Jurnal9.com
HeadlineLifeStyle

Duduk Terlalu Lama, Bisa Berisiko Penyakit Jantung

Ilustrasi: seorang pekerja yang duduk terlalu lama mengalami gangguan jantung

JAKARTA, jurnal9.com – Orang yang duduk terlalu lama, kurang bergerak atau ‘mager’ (malas bergerak) bisa berisiko pada gangguan jantung (sakit jantung), terutama mengalami gagal jantung dan kematian akibat kardiovaskular.

Demikian hasil studi yang dilakukan peneliti dari Mass General Bringham, sebuah sistem layanan kesehatan terbesar di Amerika Serikat (AS).

Temuan ini kemudian dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology.

“Kami melakukan analisis setiap orang di Inggris selama satu minggu. Dan hasilnya sebanyak 89.530 orang yang duduk terlalu lama, dan kurang bergerak, ditemukan mereka mengalami gangguan penyakit kardiovaskular, seperti fibrilasi atrium, serangan jantung, gagal jantung dan berisiko kematian,” kata Ezimamaka Ajufi, peneliti utama itu.

Mereka yang terkena sakit jantung dan kematian kardiovaskular, lanjut dia, berisiko 40-60 persen lebih besar terjadi karena mereka berperilaku tidak sehat: malas bergerak dan lebih sering duduk terlalu lama; lebih 10,6 jam sehari.

“Mereka berisiko sakit jantung, meskipun telah melakukan aktivitas fisik sedang hingga berat, selama lebih dari 150 menit per minggu,” ia menjelaskan lagi.

Bahkan dari temuan itu, tegas Ajufi, mereka juga melakukan gerakan olah raga  meski sekadarnya (tidak rutin), tapi rupanya olahraga yang tidak rutin itu tidak cukup untuk menangkal efek buruk perilaku kurang bergerak atau duduk yang terlalu lama.

Peneliti lain, Shaan Khurshid, memberikan pendapatnya:  lebih setuju mengurangi waktu duduknya (tidak terlalu lama) daripada berolahraga sekadarnya. Ini sebagai perbandingan efek buruk duduk terlalu lama itu, ternyata lebih berisiko kena gangguan jantung, serangan jantung dan kematian akibat kardiovaskular.

“Temuan dari hasil studi ini memang cukup mengejutkan banyak orang. Ternyata orang duduk terlalu lama itu sangat berisiko gangguan penyakit jantung,” cetus Khurshid menegaskan.

Baca lagi  Pariwisata di Bali Terapkan QRIS untuk Dukung Kehidupan New Normal

“Ini pentingnya hasil studi yang bisa menjadi pedoman upaya kesehatan bagi masyarakat. Sehingga mereka berupaya dapat mengurangi waktu duduk yang terlalu lama, guna menjaga kesehatan jantungnya,” lanjut dia.

Karena selama ini mereka yang bekerja di kantor, bank, dan perusahaan besar, kata dia, tidak memperhatikan risiko duduk yang terlalu lama. “Dengan hasil studi ini, sebaiknya mereka bisa mengurangi waktu duduknya jangan terlalu lama. Bisa diimbangi dengan banyak bergerak, berjalan kaki, di ruang tempat kerjanya, setelah duduk bekerja,” ujarnya.

RAFIKI ANUGERAHA M       

Related posts

Gus Yaqut Tak Ingin Agama Dijadikan Alat Politik Menentang Pemerintah dan Rebut Kekuasaan

adminJ9

Kasus Virus Corona di Arab Saudi Tembus 200.000 orang

adminJ9

PKS, Demokrat, dan NasDem Masih Berbeda Pandangan Soal Cawapres Anies

adminJ9

Leave a Comment