Jurnal9.com
Headline News

Lingkungan yang Buruk dan Polusi di Rumah Bisa Sebabkan Pneumonia

Ilustrasi lingkungan yang buruk penuh polusi

JAKARTA, jurnal9.com – United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyebutkan lingkungan yang buruk dan polusi rumah tangga menjadi salah satu penyebab tingkat penderita pneumonia cukup tinggi pada anak balita di Indonesia.

Bahkan menjadi penyumbang kematian tertinggi akibat menderita pneumonia. Padahal penyakit ini dapat dicegah.

UNICEF merilis data pada 2021, disebutkan pneumonia menjadi penyakit menular yang menyumbang kematian terbesar di dunia untuk anak berusia di bawah lima tahun (balita). Angkanya mencapai 725.557 kasus pada 2021. Namun jumlah tersebut sudah turun 54% dari tahun 2000 lalu yang mencapai 1.590.874 kasus kematian.

Menurut UNICEF, setiap tahunnya penyakit ini merenggut nyawa lebih dari 725 ribu anak balita, termasuk 190 ribu bayi baru lahir yang sangat rentan terhadap infeksi.

“Setiap hari, satu anak meninggal dunia dalam setiap 43 detik akibat menderita pneumonia. Semestinya penyakit yang menyebabkan kematian ini dapat dicegah,” demikian pernyataan UNICEF.

Dan angka kematian anak akibat pneumonia ini lebih tinggi dibandingkan penyakit lainnya, seperti diare yang menyebabkan kematian hanya 437 ribu anak balita, dan malaria merenggut nyawa 272 ribu anak.

Apa itu pneumonia?

Dikutip dari Ai Care, disebutkan pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae, HiB, dan lain-lain.

Selain bakteri, pneumonia juga disebabkan virus maupun jamur yang menyerang saluran pernapasan anak. Dan ini bisa menyebar melalui kontak langsung cairan pernapasan seperti droplet, air liur, atau lendir.

Ahli Tuberculosis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K) menjelaskan pneumonia bisa membahayakan nyawa si anak mengingat adanya gangguan fungsi paru.

“Terganggunya fungsi paru ini dapat menyebabkan si anak mengalami sesak napas. Kalau menderita terlalu lama bisa terjadi kekurangan oksiden di semua organnya. Dan ini berisiko kematian,” ungkap dr. Nastiti dalam seminar yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jakarta, Kamis (11/1/2024).

“Pneumonia ini sering disebut dengan istilah paru-paru basah. Kenapa?  Karena saluran napas pada si anak dipenuhi cairan atau nanah, sehingga menyebabkan kesulitan bernapas,” ia menambahkan.

Nastiti menegaskan bayi dan anak-anak termasuk golongan yang rentan terhadap pneumonia. Penyakit ini sangat berbahaya pada anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang.

Baca lagi  WHO & UNESCO: Peran Wartawan untuk Klarifikasi Berita Hoaks Soal Covid-19 di Medsos

“Anak-anak yang menderita pneumonia sangat berisiko mengalami kerusakan pada paru-parunya, akibat komplikasi yang disebabkan adanya gangguan pernapasan,” ujarnya.

Pneumonia termasuk penyakit yang mudah menyebar karena bisa ditularkan melalui droplet atau percikan air liur.

Gejala pneumonia pada anak bisa dilihat dari napasnya yang menjadi cepat dan ngos-ngosan, batuk berdahak, mual muntah, serta mengalami demam 39 derajat atau lebih.

Sebenarnya pneumonia ini bisa dicegah dengan berbagai tindakan perlindungan, seperti pemberian nutrisi yang cukup pada anak. Lalu pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kelahiran si bayinya. Upaya ini dapat membantu mencegah penyakit pneumonia pada anak.

“ASI eksklusif dapat membantu mengurangi risiko pneumonia pada anak hingga 20 persen,” tutur dr. Nastiti.

“Manfaat ASI ini sudah diteliti oleh sejumlah pakar, sehingga anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif disebut memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik,” ia menegaskan.

Selain itu, lanjut dia, menjaga lingkungan yang buruk dari polusi rumah tangga. Karena ini juga menjadi salah satu penyebab anak balita rentan terhadap penyakit pneumonia.

“Polusi udara yang buruk dalam rumah tangga dapat meningkatkan risiko terkena pneumonia akibat infeksi pernapasan, Data WHO menyebutkan hampir separuh angka kematian balita penderita pneumonia semuanya disebabkan oleh polusi udara yang buruk,” ucap Nastiti mengutip data WHO.

Selama ini publik berpikir polusi udara hanya terjadi di luar ruangan, seperti yang berasal dari asap kendaraan bermotor, limbah industri, dan lainnya. Padahal polusi dari rumah tangga juga tidak kalah berbahaya.

Asap rokok menjadi salah satu polutan paling potensial dalam lingkungan rumah, yang dapat memicu pneumonia pada balita.

Nastiti mengatakan, selama ini masih banyak orang yang tidak menyadari bahaya polusi dari rumah tangga. Polusi tersebut kemungkinan besar dihasilkan dari rumah tangga setiap harinya.

Salah satunya asap rokok, menjadi polusi dalam rumah tangga. Kemudian ada polusi yang dihasilkan dari kayu bakar atau briket arang yang digunakan untuk memasak oleh sebagian masyarakat di daerah-daerah.

“Asap dari dapur, seperti memanggang, membakar makanan, ini sebenarnya juga polusi yang sering tidak disadari masyarakat,” dr Nastiti menjelaskan.

RAFIKI ANUGERAHA M  I  ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Ekonomi Malaysia Resesi, Apakah Berpengaruh pada Ekonomi Indonesia?

adminJ9

“Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Masih Negatif, Tapi Mulai Terjadi Pemulihan”

adminJ9

Presiden Jokowi Akhirnya Cabut Perpres Soal Miras, Setelah Diprotes Umat Islam

adminJ9