Jurnal9.com
Business Headline

Spanyol, Prancis, dan Jerman Resesi, Ekonomi Eropa Makin Suram

Pusat perbelanjaan kota Paris, Prancis yang tutup dan sepi pengunjung akibat diberlakukan lockdown di wilayah ini.

Ekonomi 19 negara di Eropa diperkirakan bakal terkontraksi 12,1 persen. Penurunan tersebut sebagai dampak dari kebijakan karantina yang sangat ketat pada bisnis, pengeluaran konsumen, hingga terhentinya pariwisata di beberapa negara.

JAKARTA, jurnal9.com –  Ekonomi kawasan Eropa terporosok sangat dalam pada kuartal II/2020 dan diperkirakan butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa pulih.

Dari deretan negara kawasan Eropa yang mengalami resesi, Spanyol mencatat penurunan ekonomi paling dalam di kuartal II/2020, yaitu minus 18,5 persen.

Posisi kedua disusul Prancis yang mengalami penurunan ekonomi sebesar 13 persen dan Italia berada di posisi ketiga dengan penurunan sebesar 12,4 persen.

Ekonomi 19 negara di kawasan Eropa secara keseluruhan diprediksi mengalami kontraksi 12,1 persen. Penurunan tersebut sebagai dampak dari kebijakan karantina yang sangat ketat pada bisnis, pengeluaran konsumen, hingga pariwisata di beberapa negara yang terhenti.

Krisis terparah terjadi pada sektor kesehatan di negara-negara yang ekonominya sudah terpuruk. Negara-negara ini pun sulit mengeluarkan kebijakan dan stimulus ekonomi untuk membantu dunia usaha dan rumah tangga.

Pemimpin  Uni Eropa berupaya mengatasi perbedaan tersebut dengan menyetujui adanya pinjaman bersama dan menyetujui dana penyelamatan bersejarah semilai US$889 juta.

Selain itu untuk menahan guncangan ekonomi, pemerintah nasional di kawasan Eropa memperluas anggaran untuk menghadapi krisis. European Central Bank juga meluncurkan program darurat obligasi senilai 1,35 triliun euro.

“Saya tidak berpikir siapa pun yang benar-benar realistis berpikir bahwa tingkat PDB pada akhir 2021 akan kembali ke level sebelum krisis,” kata Kepala Ekonom UniCredit Group Erik Nielsen, yang dilansir melalui Bloomberg, Jumat (31/7).

Kemerosotan ekonomi Spanyol dan Prancis di kuartal kedua dinilai menyebabkan posisi yang rentan pada kedua negara ini karena terbeban utang dan proses pemulihan ekonomi yang diperkirakan akan sangat lambat.

Baca lagi  Meski Zaman Terus Berubah, Arab Saudi Tetap Tegakkan Konstitusi Berdasarkan Alquran

Rebound di Eropa juga terancam oleh lonjakan kasus Covid-19 baru di seluruh dunia. Pemerintah di kawasan Eropa enggan kembali menerapkan lockdown. 

Di sisi lain ekonomi di kawasan ini akan sangat terpuruk jika ketakutan terhadap virus corona akan mengubah perilaku konsumen dan menghentikan orang-orang bepergian ke toko, bar, dan restoran.

Risiko besar lainnya adalah kerugian jangka panjang pada pasar tenaga kerja. Jumlah pengangguran di kawasan Eropa tercatat meningkat tinggi seiring dengan perusahaan-perusahaan yang kehilangan permintaan.

Sebelumnya, ekonomi Jerman juga menghadapi resesi dengan mencatat rekor penurunan pertumbuhan pada kuartal kedua, setelah dampak dari lockdown menghantam bisnis dan rumah tangga di seluruh Eropa.

Ekonomi Jerman mengalami kontraksi -10,1 persen. Sebelumnya, ekonomi negara tersebut telah terperosok -2,2 persen pada kuartal I/2020. Kontraksi sebesar -10,1 persen tercatat sebagai kontraksi terbesar secara triwulanan sejak tahun 1970.

Dikutip dari Bloomberg, sumber kontraksi ekonomi Jerman dipicu oleh penurunan ekspor, pengeluaran konsumen dan investasi.

Juga tingkat pengangguran yang tinggi menjadi risiko yang akan mengancam pemulihan ekonomi Jerman ke depannya.

Kecepatan rebound ekonomi negara ini akan bergantung pada kemanjuran dari stimulus 130 miliar euro atau US$153 miliar yang disepakati pada Juni lalu.

Cuma adanya kekhawatiran gelombang penyebaran covid-19 baru, proyeksi pemulihan ekonomi semakin tidak pasti, sekalipun Uni Eropa telah mencapai kesepakatan fiskal untuk kawasan tersebut.

Ekonom DekaBank Andreas Scheuerle mengungkapkan tekanan pertumbuhan ekonomi Jerman telah menghapus pertumbuhan signifikan negara ini dalam 10 tahun terakhir.

“Sekarang ekonomi Jerman sudah resesi. Apa yang selama ini tidak mungkin terjadi sekalipun adanya pasar saham yang tumbang atau gejolak harga minyak akhirnya menjadi mungkin hanya dengan mahluk kecil berukuran 160 nanometer bernama Corona,” ujar Scheuerle, seperti dilansir The Guardian, Kamis (30/7).

ANTARA  I  ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

GDS Tingkatkan Kinerja untuk Pacu Pasar Plat Baja Domestik dan Ekspor

adminJ9

Sesama Komisi Fatwa MUI Berbeda Pendapat tentang Shalat Jumat 2 Gelombang

adminJ9

Presiden Jokowi Tak Setujui 75 Pegawai KPK Diberhentikan

adminJ9