Jurnal9.com
Headline News

Heboh! Kisah Bocah Malika yang Diculik Predator Seks

Foto bocah Malika Anastasia, umur 6 tahun, yang ditunjukkan ibunya kepada wartawan saat belum ditemukan

JAKARTA, jurnal9.com – Penculikan bocah Malika Anastasia (6) oleh seorang lelaki yang diketahui predator seks anak atau pedofil, berita ini menghebohkan. Karena khawatir terjadi sesuatu pada Malika, melihat pelakunya yang pernah melakukan kejahatan seks pada bocah perempuan.

Selama 27 hari diculik, Malika disembunyikan di dalam gerobak pemulung. Dibawa keliling mulung di daerah Cileduk, Tangerang Selatan.

Bocah perempuan umur 6 tahun ini diculik pada Rabu, 7 Desember 2022 di rumahnya Jalan Gunung Sahari 7A, Kelurahan Gunung Sahari Utara, Jakarta Pusat. Dan ditemukan Senin, 2 Januari 2023 di daerah Cileduk, Tangerang Selatan.

Kasus penculikan anak ini mendapat perhatian Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sampai ia meminta agar pelaku segera ditangkap dan diusut tuntas. Setelah 26 hari, pelaku akhirnya ditangkap.

“Korban (Malika) kini ditangani Rumah Sakit Bhayangkara Jakarta untuk diberikan trauma healing, perawatan fisik dan psikis sampai sembuh. Atas perintah Bapak Kapolri, seluruh biaya perawatan sampai sembuh ditanggung Polri,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo kepada pers, Selasa (3/1/2023).

Berdasarkan informasi Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 15 Juli 2014, ternyata penculik Malika ini pernah dipenjara 7 tahun dan didenda Rp 60 juta Sub 6 bulan penjara.

Kasusnya pernah melakukan tipu muslihat atau membujuk bocah perempuan melakukan persetubuhan. Dan tersangka disebut sebagai predator seks anak atau pedofil. Ini yang dikhawatirkan kemungkinan terjadi pada Malika.

Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Komarudin kepada pers mengatakan, Malika belum dimintai keterangan polisi. Dengan pertimbangan, Malika masih bocah. “Kami segera melakukan visum,” katanya.

Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Irjen dr Asep Hendradiana ditanya wartawan, apakah Malika sudah diperkosa pelaku? menjawab, Malika masih akan divisum. Belum bisa dipastikan.

Malika selama dirawat di RS Bhayangkara sudah bisa diajak ngobrol para dokter. Tapi obrolan bocah. Belum masuk pertanyaan materi perkara. Dikhawatirkan, jika buru-buru ditanya materi perkara, jawaban Malika bisa tidak akurat. Harus dibangun komunikasi keakraban dulu, sebelum ditanya kasusnya.

dr Asep mengatakan, “Korban kami ajak bicara, nyambung. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa seperti yang kita bayangkan.”

Kasus ini heboh, jadi gunjingan warganet di medsos. Hampir sebulan terakhir ini. Berbagai komentar bertaburan. Sebagian warganet menyalahkan orang tua Malika.

Kronologi Penculikan

Orang tua Malika, Pak Tunggal (48) dan Oni (42) keluarga sederhana. Punya warung kopi kecil, nempel di toko ikan hias. Toko ikan hias ini juga milik Tunggal, dekat ruko, Jalan Gunung Sahari 7A, Kelurahan Gunung Sahari Utara, Jakarta Pusat.

Warung Pak Tunggal jualan kopi, gorengan dan mi instan. Juga krupuk kaleng warna biru yang ada kacanya.

Malika adalah bungsu dari lima bersaudara. Kadang-kadang ikut menunggui (main) di warung.

Rabu, 7 Desember 2022 warung kopi Pak Tunggal ditunggui anaknya, Ardia Maharani (20), kakak Malika. Pagi itu Malika ikut menunggui warung. Sekitar pukul 10.00 pemulung yang mengaku bernama Yudi merapat ke warung itu.

Si pemulung, Yudi ini sering ke warung Pak Tunggal, selama tiga bulan terakhir. Bahkan sering ngobrol dengan Pak Tunggal dan keluarganya yang menunggui warung. Kadang gantian ditungguin Tunggal, isteri dan anak-anaknya.

Yudi kepada Pak Tunggal mengaku, tinggal di gang kecil di belakang Gedung Penerbad TNI-AD, Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Sekitar satu kilometer dari warung.

Yudi mengayuh gerobaknya merapat ke warung Pak Tunggal, gerobak bekas becak yang dimodifikasi jadi gerobak pemulung. Gerobaknya berisi berbagai macam barang rongsok pulungan, biasanya kardus atau besi tua.

Cuma kedatangan Yudi pada pukul 10.00 siang itu tidak membawa gerobak. Dia berjalan kaki. Berkemeja lengan panjang hitam, celana hitam, topi coklat. Lebih rapi daripada biasanya.

Yudi kepada Ardia Maharani: “Pesan kopi”

Baca lagi  Desas-desus Ferdy Sambo Tak Ada di Mako Brimob? Jadi Pertanyaan Banyak Orang

“Baik pak.”

“Ada nasi, ya dik?”

“Tidak ada pak. Tapi, kalo mau nunggu, saya beli beras dulu.”

