Jurnal9.com
Business Headline

Survei McKinsey Menyebutkan Ekonomi Indonesia Diprediksi Cepat Pulih

Ketua Umum Kadin, Rosan P Roeslani

Survei oleh McKinsey menunjukkan pemerintah dengan berbagai stimulus ekonominya untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional telah dapat meyakinkan masyarakat Indonesia optimis ekonomi Indonesia bakal segera pulih usai pandemi. 

JAKARTA, jurnal9.com – Pandemi virus corona yang terjadi sekarang ini memberi kejutan lebih besar daripada krisis keuangan global 2008, di mana virus yang menginfeksi 16,6 juta orang di dunia ini telah merusak perekonomian Indonesia, bahkan seluruh negara.

Namun dengan berbagai kebijakan dan stimulus ekonomi yang dilakukan pemerintah, menurut survei McKinsey, Indonesia digadang-gadang menjadi salah satu negara dengan pemulihan ekonomi tercepat setelah China pada 2021.

Dalam survei McKinsey itu menyebutkan bahwa warga Indonesia cenderung optimistis bahwa perekonomian bakal segera pulih usai pandemi.

“Walaupun tekanan covid-19 berat, ternyata Indonesia menjadi salah satu negara yang optimis akan pulih. Ini menjadi salah satu modal untuk menghadapi covid-19, ” ujar Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P. Roeslani dalam Mid-Year Economic Outlook 2020, Selasa (28/7/2020).

Dengan sejumlah kebijakan yang tepat, Rosan meyakini sejumlah sektor penopang kontribusi produk domestik bruto (PDB) dan penyerap tenaga kerja dapat ditingkatkan meski tertekan selama pandemi covid-19.

Sektor industri berkontribusi sebesar 19,98 persen terhadap struktur PDB dan menyerap tenaga kerja mencapai 14,09 persen, serta sektor  perdagangan yang berkontribusi terhadap PDB mencapai 13,2 persen dan menyerap tenaga kerja 18,63 persen.

Meski kontribusi perdagangan terbilang besar, tekanan justru datang dari perdagangan internasional. Rosan mencatat 6 dari 10 negara mitra dagang utama Indonesia telah memasuki fase resesi. Kondisi ini menurut Rosan bakal mempengaruhi kinerja perdagangan Indonesia pada waktu mendatang.

“Kita lihat penurunan perdagangan Indonesia dengan mitra terbesar, turun sampai 11,25 persen. Menurut WTO, nilai perdagangan global bahkan bisa turun 13 persen sampai 32 persen. Perdagangan akan menghadapi tantangan yang besar dengan kondisi ini,” lanjutnya.

Baca lagi  Jika Vaksin Belum Halal, Keadaan Darurat Tak Ada Solusi, Boleh Digunakan Sesuai Fatwa MUI

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri

Meski mayoritas mitra dagang terbesar Indonesia mengalami resesi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri menyatakan bahwa nilai perdagangan dengan beberapa negara justru mengalami kenaikan.

Berdasarkan data yang dihimpun Kemendag, ekspor ke Amerika Serikat selama Januari-Juni 2020 mencapai US$8,6 miliar atau naik 1,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Padahal negara tersebut diperkirakan bakal memasuki resesi dengan penurunan sampai dua digit pada kuartal II/2020.

“Penurunan terbesar memang terjadi pada ekspor ke Malaysia dan India yang masing-masing sampai 20 persen dan 16,8 persen. Namun penurunan ekspor ke Singapura dan Jepang tidak sedalam itu,” ungkap Kasan.

Dengan beragamnya performa dagang di setiap mitra utama, Kasan menjelaskan bahwa Kemendag bakal menggunakan sejumlah pendekatan untuk menyikapi tantangan covid-19.

Pendekatan pertama mencakup strategi jangka pendek yang berorientasi pada jenis-jenis produk yang masih membukukan pertumbuhan ekspor selama pandemi, produk yang diprediksi pulih permintaannya seiring kembali aktifnya industri berbasis rantai pasok global, serta produk baru yang akan muncul sebagai inovasi usai pandemi maupun produk yang muncul akibat relokasi industri.

“Sementara pendekatan pasar akan berfokus pada negara yang penanganan wabahnya baik dan informasinya kami peroleh dari perwakilan dagang,” lanjutnya.

Dia pun membeberkan strategi jangka panjang yang bakal dijalankan oleh Kemendag guna mengamankan pasar. Salah satunya lewat penyelesaian perundingan perdagangan demi memulihkan posisi produk Indonesia sebagai market power di negara tujuan.

“Kami juga mendorong pelaku usaha dan lembaga terkait untuk memanfaatkan perjanjian dagang yang telah selesai dan dilegalisasi. Perjanjian ini bakal memberi akses pasar yang lebih besar bagi Indonesia,” tutur Kasan.

AREIF RAHMAN MEDIA

Related posts

LPDB KUMKM Berpotensi Gulirkan Dana untuk Koperasi Ternak di Lampung

adminJ9

Menkeu: Pemerintah Bentuk “Holding” untuk Dukung Ekosistem Ultramikro

adminJ9

Factory Sharing Solusi UMKM Atasi Masalah Bahan Baku dan Teknologi

adminJ9