Presiden Prabowo Subianto saat berpidato sambil berjoget gemoy
JAKARTA, jurnal9.com – Presiden Prabowo Subianto menyindir ada orang pintar yang menuduh dirinya berbohong soal swasembada pangan yang berhasil dicapai pemerintahannya dalam satu tahun.
“Ada orang pintar yang mengejek saya. Kalau saya presiden yang berbohong kepada rakyat. Karena pemerintahan saya menyatakan berhasil swasembada pangan dalam waktu satu tahun. Tapi orang pintar ini nggak percaya,” sindir presiden dalam pidatonya usai launching Biodiesel B50 di kawasan Industri Karawang, Kamis (9/7/2026).
“Setelah saya dilantik jadi presiden. Dalam pemerintahan saya, menjanjikan kalau Indonesia bisa mencapai swasembada pangan dalam waktu 4-5 tahun. Ternyata baru satu tahun, sudah berhasil swasembada pangan. Tapi sejumlah pakar atau orang pintar meragukan hal itu,” kata Presiden Prabowo.
Bahkan orang pintar ini, lanjut presiden, menyebut Indonesia belum swasembada pangan sampai sekarang.
“Berdosa pemerintah berbohong kepada rakyat. Presidennya yang berbohong kepada rakyat, ini berarti telah berkhianat. Seperti itu orang pintar ini menuduh saya,” ucap Presiden Prabowo mengutip kritik orang pintar itu.
Orang pintar yang dimaksud Presiden Prabowo, yaitu Feri Amsari. Pakar hukum tata negara dari Universitas Andalas, Sumatera Barat, ini menuding Presiden Prabowo membohongi publik dengan mengklaim pemerintahannya berhasil swasembada.
“Indonesia sampai sekarang belum swasembada pangan. Pemerintahan Prabowo membohongi rakyat, kalau Indonesia sudah swasembada pangan,” tegas Feri Amsari.
“Bahkan pemerintah mengklaim produksi beras nasional mengalami surplus sampai 4 juta ton. Tapi aneh kan, bilangnya surplus, malah harga beras mahal. Coba cek aja harga beras di pasar-pasar,” sindirnya.
Ketika Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Indonesia pada 2025 mencatat produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton. Dibandingkan tahun sebelumnya, meningkat sekitar 4,07 juta ton.
Produksi padi mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling, dengan luas panen 11,32 juta hektar. Adapun kebutuhan nasional sekitar 30 hingga 31 juta ton. Berarti Indonesia berada dalam posisi surplus sekitar 3-4 juta ton beras.
Sedangkan cadangan beras pemerintah mencapai 4,2 juta ton pada 2025. Angka ini tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. “Ini merupakan indikator paling kongkrit, kalau sistem pangan nasional berada dalam kondisi yang sangat kuat,” sebut BPS.
Berbeda pendapat dengan Prof. Hasil Sembiring, yang mengkritik Feri Amsari terlalu normatif dalam melihat persoalan hukum pangan. “Kritik Feri Amsari yang tidak didukung data angka ini, bukan sekadar keliru. Tapi berbahaya karena narasinya bisa melemahkan kepercayaan publik terhadap pencapaian strategis nasional,” ujarnya.
“Ini bukan kritik akademik. Ini narasi yang arahnya identik dengan kepentingan mafia pangan. Mereka itu selalu merendahkan pencapaian bangsa sendiri tanpa dasar yang jelas,” kata pengamat pertanian ini menegaskan.
Bahkan dia menilai cara berpikir Feri Amsari ini tidak sesuai standar akademik. “Kritik yang keras tanpa basis data, tanpa rujukan ilmiah, dan minim pemahaman kondisi lapangan, justru bisa mengaburkan fakta di ruang publik,” ungkap Hasil Sembiring kepada wartawan.
“Ada orang pikirannya kotor. Menolak data resmi negara, dan lembaga internasional, kita bertanya: ini akademisi atau justru sedang memainkan agenda tertentu? Narasi seperti ini tidak bisa dipandang netral,” lanjut dia.
ARIEF RAHMAN MEDIA
