Jurnal9.com
Headline News

China: AS Tak Punya Bukti Virus Corona Berasal dari Lab Wuhan

Hua Chunying, Kementerian Luar Negeri China  (Foto:  AFP)

BEIJING, jurnal9.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya mengklaim punya bukti virus corona berasal dari Wuhan. Kini China balik menyerang AS yang menyatakan virus corona berasal dari laboratorium Institut Virologi di Wuhan sebenarnya tidak punya bukti tentang tuduhannya itu.

Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying menyatakan, “Saya kira masalah ini harus diselesaikan bersama peneliti dan medis, bukan oleh politisi yang berbohong demi kepentingan politik domestik mereka,” sindir juru bicara Kemenlu China itu.

Bahkan Hua menyerang Menteri Luar Negeri AS, “Pompeo berulang kali mengklaim, tapi dia tidak bisa menunjukkan buktinya. Mengapa demikian?  Karena dia tak punya bukti,” tegasnya.

Seperti dikutip AFP, dalam pernyataan Menlu AS Pompeo, menuding China bertanggung jawab terhadap penyebaran virus corona di dunia. Pekan lalu, dia menuturkan Presiden AS Donald Trump  sudah melihat bukti wabah itu berasal dari lab Wuhan.

Atas tudingan itu, sejumlah media China dalam laporannya menyebut Menlu AS Pompeo dan Presiden AS Donald Trump, adalah gila.

Sampai saat ini, AS merupakan negara yang paling parah terdampak virus corona, ada sekitar 1,2 juta orang yang terinfeksi, dan lebih dari 72.000 orang meninggal.

Beijing menuding, Gedung Putih berusaha mengalihkan tanggung jawab dalam menangani pandemi di negaranya dengan menyalahkan China. “Kami meminta AS berhenti mengalihkan tanggung jawab ke China. Seharusnya mereka berpikir bagaimana menyelamatkan nyawa dan mencegah wabah,” kata Hua.

Melihat ketegangan antara AS dan China itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, klaim Trump soal wabah corona bersal dari Institut Institut Virologi di Wuhan tersebut hanya sekadar spekulasi.

Ucapan itu mendapat dukungan pakar epidemiologi, Anthony Fauci. Kepada National Geographic, dia memaparkan sejauh ini, semua bukti menunjukkan virus ini terbentuk secara alamiah.

AS dan Australia menyerukan adanya penyelidikan internasional bagaimana penyakit itu bisa mewabah di dunia. WHO  juga menyatakan, mereka tengah menunggu undangan dari negeri Tirai Bambu itu agar bisa berpartisipasi dalam penyelidikan.

Baca lagi  Utang Indonesia Bertambah Jadi Rp5.515 triliun per Akhir Agustus 2020

Namun perwakilan Beijing di Jenewa menekankan, mereka tidak akan menggelar investigasi sebelum mendapat kemenangan penuh atas virus. Dubes Chen Xu  mengatakan, pihaknya berusaha menangkal politisasi AS yang “absurd dan konyol”, dan menyebut mereka butuh atmosfer positif sebelum memulai investigasi.

Secara resmi, angka korban meninggal di China adalah 4.633. Namun, ada negara yang meragukan apa yang dipaparkan pejabat China itu akurat?

Sementara Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang menyebut bahwa asal virus adalah masalah ilmiah yang kompleks, dan harus dipelajari oleh para ilmuwan dan profesional. Di saat pemimpin dunia berdebat, seperti apa para ahli sejauh ini menelusuri asal-usul virus SARS-CoV-2 ini?

Pendapat bahwa virus corona bukan rekayasa, tetapi terjadi alami, hampir bulat di kalangan ahli. Dalam sebuah surat kepada Nature pada Maret lalu, sebuah tim di California yang dipimpin oleh profesor mikrobiologi Kristian Andersen mengatakan data genetik menunjukkan bahwa Covid-19 tidak berasal dari tulang punggung virus yang sebelumnya digunakan.

Jauh lebih mungkin, kata mereka, adalah virus muncul secara alami dan menjadi lebih kuat melalui seleksi alam. “Kami mengusulkan dua skenario yang secara masuk akal dapat menjelaskan asal-usul Sars-CoV-2: seleksi alam pada hewan inang sebelum transfer zoonosis [hewan ke manusia]; dan seleksi alam pada manusia setelah transfer zoonosis,” kata Andersen.

Sementara dilansir Guardian, Peter Ben Embarek, seorang ahli di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan jika ada manipulasi virus, maka perlu untuk melihat bukti di kedua urutan gen dan juga distorsi dalam data pohon keluarga mutasi – efek yang disebut retikulasi.

Kepala Laboratorium Nasional Galveston di AS, James Le Duc, mengatakan fasilitas biocontainment aktif terbesar di kampus akademik AS, juga menyetujui saran tersebut. “Ada bukti yang meyakinkan bahwa virus baru itu bukan hasil rekayasa genetika yang disengaja. Bahkan  hampir pasti berasal dari alam, mengingat kemiripannya yang tinggi dengan coronavirus terkait kelelawar lain yang diketahui. Belum terbukti dari Lab Wuhan.” kata Le Duc.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

PP Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1442 H Jatuh pada 13 April 2021

adminJ9

Presiden Jokowi: Alhamdulillah 1,2 juta Dosis Vaksin Covid-19 Sinovac Tiba di Indonesia

adminJ9

MK: Gugatan Perselisihan Hasil Pilkada yang Banyak Dipertanyakan Netralitas KPU

adminJ9