
KH. Bahauddin Nursalim atau akrab dipanggil Gus Baha
JAKARTA, jurnal9.com – Al-Quran menyebutkan Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Lalu kapan waktunya. Ini jadi misteri yang belum banyak diketahui semua orang.
Penentuan waktu ini, menurut KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, sejumlah ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu Lailatul Qadar itu.
“Sebagian ulama menyebutkan Nuzulul Quran pada malam 17 Ramadhan adalah Lailatul Qadar. Kalau itu disepakati para ulama, berarti sudah selesai. Jadi nggak usah bikin kontroversi lagi; mencari kapan waktunya Lailatul Qadar,” ujarnya.
“Dan kamu jangan lagi bertanya kapan waktunya Lailatul Qadar. Nabi menyuruh umatnya agar mencari di 10 akhir ramadhan. Ada ulama yang menafsirkan 10 + 10: berarti mulai malam 21 Ramadhan,” kata Gus Baha menegaskan.
Nuzulul Quran memang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Karena tanggal itu sudah menjadi kesepakatan ulama.
“Kalau dalam keyakinan saya, apa yang disebutkan Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan itu, ya sudah jalani saja, yakin pasti dapat,” ungkapnya.
Gus Baha mengutip kisah Nabi Muhammad yang bercerita tentang Nabi Nuh yang berumur 950 tahun. Kemudian Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lainnya yang juga berumur panjang.
Melihat kisah itu, kemudian Nabi Muhammad merasa resah dengan usia umatnya yang tergolong pendek. Lalu Allah SWT merespon keresahan Nabi Muhammad dengan memberi bonus melalui Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan 1000 bulan.
“Nabi Muhammad ingin umatnya yang berumur pendek, bisa beramal yang pahalanya sampai seribu bulan. Hitungan seribu bulan itu setara dengan 83 tahun lebih,” tuturnya.
Kalau melihat riwayat itu, berarti umat Nabi Muhammad bisa berlomba-lomba untuk mengisi Ramadhan dengan banyak beribadah.
“Kalau saya biasanya memulai sejak memasuki malam 11 Ramadhan. Tapi pada umumnya; orang-orang memulai malam ganjil itu dari malam 21, malam 23 Ramadhan,” cetusnya.
Padahal dalam Al-Quran, kata kiai asal Rembang ini, petunjuk tentang Lailatul Qadar itu tidak disebutkan tanggalnya.
“(Beberapa hari yang ditentukan itu) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran.” [QS Al-Baqarah: 185]
Ia menjelaskan ayat tersebut masih bermakna umum. Tidak menyebutkan tanggal tertentu. Tak heran bila ada ulama yang berpendapat: Lailatul Qadar bisa dimulai sejak tanggal 1 Ramadhan.
“Kalau kamu mencari [Lailatul Qadar] mulai tanggal 21 Ramadhan, kata malaikat: Lho kok baru mencari sekarang? Berarti kamu dianggap pemula. Orang lain sudah mulai, dan sudah dapat, kamu kok baru mencarinya?,” ucap kiai yang hapal Al-Quran ini.
“Saya dari tanggal 1 Ramadhan, sudah baca kitab Arbain Nawawi khatam. Baca Al-Quran juga khatam. Saya juga sudah berdoa mohon maghfirahnya. Jadi peluang dapat itu lebih tinggi. Kalau kamu baru mulai tanggal 21 Ramadhan, ya berarti kamu nggak sungguh-sungguh,” sindir Gus Baha pada para santrinya yang ikut ngaji.
Memang dalam hadist disebutkan Lailatul Qadar itu ada di sepuluh akhir Ramadhan. Sehingga di 10 akhir Ramadhan banyak yang berlomba-lomba memperbanyak amalan ibadah.
“Tapi banyak juga orang yang tidur saja. Karena dalam pikiran mereka: tidur saja jadi ibadah. Diam saja jadi ibadah. Sehingga mereka memilih tidur atau diam saja selama Ramadhan,” ia menyinggung orang yang tak mau berlomba-lomba mengisi bulan Ramadhan tanpa amalan ibadah.
“Padahal itu maksudnya bukan untuk mendorong orang untuk tidur atau diam saja tanpa melakukan amalan ibadah. Tapi menunjukkan kemuliaan dan besarnya pahala Ramadhan,” tegasnya.
Hadist yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi menyebutkan: “Tidurnya orang puasa adalah ibadah. Diamnya orang puasa adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.”
“Jadi memang waktu-waktu di dalam Ramadhan itu semuanya ibadah. Bayangin tidurnya saja ibadah. Bahkan menggauli istri saja saat malam hari juga ibadah. Lho ini juga ada hadistnya shahih,” Gus Baha menjelaskan tentang kemuliaan bulan Ramadhan.
Hadist yang diriwiyatkan BImam Buchori Muslim: “Tahukah kamu, jika seseorang memenuhi syahwatnya pada [waktu] yang haram, maka dia berdosa. Tapi jika seseorang memenuhi syahwatnya pada [waktu] yang halal, maka ia mendapatkan pahala.”
ARIEF RAHMAN MEDIA
