
Ilustrasi dampak positif penerapan kurikulum merdeka
Oleh: Rachmad Hidayatullah, S.E.
(Editor jurnal9.com)
Menyusul pemberitaan dugaan penyimpangan pengelolaan dana filantropi yang dihimpun lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), berbagai pihak sibuk untuk menyoroti pemberitaan ini dari aspek penggalangan donasi kemanusiaan saja. Baik aspek kepercayaan masyarakat yang menurun sampai dengan penataan lembaga penghimpun dana filantropi ini.
Bulan Juli 2022 menyajikan dua momen yang tampaknya terpisah, namun kita bila menggeser sudut pandang sedikit saja. Maka akan tampak irisan dari keduanya.
Momen pertama diungkapnya dugaan penyimpangan pengelolaan dana filantropi yang dihimpun lembaga kemanusiaan ACT.
Momen kedua masih akan kita songsong yakni dimulainya Tahun Pelajaran 2022-2023 pada 18 Jului 2022. Berbagai lembaga pendidikan dasar menengah (Dasmen) akan mulai menerapkan Kurikulum Merdeka.
Pada saat BAZNAS bersama LAZ mesti berupaya memulihkan kepercayaan masyarakat agar lebih giat kembali berdonasi sebagai amal menunaikan tuntunan agama. Pada saat yang sama, guru dan murid di Indonesia sedang bergelut untuk bisa bangkit dari krisis pembelajaran yang semakin bertambah akibat pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan meningkatnya kesenjangan pembelajaran.
Guru dan murid dipaksa berakselerasi untuk membenahi kesenjangan kualitas pembelajaran antar lembaga pendidikan maupun antar daerah dengan segala kondisi infrastruktur fasilitas teknologi pendukung pendidikan yang beragam. Kolaborasi menjadi salah satu resep untuk menopang akselerasi pembelajaran. Maka menjadi keniscayaan bila lembaga pendidikan (sekolah dan madrasah) menggandeng pelaku wirausaha, professional, relawan lingkungan, relawan sosial, dan lembaga pemerintah lintas sektor. Termasuk juga bisa menggandeng BAZNAS dan LAZ di tiap daerah.
Manfaat majemuk kolaborasi
Kurikulum Merdeka membuka peluang lembaga pendidikan untuk bekerjasama dengan berbagai pihak dan pihak yang digandeng tentu dapat dipastikan bakal memetik manfaat dari kerjasama itu.
Kolaborasi akan menguatkan karakter murid atau peserta didik sebab mereka akan berinteraksi langsung dengan praktisi dan profesional dari berbagai bidang. Mereka akan terpapar dengan pengalaman-pengalaman otentik para praktisi dan kerja-kerja profesional para ahli. Tersedianya teknologi komunikasi dalam jaringan (online) semacam zoom dan google meet membuka peluang praktik kolaborasi yang efektif sekaligus efisien.
Terbukanya wawasan peserta didik dan pendidik melalui kolaborasi ini akan mendorong peserta didik untuk mengasah kompetensi dan hal ini kompetensi ini merupakan jawaban dari tantangan dunia abad ke-21. Abad dimana warga global di berbagai lini menuntut adanya kompetensi, menggeser kompetisi menjadi kolaborasi, memacu kreatifitas, dan mengharuskan komunikasi intensif yang lintas batas kultural dan negara.
Kolaborasi BAZNAS bersama LAZ dengan lembaga pendidikan dapat diterapkan secara sederhana dengan tetap mempertimbangkan tercapainya tujuan dari masing-masing pihak. Manfaat dari kolaborasi antara BAZNAS dan LAZ jangan dibayangkan akan terhimpunnya dana filantropi yang melimpah dari kalangan pelajar, melainkan terkadernya calon-calon filantropis masa depan melalui sekolah dan madrasah.
Bila jiwa altrusistik dan filantropis terpupuk sejak di dini, maka BAZNAS dan LAZ akan memanen dana kelolaan filantropi yang melimpah di masa depan. Kerja-kerja filantropi tak bisa hanya dipandang sebagai kerja satu tahun atau dua tahun. Ini merupakan kerja berkesinambungan lintas generasi.
Penerapan kolaborasi BAZNAS dan LAZ bersama sekolah dan madrasah bisa dimulai dengan kegiatan-kegiatan sederhana yang dilaksanakan secara ajeg atau istiqomah. Misalnya, penghimpunan infaq dan shadaqah setiap hari di kalangan murid yang direncanakan, dikelola dan didistribusikan oleh para murid secara mandiri. Dari kegiatan sederhana itu, pihak sekolah mendapat manfaat berupa terealisasinya praktik pembelajaran intrakurikuler (dari berbagai muatan pelajaran) dan projek penguatan karakter pelajar Pancasila.
Di tingkatan Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), melalui praktik penghimpunan infaq-shadaqah secara mandiri ini murid dapat dicatat sebagai proyek yang sedang ditunaikan oleh peserta didik dalam kerangka model pembelajaran project based learning.
Sedangkan dari sisi pembelajaran intrakurikuler, melalui penghimpunan infaq-shadaqah ini peserta didik bisa mempraktikkan pelajaran matematika secara konkret. Para murid juga belajar bekerjasama dalam organisasi unit terkecil (kelas) hingga unit lebih besar yakni skala keseluruhan sekolah/madrasah. Berbagai capaian pembelajaran dapat dirinci lebih lanjut dari satu kegiatan saja; yakni penghimpunan infaq-shodaqah.
Implementasi kolaborasi ini juga dapat diterapkan pada jenjang SMP/MTS, SMA/SMK/Madrasah Aliyah dan tak tertutup kemungkinan banyak manfaat yang bisa diunduh kedua pihak (lembaga pendidikan dan BAZNAS/LAZ) yang tak terprediksi pada tahap perencanaannya. Dengan kata lain, kolaborasi lintas sektor ini akan sangat memperkuat karakter anak-anak didik Indonesia yang membantu mengakselerasi pembelajaran atau mengungkit kualitas pendidikan di Indonesia.
Secara induktif, sejak mempraktikkan penghimpunan infaq-shadaqah di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Azhar Tanggul yang kami kelola pada 2017, hal tak terduga yang pernah kami alami adalah peristiwa penggalangan donasi oleh murid-murid untuk korban bencana Tsunami di Kabupaten Palu pada 2018 tanpa adanya instruksi, arahan, inisitif, ataupun stimulus dari guru.
Sepanjang tahun pembelajaran, para murid telah menghimpun infaq-shadaqah secara mandiri dengan pendampingan para guru bukan dengan niat membentuk kebiasaan murid, melainkan menata niat semata untuk melaksanakan perintah Tuhan di Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 254. Dugaan kami, niat inilah yang menjadi sebab turunnya hidayah Tuhan bagi murid dan para guru yang tampak luar dari hidayah ini berupa akhlakul karimah. Disini irisan atau titik sinkron yang bisa diimitasi oleh BAZNAS dan LAZ bersama sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia. Di tahap ini dibutuhkan inisiasi yang sinergi dari pemerintah daerah yang didukung pemerintah pusat.
Kolaborasi lintas sektor ini juga akan memberi kontribusi bagi peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amal baik yang berkoodinasi dengan BAZNAS dan LAZ ataupun lembaga filantropi lainnya. Pada saat yang sama maka predikat sebagai warga negara paling dermawan se-dunia kiranya akan tetap lekat di Indonesia. (*)
