Jurnal9.com
HeadlineNews

Anies yang Dipilih Capres Partai Nasdem, Harus Mampu Katrol Suara Nasdem

Anies Baswedan dan Surya Paloh seusai deklarasi capres dari Partai Nasedm.

JAKARTA, jurnal9.com – Anies akan menjalani tugas berat usai dipercaya Partai Nasdem menjadi capres pada Pilpres 2024. Dia dituntut harus mampu meningkatkan suara Partai Nasdem yang dikomandoi Surya Paloh ini..

Nama Anies dipercaya Nasdem untuk capres 2024 memang tidak mengejutkan. Sebab nama Anies sudah dibidik sejak lama oleh partai ini. Buktinya dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Nasdem Juni lalu, Anies menjadi satu dari tiga kandidat capres yang diusulkan DPD Nasdem, selain nama Ganjar Pranowo dan Andika Perkasa (Panglima TNI).

Keputusan Nasdem memilih Anies sebagai capres 2024 menjadi opsi paling realistis ketimbang memilih dua kandidat lain, Ganjar Pranowo dan Andika Perkasa.

Pertimbangan memilih Anies Baswedan jadi capres Nasdem, karena dia sebagai Gubernur DKI Jakarta akan segera mengakhiri jabatannya pada 16 Oktober 2022. Setelah tak lagi menjadi gubernur, Anies tentu akan lebih fokus pada statusnya sebagai capres.

Berbeda dengan Ganjar Pranowo. Selain masa baktinya sebagai Gubernur Jateng baru akan berakhir September 2023, juga merupakan kader PDI Perjuangan. Sehingga Ganjar masih kemungkinan punya keterikatan sebagai kader PDIP untuk capres.

Alasan tidak memilih Andika Perkasa, karena yang bersangkutan masih aktif berdinas di militer, sehingga tidak memungkinkan akan lebih maksimal dalam menjalankan tugas  keliling untuk kampanye.

Karena siapa pun yang dicalonkan Partai Nasdem jadi capres, tentu punya tugas untuk turut berperan serta meningkatkan perolehan suara Partai Nasdem. Alasan ini yang menjadi sasaran Nasdem dengan mengusung Anies sebagai capres.

Pada Pemilu 2019, Nasdem masuk partai 5 besar dalam keberhasilan mendulang suara pemilih. Partai Nasdem meraih 12,66 juta suara atau 9,05 persen di bawah PDI Perjuangan (19,33 persen).

Kemudian Partai Gerindra meraih 12,57 persen, Partai Golkar 12,31 persen, dan Partai Kebangkitan Bangsa 9,69 persen.

Peluang untuk mendongkrak suara Partai Nasdem dengan menempatkan Anies sebagai capres sangat terbuka bagi Nasdem. Apalagi mantan Rektor Universitas Paramadina Jakarta itu memiliki kelompok pendukung yang solid.

Anies Baswedan tokoh populer di media daring dan media sosial. Dan memiliki basis pendukung dari berbagai kalangan akademisi dan masyarakat; agama, nasionalis.

Baca lagi  Penguatan Moderasi Beragama, Wujudkan Misi Islam Sebagai Agama ‘Rahmatan lil ‘alamin’

Tugas Anies sebagai capres Nasdem untuk meyakinkan para pendukungnya agar memilih Nasdem di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 nanti. Apalagi Pemilu 2024 akan berlangsung secara serentak. Pemilihan calon anggota legislatif dan capres-cawapres digelar bersama-sama, tidak seperti empat pemilu sebelumnya.

Dengan mekanisme Pemilu serentak pada 2024, parpol pengusung capres akan mendapat sentimen positif untuk dipilih masyarakat. Komunikasi politik menjadi beban berat selanjutnya bagi Anies, sehingga perlu membangun komunikasi politik.

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh tentu saja sadar dengan keputusan memilih Anies sebagai capres. Anies harus mampu membangun komunikasi, tidak hanya dengan internal Nasdem, tetapi juga dengan parpol lainnya.

Jika selama ini Surya Paloh menjadi ujung tombak dalam berbagai pertemuan antar elite politik, peran itu akan dibagi dua dengan Anies. Dari kemampuan politik Anies dalam membangun komunikasi dengan parpol lain, Surya Paloh tentu mampu mengukur daya tarung Anies.

Mengutip hasil survei Poltracking Indonesia yang dirilis 31 Agustus 2022, peluang koalisi Nasdem cukup terbuka dengan Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Jika diukur sebagai pasangan capres-cawapres, Anies—baik sebagai posisi sebagai capres maupun cawapres— berpotensi unggul apabila berpasangan dengan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

Peluang itu dengan asumsi, capres-cawapres yang ada hanya nama Prabowo, Ganjar, Puan Maharani, Erick Thohir, Agus Harimurti Yudhoyono, Ridwan Kamil, Khofifah Indar Parawansa, dan Sandiaga S. Uno.

Artinya, perjalanan Anies Baswedan menuju penetapan definitif sebagai peserta Pilpres 2024 masih panjang.  Di negeri ini pernah punya pengalaman menarik dalam capres yang lalu. Pernah nama Dahlan Iskan menjadi pemenang konvensi capres yang digelar Partai Demokrat menuju Pilpres 2014. Hanya saja, dalam perjalannya, Dahlan Iskan gagal menjadi peserta Pilpres 2014 karena komunikasi politik yang dibangun Demokrat gagal.

Jangan sampai pengalaman Dahlan Iskan ini terjadi pada Anies Baswedan. Hanya berhenti sebagai capres, tanpa bisa turun gelanggang resmi di Pilpres mendatang.

RAFIKI ANUGERAHA M  I  ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Awas! Bahaya Saraf Kejepit, Ini Cara Mencegahnya

adminJ9

Bidan Selingkuh dengan Polisi di Purworejo, Suami Punya Bukti Rekaman Suara Seks

adminJ9

Nurdin Halid: Klub Sepak Bola Eropa Dikelola dengan Sistem Koperasi

adminJ9

Leave a Comment