
Presiden AS Donald Trump berpidato di depan massanya
WASHINGTON DC, jurnal9.com – Meskipun Presiden AS Donald Trump berkali-kali mengklaim serangan militer AS telah behasil melumpuhkan kekuatan tempur dan infrastruktur nuklir Iran, namun hasil jajak pendapat sebanyak 78% publik Amerika Serikat (AS) tidak mempercayai lagi omongan Trump.
Justru lebih dari 60% publik AS menilai kekuatan Iran masih kuat seperti sebelum perang dimulai.
Bahkan pernyataan internal partai pendukung Trump yang percaya bahwa pemerintahannya memenangkan perang ini, mendapat kritikan justru AS dinyatakan gagal dalam perang ini.
Alasannya target utama Trump menyerang Iran untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran dengan tujuan segera menghentikan program nuklirnya ternyata gagal total.
Sentimen negatif publik ini sejalan dengan hasil survei Fox News pada Juni yang menunjukkan 64% sangsi kalau Iran akan berhenti memproduksi senjata nuklir.
Padahal tujuan utama Trump untuk menghentikan program nuklir Iran itu sudah digaungkan sejak awal tahun ini.
Melihat ambisi Trump ingin menunjukkan kekuatan militer AS untuk menghancurkan nuklir Iran dalam waktu hitungan dua minggu, ternyata prediksi ini meleset. Malah kini sudah hampir empat bulan terus berperang tanpa hasil.
Prediksi Trump yang meremehkan dan bisa melumpuhkan Iran, dinilai publik AS sebuah kebodohan presiden yang gagal besar melakukan perang di Timur Tengah. Karena ternyata Iran buktinya masih mampu menyerang dan menghancurkan sejumlah pangkalan AS di berbagai negara teluk.
“Sekarang publik AS sudah jenuh melihat ulah Trump. Apalagi melihat kegagalan militer AS berperang, mereka ingin agar Trump segera menghentikan kebijakan perangnya,” tulis Fox News, Selasa kemarin.
Berdasarkan jajak pendapat terkini, sebanyak 78% publik AS tak percaya lagi militer AS dapat menghancurkan Iran. Sehingga sekarang warga AS mendesak agar Trump segera mengakhiri perang di Timur Tengah.
Tak boleh ada alasan lagi Trump selalu mengklaim semua insfrastruktur nuklir Iran sudah lumpuh. Sehingga AS beralasan mengambil inisiatif untuk mengakhiri perang dengan Iran. Pernyataan itu jangan diulang-ulang untuk kesepakatan damai.
Dari hasil jajak pendapat itu, dua pertiga warga AS menyimpulkan bahwa Trump melakukan kesepakatan damai karena merasa target utamanya untuk menghancurkan insfrastruktur nuklir Iran gagal. Sehingga Trump sudah frustrasi dan ingin berdamai dengan Iran.
“Namun kesepakatan damai yang kini diteken pemerintahan AS dengan Iran, memunculkan sentimen negatif dari publik AS. Mereka menganggap langkah ini menunjukkan bukti sebuah kekalahan strategis AS,” lanjut tulis Fox News.
Apalagi isi perjanjian tersebut, hanya 22% publik AS merasa kesepakatan itu menguntungkan AS. Sebaliknya 37% menganggap kesepakatan itu lebih menguntungkan Iran. Dan 41% kesepakatan itu dianggap berimbang.
Bahkan publik AS menilai ambisi Trump memilih berperang dengan menyerang Iran, dianggap tidak memahami dampak ekonomi secara masif akibat perang ini.
Akibat kebijakan perang Trump itu sebanyak 51% mereka menganggap presiden bodoh yang gegabah berperang, sehingga tidak tahu dampak buruknya terhadap ekonomi dunia.
“Presiden AS itu tidak mengira kalau Iran yang berani menutup Selat Hormuz itu sangat berdampak buruk pada ekonomi dunia,” sebut hasil jajak pendapat itu memberikan alasannya.
ARIEF RAHMAN MEDIA
