Jurnal9.com
BusinessHeadline

Semua Kaget BPS Sebut Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% pada Kuartal II 2025, Ada yang Janggal?

Ilustrasi: ketika daya beli masyarakat kembali pulih, tren belanja akan membaik

JAKARTA, jurnal9.com – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 mencapai 5,12%. Semua kaget dengan rilis BPS ini. Sejumlah ekonom mengaku angka pertumbuhan itu di luar dugaan. Bahkan ada yang menyebut janggal.

Seperti disampaikan Kepala Ekonom BCA, David Samual, angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS itu jauh dari ekspektasinya. “Kami hanya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 berkisar 4,69%-4,81%. Tapi BPS merilis angka setinggi itu. Tentu saja kami kaget,” ujarnya.

Alasanya menurut David, pertumbuhan ekonomi itu jauh di bawah 5 persen, karena masih besarnya tekanan indikator belanja masyarakat dan kinerja sektor manufaktur pada periode itu.

“Komponen PDB yang tumbuhnya sangat tinggi itu, menurut BPS, mampu mendorong ekonomi tumbuh 5,12% secara yoy. Di antaranya dengan pertumbuhan angka investasi yang mencapai 6,99%. Ini tertinggi sejak kuartal II 2021,” ungkapnya.

“Investasi angkanya sangat akseleratif. Angka pertumbuhan kuartal I saja masih banyak revisi. Dan investasi juga expect akselerasi. Tapi tidak setinggi angka yang dirilis BPS,” kata David memberi alasan.

“Kami juga bertanya-tanya dengan melesatnya angka pertumbuhan manufaktur (industri pengolahan) yang menurut BPS pada kuartal II 2025, bisa mencapai 5,68%. Padahal selama ini tumbuh berkisar 4% sejak kuartal II 2022,” ia menambahkan.

Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, justru memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 tak akan menyentuh 5 persen.

“Kami cukup kaget kalau BPS mengumumkan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,12%. Ini kan pemerintah. Kalau kami malah memperkirakan jauh di bawah 5 persen. Iya kisaran 4,8%-4,9%,” tegas Tauhid.

Sementara itu Head of Macro Economic & Financial Market Research, Bank Permata, Faisal Rachman mengaku sangat kaget dengan pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS itu.

“Apalagi pertumbuhan PDB Indonesia mengalami akselerasi yang signifikan melampaui ekspektasi pasar,” ujarnya.

“BPS memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 mencatat sebesar 5,12% yoy. Ini sangat jauh dari ekspektasi pasar yang tumbuh jauh di bawah 5%,” ia menjelaskan lagi.

Baca lagi  Nadiem: Asesmen Nasional Berbeda dengan UN, Siswa Harus Banyak Baca Buku, Majalah

Bahkan ekonom dari lembaga Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira yang menganggap data yang dirilis BPS itu ada kejanggalan.

Bhima sama seperti David Samual mempertanyakan cepatnya pertumbuhan kinerja industri manufaktur yang disebut BPS tersebut.

“Angka itu janggal. Berbeda dengan data PMI Manufaktur yang malah kini tengah dalam zona pesimis,” ungkap Bhima.

Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI), manufaktur Indonesia pada Juli 2025 tercatat sebesar 49,2. Angka ini berarti berada di zona kontraksi. Ini menjadi bulan keempat berturut-turut PMI berada di bawah ambang ekspansi (50,0), menandakan ada pelemahan yang konsisten dalam aktivitas manufaktur nasional.

“Lemahnya daya beli masyarakat ini juga berdampak pada sektor manufaktur,” tegas Bhima.

World Bank

Proyeksi pertumbuhan ekonomi BPS ini juga berbeda dengan Bank Dunia. Malah Bank Dunia memperingatkan kalau perekonomian Indonesia rawan terdampak gejolak global. Alasannya ketegangan geopolitik yang meningkat saat ini berisiko pada pelemahan ekonomi lebih lanjut.

“Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya berkisar 4,7%. Dan 4,8% untuk tahun depan. Perkiraan ini mempertegas ada tren penurunan, setelah kuartal I 2025 ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,87%. Turun dari angka 5%,” jelas Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Carolyn Turk.

“Dalam situasi yang sangat rentan ini, ekonomi Indonesia memang menunjukkan ketahanan. Tapi kami melihat pertumbuhan PDB yang lebih rendah dari 5%. Konsumsi pemerintah dan investasi juga menurun tahun ini,” lanjut Carolyn.

Quote:

Mengutip dari buku “How to Lie with Statistics” (Bagaimana Cara Berbohong dengan Statistik) yang ditulis Darrell Huff, wartawan terkenal AS.  Ia menyebutkan, “Statistik sering digunakan hampir di seluruh bidang untuk berbohong. Dan sebagian digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Angka-angka statistik ini dimanfaatkan demi sensasi.”

ARIEF RAHMAN MEDIA   

Related posts

AHY Anggap KLB Deli Serdang Abal-Abal, Tapi Diterima Saat Didaftarkan di Kemenkumham

adminJ9

Charles Dianggap Raja Inggris yang Lemah dan Suka Bicara dengan Pohon

adminJ9

“Meski Saya Gantung Raket, Saya akan Terus Mendaki dan Tumbuh”

adminJ9

Leave a Comment