Jurnal9.com
Business Headline

Saat Trump Ancam Arab Saudi untuk Lindungi Krisis Industri Minyak AS

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bertemu Presiden AS Donald Trump   (Foto: Reuters) 

WASHINGTON, jurnal9.com – Ketika Arab Saudi sedang perang harga minyak mentah dengan Rusia, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), bahwa AS akan menarik pasukannya dari Arab Saudi, kecuali OPEC + mau memangkas produksi minyaknya.

Ancaman Trump itu disampaikan pada 2 April lalu atau 10 hari sebelum Arab Saudi bersama anggota OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) akhirnya sepakat memangkas produksi minyaknya sebesar 9,7 juta barel per hari, atau setara 10 persen dari total pasokan minyak mentah global.

Mengutip laporan Reuters, Presiden AS tidak akan menghentikan anggota parlemen AS yang kini sedang berupaya meloloskan UU untuk menarik pasukan AS di Arab Saudi, jika negara yang tergabung anggota OPEC itu tidak mau memangkas produksi minyaknya.

Mendengar ancaman Trump lewat telepon itu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman sangat kaget. Sang Putra Mahkota sampai memerintahkan para pembantunya keluar dari ruangan agar pembicaraan pribadi dengan Presdiden AS tersebut bersifat tertutup.

Upaya Presiden AS ini menggambarkan keinginan untuk melindungi industri minyak AS dari krisis harga, di tengah terpuruknya perekonomian negaranya yang dilanda wabah virus corona.

Trump yang Presiden AS dari pengusaha itu bereaksi keras setelah Arab Saudi pada Maret lalu mengumumkan akan menaikkan produksi minyaknya 12,3 juta barel per hari, yang berimbas pada perang harga minyak dengan Rusia.

Peningkatan produksi minyak ini terjadi ketika negara-negara menerapkan aturan warganya untuk tinggal di rumah, sehingga berdampak pada penurunan drastis permintaan bahan bakar minyak.

Akibatnya banyak industri minyak AS terpukul dengan jatuhnya harga minyak mentah yang membuat para senator marah. Sebanyak 13 senator dari Partai Republik mengirim surat ke Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengingatkan ketergantungan strategis Arab Saudi pada Washington.

Sekretaris Energi AS Dan Brouillette mengingatkan, “Presiden AS memiliki hak menggunakan setiap cara untuk melindungi industri minyak di AS, sebaliknya Arab Saudi  perlu dukungan kami untuk pertahanan mereka.”

Selain itu dari para senator juga mendesak Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross untuk menyelidiki apakah Arab Saudi dan Rusia melanggar hukum perdagangan internasional dengan cara membanjiri pasar AS melalui minyak.

Baca lagi  Beredar Berita Jemaah Haji Indonesia Ditolak Saudi, Karena Masih Berutang Akomodasi?

Melihat situasi pasar itu, Bank Sentral Rusia memangkas suku bunga. Dan Arab Saudi yang mendapat tekanan AS, kehilangan dukungan militer AS yang membuat keluarga Kerajaan bertekuk lutut pada tuntutan Trump.

Akhirnya dari kalangan industri minyak AS yang melakukan negosiasi dengan pihak Kerajaan telah menyepakati rekor penurunan produksi sebesar 9,7 juta barel per hari pada Mei dan Juni ini.

Trump memuji kesepakatan tersebut, “Setelah negosiasi jumlah yang dikurangi Arab Saudi bersama OPEC mencapai 20 juta barel per hari,” ucap Presiden AS itu. Dia juga mengapresiasi kesepakatan yang dilakukan di ibukota Riyadh atas pengurangan produksinya.

Dalam laporan Reuters, Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz mengatakan saat dilakukan negosiasi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, berperan besar dalam merumuskan pencapaian kesepakatan tersebut.

Sejarah kemitraan strategis Arab-AS dimulai pada 1945, ketika Presiden Franklin D. Roosevelt bertemu dengan Raja Saudi Abdul Aziz Ibn Saud tentang USS Quincy, sebuah kapal penjelajah Angkatan Laut. Keduanya mencapai kesepakatan; AS memberi perlindungan militer, dengan imbalan mendapat akses ke cadangan minyak Arab Saudi.

Saat ini AS menempatkan sekitar 3.000 tentara, dan Armada Kelima Angkatan Laut AS melindungi ekspor minyak dari negara Arab tersebut.

Arab Saudi sangat bergantung pada AS dalam persenjataan dan perlindungan produksi minyaknya dari ancaman Iran. Ini terbukti rentannya pertahanan Arab Saudi saat mendapat serangan 18 drones dan 3 rudal pada kilang minyak utama Saudi.

Washington menyalahkan Iran terkait serangan ini, tapi Teheran membantahnya. Diduga polemik ini dipicu produksi minyak pada 12 April.  Di bawah tekanan Trump, negara-negara penghasil minyak terbesar di Arab  telah menyetujui pengurangan produksinya.

OPEC, Rusia, dan produsen sekutu lainnya memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari, atau sekitar 10 persen dari output global. Setengah dari volume itu berasal dari pemotongan masing-masing 2,5 juta barel per hari oleh Arab Saudi dan Rusia, yang anggarannya bergantung pada pendapatan tinggi dari minyak dan gas.

Meski tercapai kesepakatan untuk memotong sepersepuluh produksi global, namun harga minyak masih terus turun ke posisi terendah dalam sejarah. Harga minyak berjangka AS anjlok di bawah nol dollar pekan lalu, karena penjual membayar pembeli untuk menghindari ketiadaan tempat menyimpan dalam pengiriman minyak.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Jokowi Soroti, Dana Pemda Provinsi di Bank Rp 170 triliun Nganggur

adminJ9

NU Craft Exhibition Sebagai Ajang Promosi UMKM Ciptakan Pasar

adminJ9

Kemenkop UKM dan Kemendikbud Kolaborasi Kembangkan Wastra Produk UKM Berbasis Budaya

adminJ9