Jurnal9.com
BusinessHeadline

Purbaya: Ketika APBN Defisit, Masyarakat Jangan Kaget, Memang Anggaran Didesain Defisit

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa rapat dengan Komisi XI DPR RI

JAKARTA, jurnal9.com – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa berterus terang bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Maret 2026 ini masih tekor (defisit) sebesar Rp 240,1 triliun. Angka ini setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit ini terjadi karena realisasi belanja negara telah melampaui pendapatan yang diperoleh pemerintah. Sampai Maret 2026 ini, pendapatan negara sebesar Rp 574,9 triliun, atau tumbuh10,5 persen secara tahunan (year on year). Sedangkan belanja negara mencapai Rp 815 triliun, atau naik 31,4 persen.

“Ketika [APBN] ada defisit, masyarakat; bapak ibu jangan kaget. Karena memang anggaran kita didesain difisit,” tegas Purbaya dalam rapat Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).

“Ada defisit APBN merupakan hal yang wajar. Besarnya defisit APBN ini sejalan dengan peningkatan realisasi belanja negara. Ini dilakukan pemerintah dalam upaya percepatan belanja guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Dan ini sudah didesain sejak awal,” lanjut Menkeu memberikan alasannya.

Dia menjelaskan pada 2026, penyerapan anggaran telah mencapai 21,2 persen. Lebih tinggi dari rata-rata penyerapan anggaran pada kuartal I yang mencapai sekitar 17 persen dari APBN.

“Saya memastikan untuk menjaga disiplin anggaran, serta menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen dari PDB,” kata Purbaya menegaskan lagi.

“Kita sangat berhati-hati dalam mempertimbangkan ini. Seperti yang saya sampaikan tadi. Kementerian dan lembaga negara telah bekerja lebih cepat. Dan ini akan memberikan kontribusi pada pertumbuhan PDB pada triwulan I 2026,” lanjutnya.

Dari sisi pendapatan negara, kata Menkeu, ditopang dari penerimaan pajak sebesar Rp 394,8 triliun atau tumbuh 20,7 persen. Kemudian dari kepabeanan dan cukai sebesar Rp 67,9 triliun atau turun 12,6 persen. Dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 112,1 triliun atau mengalami penurunan 3 persen.

Baca lagi  MenkopUKM Dukung Inovasi Korporatisasi Peternak Domba di Garut

Dari sisi belanja sebesar Rp 815 triliun itu terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 610,3 triliun. Anggaran belanja ini mengalami kenaikan signifikan 47,7 persen. Kemudian untuk transfer ke daerah sebesar Rp 204,8 triliun. Turun 1,1 persen.

Purbaya menyebutkan melonjaknya belanja negara ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat distribusi anggaran sejak awal tahun.

“Kalau ada yang bertanya, kenapa sekarang belanja negara lebih cepat? Pemerintah ingin belanja negara ini berdampak pada ekonomi yang signifikan yang bisa dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Purbaya yakin dengan strategi percepatan belanja ini bisa menunjukkan hasil yang positif bagi perkonomian nasional. Dan strategi ini mulai berhasil.

“Ini dilakukan pemerintah dalam upaya percepatan belanja guna mendorong pertumbuhan ekonomi,” ia menegaskan lagi.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Pegi, Pelaku Pembunuh Vina Cirebon Sudah Ditangkap, Ini Wajahnya

adminJ9

Ridwan Kamil: Kalau Mau Menjadi Pemimpin, Jangan Punya Niat Mencari Nafkah

adminJ9

Jokowi Boleh Maju Jadi Cawapres, Apakah ini Skenario untuk Memajukan Puan Maharani?

adminJ9

Leave a Comment