin, Direktur Utama STTP dalam public expose RUPS tahunan di Surabaya, Jumat (5/6/2026).

Kontribusi terbesar berasal dari penjualan lokal 81,16%, sedangkan penjualan ekspor 18,84%.

“Meskipun kondisi geopolitik dan makroekonomi sedang tidak menentu. Kami masih optimis. Sampai saat ini belum melakukan koreksi target penjualan. Ini karena kita melihat kinerja perusahaan tetap terjaga dengan baik sampai tahun 2026 ini,” kata Armin.

“Pada 2026 ini perseroan memproyeksikan pertumbuhan penjualan dan laba bersih sekitar dua digit. Target ini masih dianggap realistis, mengingat strategi efisiensi dan ekspansi pasar terus berjalan. Meski beban biaya produksi mengalami lonjakan, akibat nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp 18.000 per dolar AS saat ini,” lanjut dia memberi alasan.

Armin mengakui anjloknya nilai tukar rupiah ini berpengaruh pada kenaikan biaya produksi yang mencapai hampir 10%. Seperti melonjaknya harga bahan baku utama: tepung terigu, minyak goreng, kemasan bahan plastik, yang dipengaruhi pergerakan dolar AS.

Sementara itu Suwanto, Direktur STTP, menegaskan bahwa perseroan bukan saja dipengaruhi harga bahan baku yang melonjak, tetapi juga menghadapi kelangkaan bahan kemasan plastik (packaging) pada beberapa bulan lalu.

Baca lagi  Meski Pandemi, Kinerja Penjualan Trias Naik Capai Rp 2,7 Triliun, 2022 Pasar Lebih Baik

“Namun perusahaan berhasil mengatasi kondisi tersebut, sehingga pasokan tetap terpenuhi,” kata dia.

Meskipun harga-harga melonjak, akibat nilai tukar rupiah yang anjlok, lanjut dia, perusahaan berupaya tidak menaikkan harga produk untuk menjaga daya beli konsumen di pasar.

“Sebisa mungkin kami tidak menaikkan harga produk. Kenaikan harga menjadi pilihan terakhir, kalau kondisi pasar dianggap sudah tidak kondusif  lagi,” tegas Suwanto.

“Tapi kami terus memantau sejauh mana pergerakan dolar AS itu, sebelum perusahaan mengambil keputusan melakukan penyesuan,” ia menambahkan.

Suwanto menjelaskan dalam menghadapi tekanan dolar AS yang sangat berpengaruh pada harga bahan baku utama itu, pihak perusahaan juga melakukan efisiensi dalam menekan biaya produksi.

“Perusahaan melakukan strategi substitusi bahan baku dengan mencari sumber (sourcing) yang lebih kompetitif. Misalnya membeli bahan baku dari negara-negara ASEAN yang secara geografis masih terjangkau,” ujarnya.

Dalam kondisi melonjaknya nilai dolar AS itu, Suwanto mengaku ekspor ke pasar Asia dan Timur Tengah terus diperkuat.

“Memang ada tantangannya untuk pengirimannya yang harus memutar melalui Afrika. Ini berdampak pada kenaikan biaya angkut (freight cost). Tapi perusahaan terus memberikan dukungan kepada distributor di sana agar bisnisnya tetap jalan,” ucap dia.

AMRULLAH  I  ARIEF RAHMAN MEDIA  

Related posts

Kapal “Sekoci” Bantu UMKM Go Digital

adminJ9

Bulog Mau Tagih Utang ke Pemerintah, Buwas Minta Dukungan DPR

adminJ9

Bappenas: Kerugian Dampak Covid-19 Selama 10 Bulan Tembus Rp1.000 triliun

adminJ9

Leave a Comment