Jurnal9.com
Headline News

Vanuatu Suka ‘Usil’ Mengusik Indonesia, Tapi Negara ini Paling Bahagia di Dunia

Ini pelabuhan Vila, kota di negara Vanuatu

JENEWA, jurnal9.com – Perdana Menteri Republik Vanuatu, Bob Loughman dalam Sidang Majelis Umum PBB lagi-lagi mengusik isu pelanggaran HAM di Papua. Diplomat Indonesia, Silvany Austin Pasaribu, langsung bereaksi cepat membantah isu itu lewat hak jawabnya.

“Saya bingung, bagaimana bisa sebuah negara berusaha mengajarkan negara lain, tapi tidak mengindahkan dan memahami keseluruhan prinsip fundamental Piagam PBB,” kata Diplomat perwakilan Indonesia itu dalam pidatonya di akun Youtube PBB, Minggu (27/9).

Diplomat Indonesia, Silvany Austin Pasaribu

Silvany kemudian membantah tuduhan Perdana Menteri Vanuatu; ini memalukan. Sebuah negara kecil, Kepulauan Vanuatu yang terletak di sebelah Timur Australia itu terlalu ikut campur dengan urusan Indonesia. Dan bukan sekali ini saja negara Vanuatu mengusik isu HAM di Papua, tapi sudah berkali-kali. Sampai dibilang negara Vanuatu ini suka ‘usil’ dengan Indonesia.

“Ini memalukan, suatu negara memiliki obsesi tidak sehat, dan berlebihan mencampuri urusan Indonesia, semestinya bertindak atau memerintah dirinya sendiri,” ujarnya.

Silvany juga meminta negara kepulauan Vanuatu untuk menjalankan terlebih dahulu apa yang tercantum dalam Piagam PBB. “Sebelum hal itu dilakukan, tolong jangan menceramahi negara lain,” ungkap Silvany dengan suara lantang.

 

 

Negara kepulauan Vanuatu itu di mana?  Mungkin masih banyak orang yang belum tahu, negara Republik Vanuatu yang sering mengusik Indonesia ini terletak di benua mana?

Negara Vanuatu adalah negara kepulauan di Samudera Pasifik bagian selatan. Terletak di sebelah timur Australia, timur laut Kaledonia Baru, sebelah Barat Fiji dan Selatan Kepulauan Solomon.

Vanuatu dihuni oleh bangsa Melanesia, sejenis etnis orang Papua. Negara di kepulauan Pasifik yang dikenal rentan terhadap bencana alam ini, seperti disebutkan BBC, Vanuatu termasuk salah satu negara paling bahagia di dunia.

Vanuatu disebut negara kepulauan, karena terdiri lebih dari 80 pulau yang tersebar sekitar 2.000 kilometer sebelah timur Australia.

Menurut Indeks Happy Planet, Vanuatu berada di peringkat empat besar negara paling bahagia di dunia.

Baca lagi  KRI Nanggala 402 yang Tenggelam di Perairan Bali Ditemukan, 53 Awaknya Gugur

Peringkat tersebut didasarkan pertimbangan tingkat kesejahteraan, usia harapan hidup, dan kesetaraan suatu negara, didukung keberlangsungan lingkungannya.

Sejak kemerdekaannya dari negara Prancis dan Inggris pada 1980, semua tanah di Vanuatu dimiliki penduduk asli ‘ni-Vanuatu’. Dan semua tanah di bumi Vanuatu tidak dapat dijual kepada orang asing.

Sebuah survei Biro Statistik Nasional Vanuatu (VNSO) pada 2011 mengindikasikan bahwa orang-orang penduduk asli Vanuatu yang memiliki hak kepemilikan tanah sejak kemerdekaannya dari Prancis dan Inggris, rata-rata penduduknya merasa lebih bahagia daripada mereka yang tidak memilikinya.

‘Orang-orang yang memiliki hak kepemilikan atas tanah, rata-rata, lebih bahagia daripada mereka yang tidak memilikinya’.

Saat ini, sekitar tiga perempat dari 298.000 penduduk di negara itu tinggal di daerah pedesaan, dan mayoritas penduduk Pulau Vanuatu memiliki akses ke tanah mereka yang hidup dengan bercocok tanam.

Pemimpin etnis Kalulu Taripoawia, mengatakan bahwa kehidupan penduduk asli Vanuatu dalam tradisinya, mereka bekerja di ladang sejak kecil.

“Tradisi hidup sebagai petani itu yang membuat kami bisa makan, dan kami bahagia karena menggarap lahan kami sendiri,” ujarnya.

Novelis Vanuatu, Marcel Merthelorong, mengatakan penduduk asli Vanuatu sangat menghargai lingkungan.

“Kebahagiaan kami karena bisa menghargai lingkungan, bagaimana kami mengelola lahan dan air di desa kami sendiri,” ujarnya.

Survei mengenai pekerjaan penduduk Vanuatu, mereka bekerja di ladang sawah atau kebun, menemukan barang-barang seperti babi, ubi dan kava (sejenis tanaman lada) jenis tanaman di Pasifik Selatan. Mereka bekerja pergi ke ladang sebagai petani ini membuat hidupnya bahagia. Hasil pertanian di Vanuatu mudah diakses dan ditukar tanpa uang.

Seorang seniman Vanuatu, Sero Kuatonga, mengatakan penduduk asli Vanuatu tidak memandang uang sebagai alat tukar untuk membeli barang seperti di negara-negara lain.

“Kami tidak terlalu bergantung pada uang, seperti orang-orang di negara-negara lain,” ujarnya.

“Karena ketika uang mereka habis, mereka akan stres,” ujarnya.

Sumber: BBC/Reuters

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

PPKM Level 2-4 Jawa-Bali Diperpanjang 31 Agustus – 6 September

adminJ9

Ekonomi Hong Kong Resesi, Terkontraksi 4 Kuartal Berturut-turut Terpukul Pandemi

adminJ9

Tim Merah Putih Lolos Secara Dramatis Ke Divisi Utama Olimpiade

adminJ9