Jurnal9.com
Headline LifeStyle

Kenapa Orang Tidur Mendengkur? Ini Penjelasan Terkait Gangguan Kesehatan

Ilustrasi orang tidur mendengkur

JAKARTA, jurnal9.com – Orang tidur mendengkur bisa menjadi pertanda berisiko terkena berbagai masalah kesehatan, antara lain seperti gagal jantung. Dan kondisi ini dipengaruhi obesitas yang dialami seseorang,

Hal itu disampaikan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Niken Ageng Rizki, Sp.THT-KL

Kenapa orang yang memiliki obesitas kalau tidur mendengkur?

Dokter Niken mengatakan, lingkar leher dari diameter jalannya napas berpengaruh pada munculnya dengkuran.

“Lingkar leher pada seseorang yang memiliki obesitas ini kelebihan berat badan yang menyebabkan lebih banyak jaringan berkembang di tenggorokan, sehingga menyebabkan seseorang mendengkur,” jelas dr. Niken.

“Seseorang yang memiliki obesitas kalau tidur sering mendengkur karena dipengaruhi oleh lingkar lehernya yang berdiameter jalannya napas,” dia menambahkan.

Staf Departemen THTKL, Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan itu menyebutkan dengkuran atau gangguan bernapas saat tidur, terjadi karena ada sumbatan di jalannya napas.

“Suara parau itu muncul akibat getaran udara di langit-langit mulut atau tenggorokan,” tegasnya.

Penyebabnya henti napas atau apnea, sehingga tubuh tidak menerima oksigen saat tidur akibat ada penutupan jalan napas yang menyebabkan getaran pada tenggorokan atau jalannya napas.

Sumbatan di hidung, belakang hidung, tenggorokan karena amandel, langit-langit, iritasi asam lambung, pembengkakakan pita suara, dan dasar lidah semua berkontribusi pada kondisi mendengkur.

Dengkuran yang kerap tak disadari penderitanya itu, menurut dr Niken, mereka yang mendengkur umumnya pada malam hari saat kerap tersedak, batuk-batuk, tidur tidak nyenyak, dan sering buang air kecil (BAK).

“Tapi bisa juga mereka mendengkur karena tidur malamnya tidak berkualitas. Sehingga  saat bangun tidur di pagi hari, mereka mengalami sakit kepala, mengantuk, sulit berkonsentrasi dan kelelahan,” kata dr Niken.

Selain itu dengkuran bisa jadi muncul sesekali, namun karena ada sumbatan semakin parah, akibat sumbatan hidung, alergi, peradangan pada rongga hidung tonsilnya membesar, langit-langitnya turun, sehingga menjadi dengkuran yang menetap.

Jika ini yang terjadi, maka masuk kategori ada penyempitan jalan napas yang berujung sleep apnea dengan kategori ringan, sedang dan berat.

Baca lagi  Rekaman Wawancara Hotman Paris dengan dr Lois yang Jawabnya Ngeyel dan Ngawur

Evaluasi masalah mendengkur dilakukan pertama kali dengan mencari tahu letak sumbatan apakah di hidung, tenggorok atau gangguan di asam lambung.

Biasanya dokter akan meminta pasien menjalani pemeriksaan THT, polisomnografi untuk melihat grafik bernapas, pergerakan otot, otak, kaki serta seluruh badan dan gejala lambung.

Jika penyebabnya sumbatan hidung, pengobatannya bisa dengan cuci hidung atau semprot hidung anti-radang. “Paling sering awalnya sumbatan hidung dulu, sehingga pasien bernapas melalui mulut,” lanjut dr Niken.

Namun dokter harus memastikan ada tidaknya amandel yang membengkak, kemudian karena kebiasaan bernapas dari mulut langit-langitnya turun, kemungkinan juga harus diperiksa.

Menurunkan berat badan dapat membantu mengurangi, atau bahkan menghilangkan dengkuran, juga menjaga berat badan yang sehat, dapat membantu mengontrol hipertensi, meningkatkan profil lipid, dan mengurangi risiko diabetes.

Risiko gagal jantung

Dokter spesialis jantung & pembuluh darah dari Universitas Hasanuddin, DR. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K) mengatakan dari belasan persen penyandang obesitas di Indonesia, dari 5 itu ada 1 terkait dengan gagal jantung.

“Obesitas menyebabkan gangguan metabolisme gula, kolesterol, hipertensi, gangguan ginjal, mendengkur, dan gagal jantung,” ujarnya.

Mengenai gagal jantung, lanjut dia, kondisi gangguan fungsi otot jantung yang berakibat sesak napas dan bengkak di tungkai atau perut. Perut terasa sesak memungkinkan pasien tidak bisa makan lagi. Walaupun hanya makan sedikit perut sudah penuh karena berisi air.

Selain obesitas, penyebab gagal jantung juga meliputi otot jantung mengalami gangguan, kondisi jantung bawaan, gangguan irama terus menerus menyebabkan otot jantung lelah, serangan jantung, penyakit jantung katup bisa karena umur dan infeksi serta gaya hidup pasif.

“Orang yang gagal jantung tak lagi bisa tidur dalam posisi terlentang, tidak cukup hanya satu bantal melainkan ditopang dengan bantal tinggi atau bersandar pada meja. Mereka  cenderung tidur sambil tengkurap dengan berpenggangan pada meja. Selain itu mengeluh kaki bengkak, mudah capek, sesak napas dan berdebar-debar,” kata dr Antonia.

RAFIKA ANUGERAHA M

Related posts

BPOM: Akui Vaksin Sinovac Ada Efek Samping, Tapi Kategorinya Masih Ringan

adminJ9

Aktivis HAM PBB Sebut Proyek Sirkuit Mandalika di Lombok, Langgar HAM

adminJ9

Bulog Mau Tagih Utang ke Pemerintah, Buwas Minta Dukungan DPR

adminJ9