Jurnal9.com
Business Headline

Sedih Dengar Orang-Orang di Inggris Kelaparan, Tak Dapat Makanan, karena Krisis Ekonomi

Selama krisis ekonomi di Inggris banyak orang tidur di jalanan karena kelaparan

BANDUNG, jurnal9.com – Salah satu negara maju; Inggris sekarang ini kondisinya makin tidak kondusif, setelah dilanda krisis ekonomi dalam sebulan terakhir.

Kondisinya sangat menyedihkan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang sudah kesulitan untuk mencari makanan. Bahkan sampai di jalanan trotoar, emperan toko, terlihat banyak orang tertidur keletihan, karena kelaparan tak mendapatkan makanan.

Apalagi sekarang kondisi suhunya sangat dingin, masyarakat butuh banyak gas untuk bahan bakar; penghangat ruangan. Tapi sangat sulit untuk mendapatkan gas. Di store-store tak ada lagi stok gas.

“Inggris yang negara begitu hebat kalau kita lihat dan baca di media sekarang dia cari makanan aja susah. Belum lagi, harga gas melambung tinggi. Sampai di beberapa apartemen tempat gasnya dikunci agar tidak digunakan untuk pemanas orang lain,” kata Bahlil saat memberikan Kuliah Tamu di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (5/10/2022).

Krisis ekonomi di Inggris, kata dia, terjadi saat pemerintah sekarang ini sedang memberlakukan kebijakan penurunan pajak dan subsidi gaji untuk tenaga kerja. Bahkan kondisinya makin pelik setelah anjloknya nilai tukar mata uang Poundsterling.

Akibat krisis ekonomi menyebabkan negara kerajaan Inggris saat ini tingkat inflasi di sudah mencapai 9,4 persen. Inflasinya sangat tinggi. Kondisi ini sangat miris atau bikin cemas banyak orang.

Sebab di mana-mana; seluruh kota Inggris terjadi kenaikan harga barang dan jasa melambung tinggi. Sehingga membuat kemampuan daya beli masyarakat menurun drastis. Mau beli barang kebutuhan sehari-hari makin tidak terjangkau.

Inflasi adalah kenaikan harga barang atau jasa yang menyebabkan daya beli uang menurun. Kenaikan harga ini terjadi pada sebagian besar barang dan jasa secara terus menerus dalam kurun waktu tertentu,

Penyebab inflasi karena banyak faktor. Bisa karena permintaan barang dan jasa sangat tinggi, sehingga harga-harga mengalami kenaikan. Dan membuat daya beli masyarakat makin menurun dan tak terjangkau. Terutama ini akan dialami masyarakat yang berpendapatan menengah ke bawah.

Baca lagi  Hari Ini, Jemaah Indonesia Mulai Laksanakan Umrah yang Pertama Sejak Pandemi

Penyebab inflasi lainnya bisa jadi karena adanya peningkatan biaya produksi, dan bertambahnya uang yang beredar di masyarakat, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran.

Selain itu penyebab inflasi ini bisaterjadi karena kekacauan ekonomi dan politik di negara tersebut. Hal ini pernah terjadi di Indonesia saat kerusuhan Mei 1998.

Dampak inflasi menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun, sehingga standar hidup masyarakat turun dan menjadikan banyak orang makin miskin.

Inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat atau usaha kecil dalam melakukan investasi dan produksi yang dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun.

Melihat kejadian dan keadaan di Inggris itu, masyarakat di Indonesia harus berhati-hati dalam menggunakan uangnya, dan harus bisa berhemat. Sekarang saja tingkat inflasi di Indonesia sudah 4,4 persen pada Agustus lalu. Memang kalau dibandingkan inflasi di Inggris yang sudah mencapai 9,4 persen, memang Indonesia masih di bawahnya.

Tetapi Bahlil mengingatkan apa yang terjadi di Inggris itu menunjukkan potensi musibah krisis ekonomi global. Bisa saja Indonesia terkena dampaknya. Kalau masyarakatnya tidak berhati-hati dalam penggunaan uangnya, serta harus bisa berhemat dalam kehidupan sehari-harinya.

“Semua ini bisa menjadi potensi musibah krisis ekonomi global, termasuk Indonesia. Ini  penting disampaikan; kalau kita tidak hati-hati, bukan tidak mungkin mengalami nasib seperti negara Inggris,” kata Bahlil.

Sejauh ini sendiri kondisi ekonomi Indonesia masih baik-baik saja, apalagi kalau mau dibandingkan dengan Inggris. Bahlil memaparkan ekonomi Indonesia menjadi yang terbaik di antara negara G20.

“Pertumbuhan ekonomi kita 5,44 persen. Ini terbaik di antara negara G20. Inflasi terkendali di bawah 5 persen. Inggris sudah mau hampir 10 persen. Amerika juga sama,” kata Bahlil.

Sumber: Reuters, CNN

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Desy Ratnasari Jadi Istri Kedua Abdul Karim, Sekalian Jadi Ibu Buya Hamka, Kok Mau?

adminJ9

Ini Skema untuk Kredit Modal Kerja yang Dijamin Pemerintah

adminJ9

Pasien Covid yang Isoman, Jangan Asal Pakai Obat Hanya Dengar Omongan Orang dari Medsos

adminJ9