Jurnal9.com
BusinessHeadline

Perry Mundur dari Gubernur BI di Tengah Nilai Tukar Rupiah yang Terus Anjlok

Perry Warjiyo mengundurkan diri dari Gubernur Bank Indonesia

JAKARTA, jurnal9.com – Perry Warjiyo mundur dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp 17.883 – Rp 18.062 per dolar AS.

“Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuat posisi bank sentral berada di bawah sorotan publik,” kata Guru Besar Ekonomi, Universitas Airlangga, Surabaya, Rahma Gafmi dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (27/7/2026).

“Permasalahan ini yang melatarbelakangi pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo, karena mendapatkan tekanan, salah satunya depresiasi rupiah,” ia menegaskan.

Apalagi Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Mei lalu, meyakinkan anggota dewan dengan menyatakan nilai tukar rupiah yang tembus Rp 17.700 per dolar AS pada Mei, diprediksi mulai Juli 2026 akan menguat kembali ke kisaran Rp 16.200 per dolar AS.

“Kami yakin mulai Juli, Agustus akan menguat kembali, sehingga secara keseluruhan kami masih (mengarah pada penguatan) ke sana,” kata Perry.

Perry mengakui rupiah yang undervalue mengacu pada nilai rupiah yang melampau asumsi makro APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS, diyakini akan terjadi penguatan mulai Juli 2026.

“Memang selama tiga bulan terakhir; April, Mei dan Juni, permintaan dolar AS yang tinggi telah menekan nilai tukar rupiah hingga tembus Rp 17.700 per dolar AS,” kata Gubernur BI itu memberikan alasan kepada anggota Komisi XI DPR RI pada 18 Mei 2026 lalu.

Perry sendiri merasa optimis dengan berbagai langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia. Mulai dari kebijakan suku bunga, operasi moneter, lelang hingga melakukan intervensi di pasar keuangan.

Seperti disampaikan Rahma, kebijakan tersebut belum mampu meredam gejolak pelemahan rupiah, sehingga Gubernur BI itu mendapat tekanan politik. “Kondisi ini yang melatarbelakangi pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI,” ungkapnya.

Baca lagi  Kini Ekonomi Indonesia Menunjukkan Tanda-Tanda Mulai Pulih, Ini Buktinya

Sebab pelemahan rupiah ini, kata Rahma, bisa memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional. “Karena beban utang luar negeri kita makin besar, karena berpotensi meningkatkan harga barang impor, dan ini bisa menekan daya beli masyarakat,” ujarnya.

Apalagi sampai saat ini, kata Rahma, kondisi global diperburuk konflik AS-Iran yang dapat mengganggu mata rantai pasok energi melalui Selat Hormuz, sehingga mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Selain itu, Guru besar Ekonomi Universitas Airlangga ini, menilai pengunduran diri Perry Warjiyo bisa membawa dampak psikologis, dan meningkatkan votalitas jangka pendek di pasar keuangan. Mulai dari nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun Surat Berharga Negara (SBN).

“Pelaku pasar kemungkinan akan mengambil sikap wait and see mencermati arah kebijakan moneter dari pergantian pimpinan BI yang baru,” ujarnya.

Penunjukan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubenur BI, menurut Rahma, dinilai penting untuk menjaga kesinambungan kebijakan.

Sementara itu pihak Istana mengatakan bahwa Perry mundur dari BI karena alasan pribadi. “Surat pengunduran diri Perry menjelaskan seperti itu. Tidak ada tekanan dari Istana. Tidak ada alasan karena kesehatan,” kata Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara kepada wartawan di Gedung BI Jakarta, Senin (27/7/2026).

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Upah Minimum 2021 Ditetapkan Tidak Naik, Sama Seperti 2020

adminJ9

Ridho Rhoma Bebas dari Penjara Saat Idul Fitri, Keluarga Tak Ada yang Jemput

adminJ9

MenKopUKM Dorong KSU-GT Al Barokah Scalling-Up Kelola 1000 Hektar Lahan Beras Organik

adminJ9

Leave a Comment