Jurnal9.com
Headline IT

Cangkok Jantung Babi Masih Kontroversi karena Risiko Cytomegalovirus yang Bahaya

Operasi transplantasi jantung dari babi

JAKARTA, jurnal9.com – David Bennett, 57, pasien yang menjalani operasi transplantasi (cangkok) jantung dari babi untuk pertama kalinya dalam dunia medis pada Januari 2022 hanya bertahan hidup dua bulan. Setelah menjalani hidup dengan jantung babi itu, Bennet masih dalam perawatan di RS Maryland AS, selama dua bulan, dan pada 8 Maret 2022 dinyatakan meninggal dunia.

Bennett yang menderita gagal jantung harus menjalani operasi transplantasi jantung dari babi. Keputusan ini diambil berdasarkan studi bahwa cangkok organ hewan yang bisa diterima manusia adalah salah satunya jantung organ dari babi.

Dalam studi itu telah dilakukan sebanyak sepuluh rekayasa genetika terhadap hewan babi pendonor untuk tubuh Bennett. Sepuluh rekayasa terdiri dari empat gen yang dihilangkan, dan enam ditambahkan dalam tubuh babi. Dari upaya operasi transplantasi rekayasa genetika tersebut, tubuh Bennett bisa menerimanya. Sehingga prosedur operasi eksperimen ini dilakukan selama tujuh jam. Tiga hari setelah operasi, kondisi pasien langsung membaik.

Pasca operasi, tim medis yang menangani operasi transplantasi jantung Bennett menerima banyak pujian. Karena keberhasilan terobosan medis yang dianggap dapat mempersingkat waktu transplantasi dan memberikan harapan hidup pasien yang mengalami gagal jantung.

Namun sebagian ahli medis juga mempertanyakan transplantasi jantung dari organ hewan babi ini. Sebab operasi ini dilakukan untuk penelitian eksperimen. Dan ini dianggap membawa risiko bagi pasien.

Ahli medis yang menentangnya itu beralasan organ donor manusia saja ada yang ditolak karena tidak cocok untuk ditransplantasikan. Apalagi dengan organ hewan, bahayanya mungkin lebih tinggi. Apalagi hewan babi berisiko dengan infeksi jenis virus yang membahayakan.

Profesor Julian Savulescu, Ketua Uehiro in Practical Ethics di Universitas Oxford, mengungkapkan pada 1984, dokter di California mencoba menyelamatkan nyawa bayi perempuan dengan memberinya jantung babon. Tetapi si bayi tersebut hanya bertahan hidup 21 hari.

“Anehnya sudah tahu risikonya sangat tinggi, tapi mereka tetap melanjutkan operasi transplantasi dari organ hewan. Ahli medis itu seperti tak peduli pasien akan mati secara fatal setelah operasi. Karena untuk kepentingan penelitian eksperimennya yang radikal ini,” ungkapnya.

Betul apa yang diungkapkan Profesor Julian Savulescu, kematian Bennett yang menjalani operasi transplantasi jantung dari babi ini dinyatakan terinfeksi cytomegalovirus.” Ini jenis virus yang biasa menginfeksi hewan babi,” tegasnya.

Dokter bedah yang menangani operasi cangkok organ itu mengatakan kalau tim medis sudah mencoba mengatasi infeksi cytomegalovirus sebelum kematian Bennett. Virus ini bukan sistem imun Bennett yang menolak organ dari babi tersebut. “Jadi kami masih mempelajari kenapa dia meninggal,” ujarnya.

Baca lagi  Kontroversi Jaksa Agung Larang Terdakwa Pakai Atribut Agama dalam Persidangan

“Belum ada bukti yang ditemukan kalau virus cytomegalo telah menginfeksi jaringan atau organ di luar jantung Bennett. Ini sesuai dengan asumsi cytomegalovirus hanya hidup pada organ babi. Virus ini tidak menginfeksi sel manusia,” kata Joachim Denner lulusan University of Berlin, Jerman ini seperti dikutip dari New Scientist.

Cytomegalovirus selama ini diketahui terkait dengan virus-virus herpes yang menyebabkan infeksi pada kulit dan saraf. Begitu seekor hewan terinfeksi, virus DNA ini akan diam di dalam beberapa sel. Sistem imun biasanya menjaga virus ini tak aktif. Tapi begitu kondisi hewan itu melemah, virus ini bisa aktif kembali.

Denner mengaku sejumlah koleganya telah menemukan kalau infeksi cytomegalovirus membuat babon tidak akan hidup jika tak terinfeksi virus itu. “Tidak ada yang bisa memastikan seperti apa virus ini berperan untuk kematian Bennet,” ujarnya.

“Kalau terjadi kegagalan mendeteksi cytomegalovirus mungkin disebabkan tes-tes yang tidak cukup sensitif,” ia menambahkan.

Babi dipilih karena memiliki ukuran organ yang mirip dengan manusia dan babi relatif mudah berkembang biak serta mudah dibesarkan di penangkaran.

Namun bagaimana jika pilihan ini menimpa pasien yang beragama Islam atau orang Yahudi yang dalam agamanya telah melarang hewan babi untuk dikonsumsi maupun transplantasi pada tubuh manusia.

Dr Moshe Freedman mengatakan hukum Yahudi melarang penganutnya memelihara atau memakan babi, apalagi menerima jantung babi. “Tapi dalam hukum Yahudi jika upaya transplantasi babi itu untuk meyelamatkan kehidupan manusia, maka seorang pasien Yahudi bisa menerima transplantasi dari hewan itu,” ujarnya dikutip dari BBC.

Namun dalam agama Islam, jika masih ada pilihan organ lain dari tubuh manusia bisa digunakan untuk kebutuhan medis, tetap melarangnya untuk mencangkok dari jantung babi. Tak ada hukum darurat selama dari organ tubuh manusia bisa dilakukan.

Dalam Islam, ada kesamaan bahwa penggunaan bahan hewani [bukan babi] diperbolehkan jika menyelamatkan nyawa seseorang.

Berbeda dengan pendapat otoritas di Mesir, Dar al-Ifta yang berwenang mengeluarkan peraturan agama Islam. Dalam fatwanya bahwa transplantasi jantung dari babi diperbolehkan jika tak ada pilihan demi untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Profesor Savulescu mengatakan, bahkan jika seseorang menolak transplantasi dari hewan dengan alasan agama atau etika, mereka tidak akan ditempatkan di daftar tunggu paling belakang untuk mendapatkan donor organ manusia.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Adaninggar: Jangan Menyimpulkan Diagnosis Covid-19 Tanpa Data Medis Lengkap

adminJ9

Indonesia Hadapi Situasi Sulit, AS Ancam Boikot G20 dan KTT di Bali Jika Ada Rusia

adminJ9

Habib Rizieq adalah Orang Pertama yang Ditahan karena Protokol Kesehatan

adminJ9