Jurnal9.com
Headline LifeStyle

Suplemen Punya Efek Samping, karena Ada Zat Kimia Agar Obat Tak Kedaluwarsa

“Suplemen tidak perlu jika seseorang sudah mengkonsumsi nutrisi yang baik setiap hari.”

JAKARTA, jurnal9.com –  Guna mengetahui tanda atau gejala yang menunjukkan seseorang itu kekurangan vitamin D biasanya harus menjalani pemeriksaan lebih dulu ke dokter atau cek ke laboratorium untuk memastikannya.

Anda ingin tahu tanda atau gejala apa saja yang menunjukkan seseorang itu kekurangan vitamin D?

Dokter spesialis gizi, Cindiawaty J Pudjiadi, dalam webinar ‘Vitamin D3 Series’ beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa seseorang yang kekurangan vitamin D, biasanya merasakan gejala seperti kelelahan, nyeri, kelemahan tulang atau otot, sehingga sulit bergerak saat menaiki tangga.

Bisa juga sulit bergerak atau kaku saat hendak bangun tidur, atau saat bangun dari tempat duduk kursi atau lantai, hingga rasanya seperti retak di bagian tulang kaki dan pinggul.  “Jika seseorang sudah ada tanda atau gejala seperti ini, kalau didiagnosis pasti kekurangan vitamin D. Dokter akan menyarankan mengkonsumsi suplemen vitamin D setiap hari,” ujarnya.

Vitamin D dibutuhkan untuk seseorang yang mengalami kekurangan asupan makanan bervitamin atau kurang paparan sinar matahari. Terutama pada masa pandemi covid-19 sekarang ini banyak orang mengkonsumsi suplemen vitamin D untuk menjaga kesehatan tubuh. Sehingga banyak apotik atau toko obat yang kehabisan stok suplemen vitamin D, dan orang-orang yang tak mendapatkan suplemen vitamin D ini merasa kecewa.

Padahal vitamin D, menurut dr Cindiawaty, tak hanya ada dalam suplemen saja, melainkan bisa dari sinar matahari dan makanan yang sudah dipastikan tidak mengandung variasi gen.

“Jika tubuh anda tidak mendapatkan cukup vitamin D, anda berisiko mengalami kelainan tulang, seperti tulang lunak (osteomalacia) atau tulang rapuh (osteoporosis),” jelas dokter ahli gizi ini.

Vitamin D memiliki beberapa fungsi penting dan vital mengatur penyerapan kalsium dan fosfo, serta memfasilitasi fungsi sistem kekebalan tubuh yang normal.

Apalagi di tengah pandemi covid-19, menjaga daya tahan tubuh menjadi prioritas termasuk dengan cara mengkonsumsi suplemen vitamin.

Baca lagi  China Batasi Waktu Main Game Online Anak-Anak: Sebabkan Gangguan Mental

Efek samping suplemen

Namun pertanyaannya, apakah asupan vitamin dari suplemen itu tak menimbulkan efek samping seperti obat pada umumnya?

Ketua International Society of Pharmacovigilance (ISoP) Indonesia dr. Jarir At Thobari mengungkapkan bahwa suplemen bisa memiliki efek samping, karena di dalamnya tetap ada zat kimia yang ditambahkan dalam proses pembuatan.

“Sebab tidak cuma vitamin saja yang dimasukkan, tapi ada unsur formulasi seperti ditambahkan bahan lain agar obat tidak kedaluwarsa dalam beberapa waktu,” ujarnya.

Efek samping yang ditimbulkan biasanya seperti sembelit, diare, nyeri lambung hingga reaksi alergi yang sering dikeluhkan orang saat mengkonsumsi multivitamin dari suplemen. “Adanya reaksi alergi itu bukan disebabkan  dari vitaminnya, tapi dari bahan aktif lain yang ada di dalam vitamin tersebut,” kata dr. Jarir At Thobari.

“Kalau terjadi seperti itu, hentikan sementara dan laporkan kepada dokter,” lanjutnya.

Dia mengingatkan, konsumsi suplemen tidak perlu jika seseorang sudah mengkonsumsi nutrisi yang baik setiap hari.

Menjaga sistem kekebalan, kata dokter Jarir, setidaknya ada dua jenis yang perlu dicukupi untuk kebutuhan vitamin C dan D.

Vitamin C larut dalam air yang secara alami ada di beberapa makanan, seperti jeruk, stroberi, brokoli, dan tomat. Vitamin ini juga dikenal sebagai antioksidan yang memainkan peran penting dalam fungsi kekebalan.

Sementara vitamin D larut dalam lemak dan secara alami ada dalam beberapa makanan, seperti ikan berlemak, hati sapi, keju, dan kuning telur. Vitamin ini diproduksi di dalam tubuh ketika sinar UV dari matahari mengenai kulit dan memicu apa yang dikenal sebagai sintesis vitamin D.

Dalam tubuh, vitamin D dapat melakukan banyak hal termasuk memperkuat tulang, mengurangi peradangan, dan membantu fungsi kekebalan.

Sumber: Ant,  Buletin Kesehatan

ARIEF RAHMAN MEDIA 

Related posts

Polri Identifikasi Pelaku Kebocoran Data BPJS Kesehatan

adminJ9

Vaksin AstraZeneca yang Haram Mengandung Babi, Boleh Dipakai untuk Cegah Bahaya Pandemi

adminJ9

Khofifah: Alhamdulillah, Jatim Menjadi Satu-Satunya Provinsi yang Masuk Level 1

adminJ9