“Ya udah, beli beras, nih,” Yudi memberi uang Rp 20 ribu.

Sampai di sini ada yang janggal. Yudi sudah paham, warung itu tidak jual nasi. Ia minta nasi.

Ardia beli beras. Saat Ardia berangkat jalan kaki, Yudi juga pergi, katanya mau beli ayam goreng buat lauk. Sambil beranjak, Yudi mengajak Malika. Berangkatlah mereka.

Ardia ke wartawan: “Saya lihat Yudi ngajak Malika. Katanya mau beli ayam goreng.”

Setelah itu, Yudi dan Malika tidak kembali. Sampai Ardia balik membawa beras. Sampai berasnya dimasak magic jar, jadi nasi. Saat itulah Ardia gelisah.

Ardia segera mendatangi penjual ayam goreng, berjarak sekitar100 meter dari warung dia. Ardia bertanya ke pemilik warung ayam goreng. Disebutkan ciri-ciri Yudi dan Malika.

Penjual ayam bilang, memang pria dan bocah itu datang jalan kaki. Beli ayam goreng. Satu. Lalu pria dan bocah itu pergi naik bajay. Ke arah berbeda dari saat datang.

Kaget. Di situ Ardia sangat galau. Dia kembali ke warung, ada Pak Tunggal, langsung dilaporkan ke sang ayah.

Tapi tanggapan Pak Tunggal enteng saja: “Nanti juga pulang. Paling cari ayam goreng lain.”

Mungkin, karena anak Pak Tunggal banyak, lima. Sehingga ia menganggap enteng.

Jelang sore, Pak Tunggal sudah panik. Mencari anaknya ke berbagai arah. Tidak ketemu. Ia mendatangi gang kecil tempat daerah rumah si pemulung, Yudi. Ternyata, tidak ada warga yang kenal Yudi di situ.

Esoknya Pak Tunggal lapor polisi. Esoknya lagi baru polisi melacak. Mungkin, polisi menunggu lebih dari 24 jam untuk memastikan Malika benar-benar tidak pulang.

Penyelidikan polisi lama. Meskipun sudah mendatangi beberapa pemulung di seputaran Gunung Sahari. Nama Yudi tidak dikenal. Ciri-ciri Yudi disebutkan ke para pemulung. Biasa bawa gerobak becak, bertopi, berkalung handuk.

Para pemulung yang dimintai keterangan, tidak tahu. Ada pemulung bilang: “Mungkin, itu pemulung Herman. Tapi gak yakin, karena wajahnya gak keliatan.”

Polisi mendapatkan rekaman kamera CCTV di sekitar TKP. Tampak, si pemulumg, Yudi berjalan bersama Malika. Pak Tunggul juga mengenali, itu wajah Yudi bersama Malika.

Berdasarkan rekaman CCTV  itu, polisi melacak lagi, keliling ke para pemulung lagi. Ternyata, ada pemulung yang bilang: “Wajahnya tidak kelihatan, ketutup topi. Tapi itu kayak pemulung Jeki.”

Kemudian polisi mengadakan jumpa pers. Publikasi capture foto hasil rekaman CCTV itu. Pemulung Yudi dinyatakan buron. Warga yang melihat orang di foto tersebut diharapkan melapor ke polisi. Telepon ke nomor 0858 1026 1425 atau 0858 8259 5644.

Betul. Senin, 2 Januari 2023 malam, ada laporan warga ke polisi, yang melihat pria mirip buron polisi. Lokasi di daerah Cileduk, Tangerang.

Polisi meluncur dari Jakarta Pusat. Tiba di lokasi pukul 21.30. Pria dimaksud masih ada. Langsung ditangkap tanpa perlawanan. Malika ditemukan di tempat persembunyian tersangka.

Ternyata, tersangka punya empat nama: Yudi alias Herman alias Jeki. Nama aslinya Iwan Sumarno bin Subibyo.

Apa pengakuan Iwan? Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Komarudin kepada pers, mengatakan, dalam pemeriksaan tersangka Iwan berbelit-belit. Ditanya A, jawaban lari ke mana-mana. Digali motif, tersangka mengaku, sayang pada Malika. Ingin memiliki Malika.

“Belum terungkap, apa motifnya. Juga belum terungkap hal-hal lainnya. Penyidikan masih terus berlangsung,” kata Komarudin.

Dari konstruksi kasusnya, semua orang bisa menilai dari berbagai sudut. Dengan pandangan berbeda.

Jika warganet menyalahkan orang tua Malika, juga tidak bisa disalahkan. Tidak salah. Warganet betul, menurut versi mereka.

Sebaliknya, orang tua Malika punya versi sendiri. Bahwa mereka menyayangi Malika. Buktinya, mereka sangat sedih tersiksa selama 27 hari Malika diculik.

DJONO W OESMAN

(Wartawan Senior)

Related posts

Manajer Vanessa: Sebelum Kecelakaan Ada Firasat Mencium Bau Mayat di Rumahnya

adminJ9

MK: Gugatan Perselisihan Hasil Pilkada yang Banyak Dipertanyakan Netralitas KPU

adminJ9

Awas! Jangan Terjebak Pilih Pasangan Kekasih yang Punya Sifat Buruk, Ini Ciri-cirinya

adminJ9