Jurnal9.com
Business Headline

Ekonomi Indonesia Terkontraksi 5,32%, Benarkah Ini Ancaman Resesi?

Menteri Keuangan Sri Mulyani

Penerapan PSBB yang meluas pada akhir Maret 2020 lalu, ternyata mempengaruhi kondisi perekonomian pada periode April – Mei, sehingga terjadi kontraksi sangat dalam.  Sementara ekonom senior Faisal Basri dengan kontraksi yang sangat dalam 5,32% Indonesia akan mengalami resesi.

JAKARTA, jurnal9.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap baik, meski penyebaran virus corona (covid-19) masih tinggi.

“Pandemi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi 5,32 persen. Kontraksi dan koreksi ini mulai terlihat pada kuartal II,” kata Menkeu yang juga Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan  (KSSK) ini saat konferensi pers virtual, Rabu (5/8).

Menurut Menkeu, kegiatan ekonomi mengalami penurunan cukup tajam pada April – Mei 2020. “Namun, kami melihat  Juni ada perbaikan  atau pembalikan tren. Kami berharap ini dapat dijaga pada kuartal III,” ungkapnya.

Sri Mulyani menjelaskan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang meluas pada akhir Maret 2020 lalu, ternyata mempengaruhi kondisi perekonomian pada periode April – Mei, sehingga terjadi kontraksi sangat dalam.

Melihat situasi itu pihak otoritas fiskal dan moneter mengeluarkan kebijakan untuk meminimalkan dampak negatif covid-19 terhadap ekonomi dan sektor keuangan.

Jika melihat realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II yang mengalami kontraksi 5,32 persen itu, Menkeu Sri Mulyani menilainya jauh lebih rendah dari perkiraan sejumlah ekonom. Selanjutnya, “Saya memproyeksikan pada kuartal III/2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa minus 1 persen atau tumbuh 1,2 persen,” ungkapnya.

Ekonom Senior, Faisal Basri

Sementara itu, ekonom senior Institute For Development of Economics and Finance  (Indef), Faisal Basri meyakini Indonesia akan mengalami resesi.

Terlepas bakal resesi atau tidak, menurut Josua Pardede, Indonesia harus mencontoh China. Pertumbuhan positif negara ‘Tirai Bambu’ ini patut diacungi jempol setelah melewati masa suram dengan pertumbuhan ekonomi negatif yang sangat dalam.

Baca lagi  Pelatihan Terpadu UMKM untuk Percepat Pemulihan Ekonomi Nasional

China sebelumnya bahkan mencatat PDB terkontraksi sampai 6,8 persen pada kuartal I/2020 sejak masa pandemi yang menyerangnya pada akhir 2019 lalu.

Namun pada kuartal II/2020, pertumbuhan ekonomi China kembali menyentuh angka positif 3,2 persen, meski negara itu tak menargetkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 ini.

“China buka hanya stimulusnya yang cepat, tapi penanganan covid-19 juga sangat baik. Indonesia harus mencontoh China sebagai negara yang mampu keluar dari jeratan resesi,” papar Josua.

Jadi Indonesia harus mempercepat stimulusnya dengan mempercepat penyaluran bantuan sosial secara tepat sasaran dalam bentuk tunai dan stimulus lainnya yang mampu mengangkat ekonomi mereka yang terdampak corona.

Jika seandainya ekonomi Indonesia resesi, kata dia, percepatan penyaluran stimulus akan membuat ekonomi kembali positif pada kuartal IV/2020.

ARIEF RAHMAN MEDIA  

Related posts

Paket Pengadaan Pemerintah Bagi UMK dan Koperasi pada 2021 Senilai Rp478 Triliun

adminJ9

WHO: Timur Tengah Masuki Ambang Batas Kritis Wabah Virus Corona

adminJ9

Keputusan 51 Pegawai KPK yang Dipecat, Bentuk Pembangkangan Terhadap Presiden Jokowi

adminJ9