Jurnal9.com
HeadlineLifeStyle

4 Aspek ini Harus Dilakukan Selama Pasien Covid Jalani Isolasi Mandiri

Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) yang juga Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, dr. Arief Bakhtiar, Sp.P.

SURABAYA, jurnal9.com – Melonjaknya jumlah pasien positif covid mengakibatkan sejumlah rumah sakit rujukan di berbagai daerah di seluruh Indonesia penuh tak mampu menampungnya. Sehingga terpaksa banyak pasien yang terpaksa menjalani isolasi mandiri (isoman).

Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) yang juga Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) dr. Arief Bakhtiar, Sp.P. mengingatkan isolasi mandiri setidaknya ada empat aspek yang harus diperhatikan agar kondisi bisa tetap stabil.

Isolasi mandiri dilakukan selama 7 sampai 10 hari untuk mereka yang tidak bergejala. Tapi untuk mereka yang bergejala ringan harus isolasi mandiri selama 14 hari dengan catatan 3 hari terakhir sudah tidak ada gejala yang muncul.

“Selama isolasi mandiri ini ada empat aspek yang harus diperhatikan,” ujarnya di Surabaya, Kamis (15/7/2021).

Rutin evaluasi

Arief menjelaskan bahwa evaluasi sangat penting dilakukan selama menjalani isoman. Evaluasi dapat dilakukan dengan memantau suhu badan, dan rutin mengukur saturasi oksigen pada pasien.

“Jika dalam 2 sampai 3 hari kedepan gejalanya semakin memburuk, ya isolasi mandirinya jangan dilanjutkan, segera ke rumah sakit,” tegas Arief.

Sediakan fasilitas mumpuni

Selanjutnya  agar tempat tinggal atau rumah dalam kondisi mumpuni selama isoman. Setidaknya ada kamar tersendiri bagi pasien isoman.

“Lebih baik lagi jika ada 2 kamar mandi, sehingga salah satunya dapat digunakan khusus untuk pasien yang sakit,” tuturnya.

Selain itu, kata Arief, idealnya ruang isoman memiliki ventilasi yang baik seperti jendela. Sedangkan ruangan tertutup ber-AC akan semakin menambah konsentrasi virus di udara.

Terapkan prokes

Selama masa isolasi mandiri semua anggota rumah wajib menjalankan prokes dengan ketat. Termasuk selalu memakai masker.

Baca lagi  Waduh! Nikita Mirzani Terancam 12 Tahun Penjara? Dan Denda Rp12 Miliar, Hotman Paris: Pasal Apa?

Selain masker, disinfeksi juga perlu dilakukan pada tempat-tempat yang sering disentuh, seperti pintu; pagar; dan meja. Dan kalau makan lebih baik diantar makanannya, serta alat yang digunakan untuk makan hanya sekali pakai.

Jika pasien yang menjalani isoman; orang tua, menurut Arief, maka perlu yang melakukan perawatan itu orang lain. Ia menyarankan agar orang yang merawat itu kondisinya betul-betul sehat.

“Karena si perawat ini sudah termasuk dalam orang-orang yang [melakukan] kontak langsung, maka harus menjalani proses isolasi juga,” tekannya.

Kontak tenaga medis

Terakhir, sebelum isoman, pastikan keluarga pasien memiliki kontak dengan tenaga medis atau fasilitas kesehatan. Tujuannya jika sewaktu-waktu keadaan pasien memburuk, pihak keluarga bisa melakukan konsultasi dengan pihak medis.

Di sisi lain, Arief mengatakan, isoman bukan berarti benar-benar terisolasi. Tapi tatap muka dengan anggota keluarga masih bisa dilakukan. Namun jaraknya harus tetap berjauhan minimal 2 meter.

“Penting untuk disadari bahwa jangan memaksakan isoman. Jika terjadi kondisi makin memburuk harus dibawa ke rumah sakit atau usahakan ada pertolongan dari pihak medis,” tegas dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga, Surabaya ini.

RAFIKA ANUGERAHA M   

Related posts

Akhirnya Kasus Nurhayati Dihentikan, Ini Penjelasan Kejari Cirebon

adminJ9

WHO & UNESCO: Peran Wartawan untuk Klarifikasi Berita Hoaks Soal Covid-19 di Medsos

adminJ9

Indonesia Berupaya Keras Hindari Resesi, Mengerikan Jika Sampai Terjadi

adminJ9

Leave a Comment