Jurnal9.com
Headline News

Seorang Tahanan Wanita Lahirkan Bayi di Penjara, Bayinya Ikut Jalani Hukuman

Salah seorang tahanan wanita yang melahirkan bayinya di dalam penjara kota Phnom Penh, Kamboja, hingga anaknya berusia 5 tahun terus ikut menjalani hukuman sampai masa hukuman orang tuanya selesai  (Foto: ABC News)

PHNOM PENH, jurnal9.com – Kamboja yang melakukan kampanye anti narkoba menyebabkan  penangkapan besar-besaran. Dari 73 persen mereka yang ditangkap adalah wanita. Ini kejadian luar biasa, jumlah tahanan wanita paling banyak menghuni di balik jeruji besi negara itu.

Apalagi ruangan penjara kota Phnom Penh kini sudah penuh sesak. Sehingga para tahanan wanita yang berada dalam ruangan sel tahanan itu nampak berdesak-desakan. Mereka tidur pun kondisinya sulit bisa membaringkan badan. Bahkan ada satu ruangan sel yang  membuat para tahanan wanita itu tidak bisa tidur dalam posisi terlentang. Karena  sempitnya terpaksa harus tidur posisi miring.

Apalagi wanita yang dijebloskan ke dalam tahanan ini, banyak wanita yang sedang hamil. Sehingga dengan kondisi perutnya yang membuncit, membuat wanita ini mengalami kesulitan tidurnya.

Polisi petugas penjara sering kewalahan mengatur penempatan ruangan buat tahanan wanita hamil itu. Sehingga petugas kepolisian penjara Phnom Penh kadang mengabaikan kebutuhan tahanan wanita hamil atas tuduhan narkoba ini.

ABC News melaporkan,  sel yang penuh dengan tahanan wanita hamil itu, membuat polisi penjara harus menyiapkan kebutuhan mereka terkait dengan persalinannya. Seperti dialami tahanan bernama Tevy (bukan nama sebenarnya) masuk sel saat usia kandungannya sudah enam bulan, sehingga tak sampai tiga bulan di dalam tahanan sel,  ia akhirnya melahirkan seorang bayi.

Polisi penjara yang mengurusi tahanan wanita hamil ini harus bolak-balik mengantarnya dari penjara ke rumah sakit. Apalagi Tevy melahirkan bayinya dalam kondisi yang sulit. Ia harus berjuang untuk bernapas dengan memakai  oksigen.

Belum lagi bayi perempuan yang dilahirkan Tevy mengalami cedera. Di bagian tulang pahanya patah. Bayi yang mengalami cedera patah pahanya itu tak pernah berhenti menangis. Mungkin si bayi ini merasakan sakitnya.

Setelah dirawat di rumah sakit, bayi Tevy yang kemudian sembuh dari cedera patah pahanya itu, akhirnya harus kembali ke sel tahanan lagi bersama ibunya. Bayi itu harus ikut di dalam kurungan penjara sampai masa hukuman penjara sang ibunya selesai.

Tevy harus mejalani kehidupan di dalam penjara dengan seorang bayi, apalagi tanpa dibantu seorang perawat, tentu ia merasakan sangat berat. Karena amat berat, suatu ketika ia pernah mengajukan dispensasi ke pihak kepolisian penjara untuk meminta bayinya supaya dirawat neneknya di rumah.  “Bayi saya supaya tidak ikut di penjara. Biar saya yang menjalani hukuman di penjara sendirian,” tutur Tevy.

Baca lagi  Ancaman Mental dan Bunuh Diri Akibat Kehilangan Pekerjaan Saat Pandemi Corona

Namun permintaan itu ditolak oleh pihak kepolisian penjara. Alasannya peraturan tahanan wanita yang melahirkan bayi dalam penjara harus diasuh ibunya sampai masa hukumannya selesai.

Bayi perempuan anak kandung Tevy sudah berusia lima bulan. Bayi yang tidak berdosa itu terpaksa harus ikut menjalani kehidupan dalam jeruji besi, seolah turut memikul beban dosa yang diperbuat ibunya. Kasihan dan menyedihkan, akhirnya bayi yang ikut menderita dalam penjara, meninggal dunia pada 26 Januari lalu.

Dalam kematian bayi perempuan anak Tevy ini, hasil otopsinya dari rumah sakit setempat menyebutkan pneumonia  dan malnutrisi. Tragisnya, kejadian yang menimpa Tevy dan bayi perempuannya yang meninggal dalam tahanan ini dirahasiakan oleh pihak kepolisian penjara itu. Namun setelah sebulan kemudian, baru pihak kepolisian penjara mengumumkan kematian bayi yang dilahirkan Tevy .

Kasus ini akhirnya terungkap oleh kelompok hak asasi manusia Licadho. Mereka mengatakan ini salah satu konsekuensi yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang dari perang Kamboja terhadap narkoba. Ada 55.000 lebih orang yang ditangkap dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kasus Tevy dengan kematian bayinya.

Para pembela hak asasi manusia itu mengatakan Tevy seharusnya tidak dijebloskan ke dalam penjara. Wanita ini dihukum tidak karena berbuat kejahatan. Tetapi polisi menuduh Tevy telah diketahui membawa sachet kecil metafetamin bernilai sekitar $ 3,60 pada pertengahan 2019 lalu.

Kelompok hak asasi manusia ini menyesalkan bayi yang dilahirkan Tevy ikut ditahan di dalam jeruji besi. Semestinya bayi yang tidak berdosa itu tidak boleh di penjara. Begitu pun Tevy yang hamil sampai melahirkan bayi, tidak boleh di penjara selama berbulan-bulan tanpa pengadilan.

Tevy ditangkap saat kondisi hamil, sampai melahirkan bayi di dalam penjara. Mestinya menunggu persidangan. “Dia masih menunggu kepastian tanggal persidangan di pengadilan, ketika bayinya meninggal di penjara,” ungkap Naly Pilorge, direktur Licadho hak asasi manusia itu.

“Wanita ini semestinya tidak boleh di penjara sama sekali,” tegasnya.

Bahkan menurut laporan Amnesty International yang dirilis bulan ini, bahwa kampanye anti narkoba Kamboja ini dianggap berlebihan jika membawa dampak yang tidak proporsional pada wanita. Contoh kasus Tevy yang ditangkap saat kondisi hamil sampai melahirkan bayi di penjara tanpa ada pengadilan.

Karena wanita yang sedang hamil menghuni jeruji besi yang berisi 40.000 orang tahanan di penjara berkapasitas 26.500 orang, tentu kondisi tidak proporsional ini sangat buruk dampaknya.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Presiden Jokowi: Perekonomian Ibarat Komputer, Sedang Hang

adminJ9

Bupati Bangkalan: Penyekatan di Suramadu, Bukan Diskriminasi kepada Warga Madura

adminJ9

Mentan Tak Mengetahui Soal Adanya MoU Impor Beras 1 Juta Ton dari Thailand?

adminJ9