
Masyarakat di New York melakukan unjuk rasa memprotes kebijakan Donald Trump dalam perang di Timur Tengah (foto: shutterstock)
WASHINGTON DC, jurnal9.com – Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata untuk menghentikan perang selama dua minggu. Usai mengumumkan kesepakatan itu. Kemudian kedua negara tersebut saling mengklaim negaranya memenangkan perang selama 12 hari: sejak 28 Februari – 11 Maret 2026.
Seperti The New York Times mengutip pernyataan Dewan Keamanan Nasional Iran menyampaikan selamat kepada seluruh rakyatnya atas kemenangan perang melawan AS-Israel.
“Ini diwujudkan kesediaan AS membahas dan menyetujui 10 poin yang diajukan Iran,” ungkap pejabat Iran itu.
Salah satunya Iran tetap akan mengenakan biaya pada setiap kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz. Dana ini akan digunakan Iran untuk rekonstruksi akibat perang.
Ini salah satu dari 10 poin yang disetujui AS. “Iran bakal memperoleh banyak cuan dari kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz,” ucap Presiden AS Donald Trump.
Dan pejabat Iran mengatakan yang minta untuk menghentikan perang ini adalah Trump. Bukan dari pihak Iran. “Kami sendiri sebenarnya menolak untuk gencatan senjata. Tapi AS memaksa untuk minta dihentikan perang ini,” tegas pejabat Dewan Keamanan Nasional Iran itu.
“Ini menunjukkan kalau Iran masih punya kemampuan untuk bertahan melawan musuh,” ujarnya lagi.
Namun Trump tak mau kalah juga mengklaim AS memenangkan peperangan ini dengan kekuatan militer yang luar biasa.
Perang ini menewaskan sedikitnya 1.870 orang. Belum termasuk yang menderita luka-luka. Korban jiwa paling banyak berada di Iran. Namun tak dijelaskan secara rinci jumlah korban jiwa dari pihak Iran maupun kubu AS-Israel.
Trump menyebutkan negaranya memiliki militer dan persenjataan paling canggih di dunia. Tak ada negara lain yang bisa menandingi AS.
Tetapi tidak semua pihak sepakat dengan klaim kemenangan yang disampaikan Trump ini.
Seperti pembawa acara di CNN, Erin Burnett tidak sepakat dengan klaim AS. Ia menilai Trump sebelumnya mengancam kalau seluruh peradaban Iran akan mati malam ini dan tidak akan pernah kembali. Kalau dibombardir tentara AS.
“Ucapan Trump itu mengerikan dan tidak dapat diterima – yang beberapa saat sebelumnya mengancam Iran. Dan itu tidak terbukti. Bahkan ucapan itu ditarik kembali oleh Trump,” ungkap Burnett.
“Begitu pun janji-janji Trump akan menghancurkan Iran agar kembali ke zaman batu, semuanya bualan belaka. Omong besar. Tidak ada bukti,” lanjut pembawa acara CNN itu mengingatkan kembali Presiden AS.
Bahkan AS yang mengajukan lebih dulu kepada Iran agar segera melakukan genjata senjata untuk menghentikan perang ini. “Ini menunjukkan AS kalah dalam berperang melawan Iran. Padahal Iran sendiri menyatakan tidak ingin mengakhiri perang dengan AS yang mengeroyok bersama Israel itu,” ungkap dia lagi.
Pernyataan media CNN itu membuat Trump marah. Presiden Trump melontarkan ancaman kepada CNN setelah menyebut Iran mengalami ‘kemenangan besar’ atas Amerika Serikat.
Melalui platform Truth Social pada Selasa (7/4/2026), Trump menuding CNN telah menyebarkan informasi bohong kepada publik.
“Pernyataan yang dirilis CNN World News itu adalah berita bohong,” tulis Trump.
“Pernyataan berita bohong itu dikaitkan dengan apa yang ditulis situs di Negeria. Tentu saja siaran itu diambil dari CNN yang menyebarkan berita bohong.” lanjut Presiden AS itu.
Trump minta kepada CNN agar menarik berita bohong itu. Dan segera meminta maaf. “Kalau tidak dilakukan. Gedung Putih akan melakukan penyelidikan terhadap CNN.”
“Pihak berwenang sedang berupaya akan menetapkan jika pemberitaan itu merupakan kejahatan yang dilakukan CNN. Ini suatu ulah yang nakal dan buruk,” tulis Trump.
Netanyahu juga dikecam
Sementara itu Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu juga tak luput dari hujatan dan serangan politik dari para tokoh oposisi di negaranya.
“Pemerintah Israel dianggap gagal dalam mencapai tujuan perang dengan Iran. Apalagi kini AS yang melakukan perundingan gencatan senjata dengan Iran, pihak Israel tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan itu,” tulis pimpinan oposisi Israel, Yair Lapid, di platform X seperti dukutip AFP pada Rabu (8/4/2026).
“Tidak pernah ada bencana politik seperti dalam sejarah kami ini. Israel tidak ikut terlibat dalam perundingan AS membuat keputusan yang menyangkut keamanan nasional negara kami,” lanjutnya lagi.
“Dan membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi kami untuk memperbaiki kerusakan politik dan strategis yang disebabkan kelakuan jahat dan kesombongan Netanyahu,” kata Yair Lapid.
ARIEF RAHMAN MEDIA
