Jurnal9.com
Business Headline

PM Liz Truss: Ekonomi Inggris telah Memasuki Resesi

PM Inggris Liz Truss

JAKARTA, jurnal9.com – Ekonomi Inggris telah memasuki resesi. Kondisi ini yang mengakibatkan kenaikan biaya hidup, dan menghancurkan pendapatan rumah tangga warga di negara tersebut,

Survey yang dilakukan lembaga think tank National Institute of Economic and Social Research (NIESR) menyebutkan rata-rata pendapatan nyata yang dapat dibelanjakan turun 2,5 persen.

Akibat menurunnya pendapatan itu, Bank of England pada kamis (22/9/2022), menyebutkan pada kuartal II/2022, ekonomi menyusut. Dan akan terus menurun pada kuartal III/2022, ini menunjukkan ekonomi Inggris sudah resesi.

Bank sentral Inggris (BoE) menaikkan suku bunga lagi pada Kamis (22/9/2022) guna memerangi inflasi yang melonjak. Dan juga mengingatkan bahwa ekonomi Inggris telah tergelincir ke dalam resesi.

Keputusan BoE menutup pekan yang sibuk bagi bank sentral, karena rekan-rekannya di Amerika Serikat (AS) dan di Eropa lainnya terus memperketat kebijakan moneter mereka. Ini menjadi upaya global untuk menjinakkan inflasi yang tidak terkendali.

Keputusan bank sentral di Inggris itu sempat ditunda pada pekan lalu, setelah kematian Ratu Elizabeth II.

BoE memenuhi sebagian besar ekspektasi pasar, karena menaikkan suku bunga sebesar 0,5 poin persentase atau 50 basis poin (bps) menjadi 2,25%. Bank sentral mengulangi kenaikan pada Agustus 2022, menjadi peningkatan terbesar sejak 1995.

Banyak pengamat perbankan yang berspekulasi bahwa BoE dapat mencerminkan Bank Sentral Eropa (ECB) dan Federal Reserve (The Fed) AS, kemudian memicu kenaikan jumbo sebesar 0,75 poin persentase atau 5 bps. Jika demikian, ini akan menjadi yang terbesar bagi BoE dalam tiga dekade terakhir.

Indeks harga konsumen (CPI) di berbagai negara menjadi indikator inflasi yang telah melonjak ke level tertinggi. Karena harga energi dan pangan melambung akibat dampak perang Rusia di Ukraina.

Baca lagi  Indonesia Resesi, Kuartal III Ada Perbaikan Ekonomi dan Melewati Titik Terendahnya

Bank-bank sentral merespons dengan menaikkan suku bunga. Kenaikan ini membuat ketakutan resesi, karena mereka mendorong pembayaran pinjaman untuk konsumen dan perusahaan, sehingga memperburuk krisis biaya hidup di Inggris.

BoE mengatakan ekonomi Inggris telah memasuki resesi.

Sementara itu, The Fed pada Rabu (Kamis pagi WIB) meluncurkan kenaikan 0,75 poin persentase atau 75 bps, kenaikan jumbo ketiga berturut-turut. Ini dirilis hanya satu hari setelah Riksbank Swedia mengejutkan pasar dengan lompatan satu poin persentase penuh atau 100 bps.

Kemudian pada Kamis, Swiss National Bank mengeluarkan kenaikan 0,75 poin persentase yang mengangkat suku bunga kebijakan keluar dari wilayah negatif untuk pertama kalinya sejak 2015. Ini berarti deposan tidak lagi harus membayar untuk memarkir uang mereka di bank.

Pada hari yang sama, bank sentral Norwegia juga menaikkan suku bunga sebesar 0,5 poin persentase atau 50 bps, membawanya ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Melawan tren tersebut, bank sentral Jepang mempertahankan kebijakan moneter uang longgar sehingga mengirim yen ke level terendah, selama kurun 24 tahun terhadap dolar.

BoE awal bulan ini membela diri terhadap tuduhan terlalu lambat untuk mengatasi inflasi yang tinggi, setelah Perdana Menteri (PM) Inggris yang baru: Liz Truss mengusulkan tinjauan independensi operasional.

Sumber: AFP

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

KemenkopUKM Mendorong Penyaluran BPUM Mematuhi Protokol Kesehatan

adminJ9

MenKopUKM Dorong Budidaya Lobster Sebagai Produk Unggulan Daerah Lombok Timur

adminJ9

Gus Yaqut Tak Ingin Agama Dijadikan Alat Politik Menentang Pemerintah dan Rebut Kekuasaan

adminJ9