Jurnal9.com
Headline News

Studi: Sepertiga Pasien Covid-19 di AS Mengalami Perubahan Mental

WASHINGTON DC, jurnal9.com – Studi di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa sepertiga pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit AS mengalami perubahan kondisi mental fungsi neurologis yang memburuk, seperti merasa kebingungan, dan tak responsif.

Pasien yang mengalami perubahan fungsi mental itu melihat hasil medisnya mengalami sikap yang buruk. Penelitian tersebut diterbitkan pada Senin (5/10) di Annals of Clinical and Translational Neurology.

Dari studi tersebut mempelajari catatan 509 pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit, dari 5 Maret hingga 6 April lalu, di 10 rumah sakit Kedokteran Barat Laut daerah Chicago, AS.

Pasien-pasien tersebut dirawat di rumah sakit sebagai pasien tanpa perubahan fungsi mental.

Setelah mereka dipulangkan ke rumah hanya 32 persen pasien yang mengalami perubahan fungsi mental.

Dr. Igor Koralnik, kepala penyakit menular saraf dan neurologi global di Northwestern Medicine, meyebutkan mereka masih dapat melakukan kegiatan rutin sehari-hari seperti memasak dan membayar tagihan.

Sebaliknya, 89 persen pasien yang tanpa perubahan fungsi mental telah mampu mengelola kegiatan tersebut tanpa bantuan.

Pasien dengan perubahan fungsi mental – istilah medisnya adalah ensefalopati – juga hampir tujuh kali lebih mungkin meninggal dibanding yang tidak memiliki jenis masalah itu.

“Ensefalopati adalah istilah generik yang berarti ada sesuatu yang salah dengan otak,” kata Dr. Koralnik.

Deskripsi ensefalopati dapat mencakup masalah dengan perhatian dan konsentrasi, hilangnya memori jangka pendek, disorientasi, stupor dan “ketidakresponsiman mendalam” atau tingkat kesadaran seperti koma.

“Ensefalopati dikaitkan dengan hasil klinis terburuk dalam hal kemampuan untuk mengurus urusan mereka sendiri, setelah meninggalkan rumah sakit. Kami juga melihat itu terkait dengan kematian yang lebih tinggi, terlepas dari tingkat keparahan penyakit pernapasan mereka,” katanya.

Baca lagi  Uniknya, Penganut Agama Buddha dan Katolik di Sri Lanka, Ikut Berpuasa Ramadhan

Dr. Koralnik menjelaskan para peneliti tidak mengidentifikasi penyebab ensefalopati, yang dapat terjadi dengan penyakit lain, terutama pada pasien yang lebih tua, dapat dipicu oleh beberapa faktor yang berbeda termasuk peradangan dan efek pada sirkulasi darah.

Lebih lanjut ia mengatakan ada sedikit bukti bahwa virus secara langsung menyerang sel-sel otak, dan efek neurologis yang dipicu oleh respons peradangan dan sistem kekebalan tubuh yang sering mempengaruhi organ lain dan otak.

Dalam penelitian ini, 162 pasien dengan ensefalopati lebih cenderung terjadi pada pasien yang berusia lebih tua dan laki-laki.

Mereka juga lebih cenderung memiliki kondisi medis yang memiliki riwayat gangguan neurologis, kanker, penyakit serebrovaskular, penyakit ginjal kronis, diabetes, kolesterol tinggi, gagal jantung, hipertensi atau merokok.

Perubahan fungsi mental bukan satu-satunya komplikasi neurologis yang ditemukan studi Northwestern.

Secara keseluruhan, 82 persen pasien yang dirawat di rumah sakit memiliki gejala neurologis.

Di antara gejala neurologis, nyeri otot terjadi pada sekitar 45 persen pasien dan sakit kepala di sekitar 38 persen.

Sekitar 30 persen pusing. Persentase yang lebih kecil memiliki gangguan rasa atau bau.

Pasien yang lebih muda lebih cenderung mengembangkan gejala neurologis, kecuali untuk ensefalopati, yang lebih umum pada orang yang lebih tua, kata penelitian itu.

Studi juga menemukan bahwa pasien berkulit hitam dan orang latin tidak begitu mengalami gejala neurologis, demikian New York Times dikutip Selasa.

Sumber: New York Times/Ant 

RAFIKI ANUGERAHA M

 

Related posts

Pasien Positif Covid-19 Indonesia Naik Jadi 14,5 Persen, Batas Aman dari WHO 5 persen

adminJ9

Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Seluruh Dunia Kini Melampaui Angka 100 juta Jiwa

adminJ9

Menparekraf-Dubes India Bahas ‘Travel Bubble’ untuk Membuka Pariwisata di Bali

adminJ9