Jurnal9.com
Business Headline

Bank Dunia Ingatkan Risiko Resesi dan Krisis Keuangan Global 2023, Bagaimana Indonesia?

Presiden Jokowi pusing mikirin kondisi ekonomi dunia saat ini

Risiko perekonomian saat ini bergeser pada gejolak ekonomi global yang bisa menimbulkan resesi dan krisis keuangan. Apakah kondisi Indonesia Aman?

 

JAKARTA, jurnal9.com – Bank Dunia (World Bank) mengingatkan risiko terjadinya resesi dan krisis keuangan global di negara berkembang pada 2023 nanti. Salah satu indikatornya, kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS), China, dan kawasan Eropa yang menjadi kekuatan ekonomi terbesar melambat secara signifikan.

Ekonomi dunia saat ini kacau, dan Indonesia dalam menghadapi situasi dengan beban yang sangat berat, risiko resesi dan krisis keuangan global. Ini yang sering kali disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Resesi ekonomi ini dipicu oleh pengetatan kebijakan suku bunga oleh bank sentral secara serentak di dunia, sebagai respons terhadap tingginya inflasi,” kata Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara di Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Bank Dunia, menurut dia, menilai kebijakan yang sinkron di banyak negara tersebut justru dapat memperparah dan memperketat kondisi keuangan, sehingga akan mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Lalu apa pengaruhnya terhadap kondisi Indonesia? Suahasil menjelaskan sampai saat ini kondisi perekonomian Indonesia, termasuk di sektor keuangan, relatif masih baik jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.

Kondisi ini tercermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat, serta tingkat depresiasi nilai tukar rupiah yang relatif lebih rendah dibandingkan negara lain.

Kenaikan tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), kata dia, juga masih relatif terkendali.

“Modal kita untuk pertumbuhan ekonomi masih cukup baik, pertumbuhan pada kuartal II/2022 impresif di angka 5,44 persen secara tahunan dan kita harapkan ini menjadi motor pemulihan ekonomi ke depan,” katanya.

Baca lagi  RPP untuk Beri Kemudahan, Pelindungan dan Pemberdayaan bagi Pelaku Koperasi dan UMKM

Dia juga menjelaskan pemerintah bersama dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yaitu Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Otoritas Jasa Keuangan, bersama dengan DPR RI akan terus memonitor perkembangan yang terjadi. Sehingga merumuskan kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas keuangan menghadapi 2023 nanti.

Kondisi ini, lanjut dia, makin diperparah dengan adanya perang Rusia vs Ukraina yang sampai sekarang belum berakhir. Ini yang mendorong peningkatan harga lebih cepat, terutama pada komoditas energi dan pangan.

“Fluktuasi ini menciptakan ketidakpastian, sementara kita harus meneruskan pemulihan di tengah situasi ketidakpastian ini,” ujarnya.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Bali Mulai Boleh Dikunjungi Wisatawan, Ini Persyaratannya

adminJ9

Presiden: UU ITE Bisa Direvisi, Jika Tidak Berikan Rasa Keadilan Bagi Masyarakat

adminJ9

Pemerintah Targetkan 30 Juta Pelaku UMKM Tergabung dalam Ekosistem Digital pada 2030

adminJ9