Jurnal9.com
Headline News

Heran! di Indonesia Masih Ada Hakim Agung yang Terlibat Suap dan Korupsi

Ilustrasi tahanan KPK

JAKARTA, jurnal9.com – Investor dari Jepang merasa heran di Indonesia masih ada hakim agung yang terlibat suap dan ikut-ikutan korupsi.

Hal itu disampaikan dalam acara ‘Study for the Amendment to the Law’ di Osaka, Jepang, beberapa waktu lalu.

Setiap orang di masyarakat saat mendengar ada hakim korupsi, mereka tak hanya berhenti membencinya, tapi selalu mencaci-maki tindakan hakim tersebut.

Namun sebuah artikel yang dikutip dari laman resmi Mahkamah Agung (MA) memberikan tanggapan; semua komponen bangsa harus mencari akar permasalahannya. Dialektika dalam mencari solusi lebih utama ketimbang berdebat bantah-bantahan saling menyalahkan.

“Ini sebuah kultur yang salah. Siapa yang disalahkan? Seorang pelaku korupsi dan suap, bukan hanya yang menerima saja, melainkan banyak orang memiliki peran dalam perbuatan tersebut, Bukankah korupsi dan suap tidak dapat dilakukan sendiri? “

“Apakah masih perlukah semua peraturan perundang-undangan yang berpotensi menimbulkan terjadinya tindak pidana korupsi perlu diperbaiki?.”

Artikel dari laman MA ini apakah sebuah retorika pembelaan? Apalagi mengingat pejabat peradilan yang tertangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) kali ini adalah Hakim Agung.

Hakim Agung yang terkena OTT

Pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sendiri mengaku sedih karena yang melakukan suap dan korupsi ini adalah Hakim Agung.

Ketua KPK Nurul Ghufron menyebut penangkapan terhadap penegak hukum ini sangat menyedihkan. “KPK bersedih harus menangkap Hakim Agung. Kasus korupsi di lembaga peradilan ini sangat menyedihkan,” tegasnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (22/9/2022).

Selain Hakim Agung ada juga sejumlah pejabat yang tertangkap tangan dalam operasi Tangkap Tangan (OTT) di Semarang dan Jakarta. Meski KPK belum menyebutkan nama Hakim Agung dan pejabat lainnya yang tertangkap dalam OTT tersebut.

Baca lagi  MA Kurangi Hukuman Edhy Prabowo dari 9 Tahun Jadi 5 Tahun, Dinilai Tak Masuk Akal

Ghufron mengatakan, aparat penegak hukum semestinya menjadi pilar keadilan bagi bangsa. Ini malah menukarnya dengan uang.

“Artinya dunia peradilan dan hukum kita yang semestinya berdasarkan bukti, tapi masih tercemari uang,” ujar Ghufron.

Ghufron menyesalkan kasus korupsi masih terjadi di lingkungan MA. Padahal KPK telah melaksanakan program pendidikan antikorupsi yang pernah melibatkan pejabat struktural maupun hakim di MA. “Dengan kejadian ini, KPK berharap Mahkamah Agung benar-benar melakukan pembenahan yang mendasar,” tegasnya.

“Jangan hanya kucing-kucingan, berhenti sejenak ketika ada penangkapan namun kembali kambuh setelah agak lama,” tutur Ghufron.

ARIEF RAHMAN MEDIA

 

Related posts

Presiden Jokowi Hadiri Pembukaan Konferensi Besar XXIII GP Ansor 2020

adminJ9

Kenapa Dokter Anjurkan Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Ini Penjelasannya

adminJ9

Nurhayati, Pelapor Korupsi Malah Jadi Tersangka, Ini Mencederai Keadilan Hukum

adminJ9