Jurnal9.com
Headline Travelling

Indonesia Terapkan Travel Bubble untuk Promosi Pariwisata Saat New Normal

Kawasan wisata Nusa Dua Bali menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Bali untuk membuka koridor wisatawan saat memasuki masa new normal

JAKARTA, jurnal9.com –  Pemerintah siap membuka sembilan bidang usaha saat masa new normal, salah satunya sektor pariwisata yang kini sedang mengkaji perjanjian travel bubble dengan negara lain sebagai upaya untuk memulihkan ekonomi.

Travel bubble merupakan  kerjasama antar negara untuk saling membuka akses wisatawan selama masa new normal akibat pukulan pandemi corona.

“Pemerintah melakukan kerjasama sektor pariwisata dengan menerapkan travel bubble ini dinilai sebagai solusi meningkatkan kunjungan wisatawan selama masa new normal,”  kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi seusai rapat terbatas beberapa waktu lalu.

Di kawasan Asia Pasifik, dua negara yang saat ini sedang mengkaji untuk menerapkan travel bubble antara lain, Australia dan Selandia Baru. Sedangkan China mempertimbangkan untuk membuka akses dengan Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan.

Sementara negara Eropa yang juga melakukan travel bubble antara lain, Israel tertarik untuk membuka akses dengan Yunani dan Siprus.

Melihat sektor pariwisata di negara-negara lain menjadi prioritas dalam pemulihan ekonominya pasca terpukul pandemi corona, maka Indonesia pun memasukkan sektor pariwisata menjadi prioritas dari sembilan bidang usaha tersebut.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pemerintah saat ini sedang melakukan pembicaraan dengan sejumlah negara lain terkait kebijakan travel bubble. “Beberapa negara yang akan melakukan perjanjian perjalanan untuk sektor pariwisata ini sedang mengkaji penerapan protokol kesehatan yang juga menjadi persyaratan utama dalam kebijakan travel bubble,” ujarnya kepada wartawan.

Sebab selama masa new normal, kata Menlu,  protokol kesehatan tetap menjadi persyaratan utama dalam perjanjian perjalanan antar negara. Padahal dalam konsep travel bubble sendiri untuk memberi kemudahan bagi setiap wisatawan  dengan perjalanan yang bebas karantina.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewajibkan negara yang terjangkit pandemi corona harus menjalankan persyaratan karantina selama 14 hari bagi setiap orang yang melakukan perjalanan antar negara.

“Solusi ini yang sedang didiskusikan pemerintah dengan beberapa negara yang akan melakukan perjanjian perjalanan antar negara dengan konsep travel bubble,” tegas Retno Marsudi yang didampingi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio.

Baca lagi  Menag Bantah Jika dalam RUU Cipta Kerja Ada Sanksi Pidana Bagi Kiai dan Pesantren

Kesepakatan penerapan travel bubble untuk membuka sektor pariwisata ini, lanjut dia, harus berdasarkan ketentuan WHO. Meski konsep travel bubble dianggap sebagai solusi untuk memberi kemudahan para wisatawan tanpa birokrasi yang rumit terkait protokol kesehatan.

Dalam ketentuan WHO, wisatawan yang akan mengunjungi suatu negara tujuan wisata harus memiliki surat keterangan test negatif covid-19.

Promosi Bali

Seperti dikutip ABC News, guna mendukung kebijakan pemerintah di sektor pariwisata saat masa new normal, sejumlah hotel dan resort di Bali juga sedang melakukan promosi travel bubble dengan Australia.

Kebijakan pemerintah ini juga direspon positif oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali. “ Kami mendukung pemerintah mengenai kebijakan travel bubble, karena kami tahu saat orang Australia diizinkan untuk bepergian, mereka akan datang ke Bali,” ungkap Rai Suryawijaya, Ketua PHRI Prov. Bali dalam keterangan tertulis kepada wartawan.

Bali menjadi salah satu destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan Australia, China, Filipina, kemudian disusul negara Asia lainnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan ke Bali mengalami penurunan 99,93 persen dibanding periode yang sama. Seperti April 2020 lalu, Bali hanya dikunjungi 327 wisatawan.  “Sektor pariwisata Bali betul-betul terpukul oleh pandemi corona selama 3 bulan terakhir,” ungkap Ketua BPS, Suhariyanto.

Sedangkan data kunjungan wisatawan ke Indonesia pada April 2020 terjadi penurunan sebesar 87,44 persen dengan total jumlah kunjungan 160.000 orang dibanding periode yang sama.

“Jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia menurun drastis, puncaknya terjadi pada April 2020 lalu yang hanya dikunjungi 160.000 orang dibandingkan periode yang sama pada 2019 lalu yang mencapai 1,27 juta orang,”  ujarnya.

Industri pariwisata menjadi salah satu sektor usaha yang sangat terpukul oleh pandemi corona. Seperti disebutkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), jumlah tenaga kerja di sektor ini mencapai 13 juta orang, sejak wabah corona menghantam banyak negara akhir tahun lalu. Padahal sektor pariwisata ini sebelumnya telah menyumbang 5,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

RAFIKI ANUGERAHA M  I  ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Sayur Bayam Dapat Mencegah Diabetes dan Menjaga Tekanan Darah

adminJ9

Jokowi Tunjuk Prabowo untuk Tanam Singkong, Menuai Respon di Dunia Maya

adminJ9

Hong Kong Akhiri Resesi, Saat Tingkat Vaksinasi Rendah dari Penduduk yang Tak Percaya

adminJ9