Jurnal9.com
BusinessHeadline

Rupiah Anjlok Rp 17.666 per Dolar AS, BI Yakin Rupiah akan Menguat Lagi Juli-Agustus

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo

JAKARTA, jurnal9.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh level Rp 17.645 per dolar AS pada Senin (18/5/2026) siang.  Rupiah melemah 1,17% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Data Bloomberg menyebutkan nilai tukar rupiah turun 71 poin atau 0,40% ke level Rp 17.668 per dolar AS.

Adapun kurs di BI hari ini, rupiah berada di level Rp 17.666 per dolar AS, melemah dibandingkan sebelumnya Rp 17.496 per dolar AS.

Sesuai kurs di BI, anjloknya nilai rupiah hingga menyentuh Rp 17.666 per dolar AS ini menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah rupiah.

Melihat pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) sore, rupiah masih berada di zona merah ke level Rp 17.640 per dolar AS.

Melihat anjloknya nilai tukar rupiah ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan dirinya yakin nilai tukar rupiah akan kembali menguat pada Juli – Agustus 2026.

“Seasonality Juli-Agustus 2026 akan menguat.  Ini sementara, karena ada faktor teknikal dari global dan domestik,” ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).

Bank Indonesia, kata Perry, berupaya akan mengembalikan nilai tukar rupiah ke level Rp 16.500 per dolar AS. Besaran ini disesuaikan dengan asumsi makro dalam APBN 2026.

Menanggapi pernyataan Gubernur BI itu, Ketua Komisi XI DPR RI, M Misbakhun menyepakati upaya BI tersebut. “Kita sepakat dengan apa yang disampaikan Pak Gubernur BI tadi, tolong dikembalikan ke level mendekati Rp 16.500 per dolar AS,” ujar politisi Partai Golkar ini.

Karena anjloknya nilai tukar rupiah yang kini menyentuh Rp 17.640 per dolar AS, menurut Misbakhun, terlalu jauh di atas level yang ditetapkan dalam APBN 2026.

Baca lagi  Ancaman Mental dan Bunuh Diri Akibat Kehilangan Pekerjaan Saat Pandemi Corona

“Transmisi pelemahan nilai tukar ini akan mempengaruhi berbagai aspek di perekonomian masyarakat, seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat,” tutur Ketua Komisi XI DPR RI ini.

Perry menanggapi pernyataan anggota DPR RI itu, “Saat nilai rupiah menyentuh Rp 17.424 per dolar AS pada 5 Mei 2026 lalu, BI sudah menyiapkan langkah untuk memperkuat nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Gubernur BI itu meyebutkan, langkah BI melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing di dalam negeri dan luar negeri, dengan menarik kembali aliran modal asing melalui instrumen keuangan seperti sekuritas rupiah BI.

Tekanan rupiah

Berbeda dengan pendapat ekonom DBS, Radhika Rao yang menanggapi salah satu tekanan terhadap rupiah ini, karena ada kekhawatiran pasar terhadap perubahan komposisi indeks MSCI. Dalam review Mei 2026, MSCI mengeluarkan enam saham Indonesia dari Global Standard Index.

Penghapusan enam saham Indonesia dari Global Standard Index ini menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat membuat bobot Indonesia di indeks emerging market menyusut.

“Bobot Indonesia di indeks emerging market diperkirakan turun menjadi sekitar 0,5-0,6% dari sebelumnya hampir 0,8%,” ungkapnya.

“Tekanan ini dapat membuka ruang keluarnya dana asing dari pasar saham domestik. Sehingga permintaan terhadap rupiah ikut melemah, karena aliran dana asing ke pasar saham belum cukup kuat,” tulis Radhika dalam rilisnya.

Bahkan ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada kuartal I/2026 sebenarnya cukup kuat. Namun dengan angka pertumbuhan yang solid itu belum cukup menjadi penopang rupiah.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Ujian Nasional Resmi Dihapus, Diganti Tes Kemampuan Akademik (TKA)

adminJ9

Produk Pakan Ternak Milik Koperasi di Malang Mampu Ekspor ke Brunei

adminJ9

Dokter Lois Sebar Berita Bohong: Pernyataan Kontroversi untuk Cari Followers?

adminJ9

Leave a Comment