Jurnal9.com
Business Headline

Polemik Baru, Ruang Guru Ternyata Perusahaan Asing dari Singapura?

Adamas Belva Syah Devara dan Ruang Guru   (Foto: Dok. Pribadi)

JAKARTA, jurnal9.com – Setelah Adamas Belva Syah Devara mundur dari Stafsus Presdien, karena polemik keterlibatan Ruang Guru menjadi mitra pemerintah dalam Program Kartu Prakerja yang dianggap punya konflik kepentingan, kini timbul persoalan baru bahwa aplikator Ruang Guru ternyata dimiliki perusahaan penanaman modal asing (PMA) asal Singapura.

Jika benar, status Startup Ruang Guru adalah perusahaan PMA, maka Ruang Guru rintisan Belva  ini tak boleh mengelola Program Kartu Prakerja yang menjadi program pemerintah.

Sebab, kalau melihat surat pengesahan Anggaran Dasar-nya pada 17 Maret 2020, tercatat bahwa PT Ruang Raya Indonesia yang mengendalikan Ruang Guru, adalah perusahaan penanaman modal asing (PMA).

Aplikator Ruang Guru ini tercatat memiliki modal dasar Rp 2 triliun. Nilai tersebut terbagi atas 20 juta unit saham dengan harga Rp 100.000 per saham. Sedangkan jumlah modal disetor dan ditempatkan penuh senilai Rp 649.440.900.000, yang terbagi menjadi 6.494.409 unit saham.

Ruang Guru dimiliki perusahaan berbendera PT Ruang Raya Indonesia. Namun anehnya, tidak ada nama Belva dalam jajaran pemegang saham perusahaan tersebut. Mayoritas saham PT Ruang Raya Indonesia dimiliki oleh Ruangguru Pte Ltd. Perusahaan ini tercatat memiliki 6.494.309 unit saham atau setara 99,99 persen saham Ruang Raya Indonesia.

Dan Ruangguru Pte Ltd ini tercatat merupakan pemegang saham mayoritas PT Ruang Raya Indonesia, yang beralamat di 6 Battery Road #38-04, Singapura, 049909. Bahkan disebutkan perusahaan asal Singapura itu menyetor modal Rp 649.430.900.000. Selain Ruangguru Pte Ltd, pemegang saham PT Ruang Raya Indonesia lainnya adalah Muhammad Iman Usman

Hasil penelusuran data dari Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan HAM, ada tertera nama Ruang Guru Pte Ltd sebagai perusahaan yang berbadan hukum PT Ruang Raya Indonesia, dengan kepemilikan 99,99 persen saham.

Kemudian perusahaan yang memiliki kantor di Marina Bay Financial Centre Tower 3, #31-01A, 12 Marina Boulevard, Singapore 018982 ini menyebutkan East Ventures sebagai perusahaan modal ventura yang mendanai aplikator Ruang Guru di Indonesia sejak 2014. Bahkan mencantumkan Ruang Guru sebagai portofolio investasinya.

Baca lagi  Jadikan PLUT Sebagai Center of Exellence KUMKM di Kabupaten Lima Puluh Kota

Tech in Asia pernah mempublikasikan di laman resminya, bahwa East Ventures yang membuka kantor di Menara BTPN, 47th Floor, CBD, Mega Kuningan, Jakarta Selatan itu, lewat perusahaan afiliasinya di Indonesia, Venture Capital, menyuntikkan modalnya melalui pendanaan seri A Desember 2015 pada aplikator Ruang Guru.

East Ventures sendiri di PT Ruang Raya Indonesia, memiliki daftar nama komisaris perusahaan. Posisi komisaris di PT Ruang Raya Indonesia ditempati oleh tiga orang. Nama Willson Cuaca menjabat komisaris utama.

Nama Willson Cuaca terbilang tidak asing di dunia startup. Dia merupakan pendiri dan managing partner East Ventures bersama Batara Eto dan Taiga Matsuyama.  Willson mendirikan East Ventures pada 2009.

Selain Ruang Guru, beberapa startup lain yang jadi portofolio East Ventures, seperti Traveloka, Tokopedia, Kudo, Katadata, hingga minuman kopi kekinian Fore.

Data AHU Kemenkumham juga menyebutkan Ruang Guru yang dikendalikan PT Ruang Raya Indonesia, direksi perusahaan dijabat dua nama, Adamas Belva Syah Devara menjabat direktur utama, serta Iman Usman di posisi direktur.

Willson Cuaca, sebagai komisaris utama, mengatakan selain East Ventures menyuntikkan modal ke Ruang Guru, juga berinvestasi di Tokopedia, Traveloka, Tech in Asia, dan IDN Media.

“Kami berencana menyalurkan 325 juta dollar AS untuk startup Asia Tenggara, untuk perusahaan tahap awal (seed stage) maupun tahap lanjutan (growth stage),” tulis Willson di laman Tech in Asia, pada Desember 2019.

Di luar nama Willson, ada nama Ashish Saboo yang tercatat menjabat komisaris PT Ruang Raya Indonesia. Dia menduduki Managing Director General Atlantic (GA) untuk Indonesia. Pria berkewarganegaraan India ini boleh dibilang sudah tak asing dengan Indonesia. Sebelum bergabung dengan GA, Saboo menjabat Direktur Pengembangan Bisnis CT Corpora, grup usaha milik Chairul Tandjung, selama 12 tahun.

Saboo juga sempat menjabat Executive Director Pricewaterhouse Coopers (PwC) Jakarta. GA adalah sebuah firma pemodal swasta (private equity) yang berbasis di New York, Amerika Serikat.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Bisnis dan Investasi yang Berkembang di Masa Depan Mengarah pada Ekonomi Syariah

adminJ9

Smesco Gandeng Blibli Gulirkan Program Kakak Asuh UMKM

adminJ9

Yasonna: Perseorangan Bisa Dirikan PT Cukup Isi Formulir, Tak Perlu Akta Notaris

adminJ9