
Ilustrasi rukyatul hilal
Munculnya perbedaan dalam menentukan awal puasa Ramadhan tahun ini membuat umat Islam sebagian berjalan sendiri-sendiri. Mereka dari kalangan NU yang lebih memilih rukyatul hilal dalam menetapkan waktu awal Ramadhan, mulai berpuasa Ramadhan pada Minggu 3 April 2022.
Sementara itu mereka dari kalangan Muhammadiyah yang lebih yakin dengan metode hisab dalam menentukan waktu awal Ramadhan, mulai berpuasa Sabtu 2 April 2022. Dan metode hisab ini sudah menjadi pedoman setiap tahun oleh kalangan Muhammadiyah.
Akibat adanya perbedaan pendapat dalam penentuan waktu awal Ramadhan antara umat Islam pengikut NU dan Muhammadiyah, akhirnya mereka memilih sesuai keyakinan masing-masing dalam memulai puasa Ramadhan tahun 2022 ini.
Kementerian Agama mulai tahun 2022 ini menggunakan kriteria baru dalam menentukan waktu awal Ramadhan. Kriteria baru yang dipakai pemerintah: ketinggian hilal 3 derajat. Kriteria ini mengacu pada hasil kesepakatan pemerintah Indonesia dengan negara Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura.
Jadi mulai tahun 2022 ini dan seterusnya, umat Islam dari empat negara Asean tersebut selalu sepakat untuk memulai awal puasa Ramadhan bersama-sama. Tahun ini empat negara tersebut sepakat mulai berpuasa Minggu 3 April 2022. Waktu lebaran hari Idul Fitri pun ditentukan dengan kesepakatan bersama.
Padahal dalam Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, menentukan waktu awal puasa Ramadhan dengan kriteria ketinggian hilal 2 derajat.
Menanggapi perbedaan rukyah dan hisab tersebut, KH Bahauddin Nursalim atau akrab dipanggil Gus Baha ini menjelaskan umat Islam tidak boleh menolak hisab. Terutama dari kalangan nadhiyyin (NU) yang lebih memilih rukyah dalam menentukan waktu awal puasa Ramadhan..
“Imam Syafii membolehkan percaya hisab. Tapi syaratnya hisab itu harus qot ‘ii dan sudah mendapat konsensus dari para ahli dan ulama. Tidak boleh menentukan sendiri secara subyektif; seperti diambil dari pendapatnya cuma satu orang dua orang saja,” ungkapnya.
Sebab dalam Al-quran, menurut Gus Baha, disebutkan hisab itu dibenarkan. Seperti dijelaskan dalam surat Yunus ayat 5 ini:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
“Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”.
“Ulama besar seperti Imam Subki lebih percaya pada hisab daripada rukyah. Namun dia mensyaratkan dalam penentuan hisab itu harus mendapat konsensus dari para ahli dan ulama,” jelas Gus Baha.
“Jadi enggak boleh umat Islam mengklaim anti hisab. Dan yang lain anti rukyah. Tapi rukyah juga penting. Karena ulama dan umara [pemerintah] sudah sepakat rukyahtul hilal 3 derajat. Ini maksudnya dengan 3 derajat itu, jika kelihatan hilal atau tidak kelihatan hilal pun, sudah boleh mulai berpuasa,” lanjut dia.
Gus Baha menyebutkan Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin: bahwa metode hisab itu bisa menghitung waktu peredaran bulan atau matahari sampai 100 tahun ke depan.
“Untuk mereka yang tidak mempercayai hisab. Bagaimana anda tahu tanggal sekian ada gerhana bulan, apakah anda tahu dari hasil rukyah? Pasti anda tahunya dari hisab. Jadi BMKG bisa tahu kapan ada gerhana matahari, kapan ada gerhana bulan, itu pasti tahunya dari metode hisab. Bukan dari hasil rukyah,” ungkap Gus Baha.
ARIEF RAHMAN MEDIA
