Jurnal9.com
Headline Inspiration

Kalau Berbicara Jangan Suka Janji, Jika Tak Ditepati, Hadist: Janji Adalah Utang

Dr H Sunarto AS, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam  (KPI) Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya

SURABAYA, jurnal9.com – Dr H Sunarto AS, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Pascasarjana, Universitas Islam Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, menyebutkan Ali bin Abi Thalib mendengar Nabi Muhammad mengingatkan kepada orang muslim agar kalau berbicara harus yang amanah, bisa dipercaya. Kalau ucapannya berbohong, ini termasuk perbuatan dosa besar.

Barang siapa tidak menepati janji [dalam setiap perkataannya] bagi orang muslim, niscaya ia mendapat laknat [dijauhi] Allah, malaikat, dan manusia. Dan tidak diterima taubatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kenapa nabi bilang: orang ingkar janji ini termasuk perbuatan dosa besar? Indikasinya [karena] taubatnya tidak diterima oleh Allah.

Dalam pergaulan sehari-hari, orang itu kalau ngomong suka gampang melontarkan janji. Tapi ucapannya [janji] tidak pernah ditepati. Begitu mudahnya kalau berbicara suka janji. Mungkin janji itu dianggap sepele dan tak berdosa.

Padahal dalam syariat Islam; hukumnya orang berjanji sama seperti berhutang yang harus ditepati [dibayar] utangnya. Kalau tidak ditepai janjinya, perbuatannya ini termasuk dosa besar. Maka menepati janji itu hukumnya wajib.

Dipertegas dalam Al-quran Allah menyebutkan:

إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولً

“Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabannya.” (Surat Al Isra’ ayat 34).

Kemudian penegasan janji adalah utang, dalam hadist yang diriwayatkan Abdullah bin Muhammad bin Abil Asy’at ini cukup populer, yaitu: “Alwa’du dainun : Janji adalah utang.”  

Sebab orang yang berjanji [secara lisan] itu telah membuat kesepakatan dengan orang lain. Berarti ada keterikatan transaksi [utang] dengan orang lain yang wajib dipenuhi.

Sebagaimana disebut dalam hadist yang dikutip dari kitab Ibnu Majah:  “Kaum muslimin [yang membuat janji] itu terikat dengan transaksi yang akan mereka tetapkan [dengan orang lain].” (HR. Tirmidzi).

Setelah orang itu membuat kesepakatan [janji] dengan orang lain, berarti ada transaksi yang disepakati; dalam perjanjian yang dilakukan kedua orang tersebut.

Perbuatan [membuat kesepakatan] ini bisa bikin orang lain yang dijanjiin merasa kecewa jika tak ditepati. Dan bisa juga sakit hati. Contoh saja orang yang saling mencintai, lalu salah satunya mengingkari janji, pasti orang yang diingkari merasa kecewa dan sakit hati. Dan lukanya bisa lama. Bukan soal ingkar janji cinta saja. Tapi membuat janji apa saja, kalau diingkari pasti bikin orang lain kecewa dan sakit hati.

Baca lagi  Ini Tanda dan Gejala Awal Diabetes yang Sering Tak Disadari

Ada kisah yang diceritakan Abu Hurairah R.A:  ada seorang wanita yang rajin shalatnya. Bahkan sering melakukan shalat malam dan puasa sunnah. Tapi tetangganya sering disakiti hatinya karena ucapan wanita itu [ingkar]. Lalu kata Nabi: wanita itu tidak memiliki kebaikan sama sekali. Dan dia [mendapat ancaman] akan masuk neraka.”

Dalam Alquran disebutkan:

“Dan tepatilah janji dengan Allah jika kamu berjanji. Dan janganlah kamu melanggar sumpah (mu), setelah diikrarkan. Sedang kamu menjadikan Allah sebagai saksimu [pada sumpah itu]. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Surat An Nahl ayat 91).

Kalau sudah berjanji dengan siapa pun, berarti seseorang itu sudah terikat [janji] dengan Allah dan manusia.

Maka dosa orang yang berjanji [tak ditepati] itu, selain harus mohon ampunan kepada Tuhan. Tapi juga minta maaf kepada manusia yang dijanjikan itu.

Dan Allah SWT akan melaknat (menjauhi) seorang muslim yang tak menepati janjinya. Bahkan, malaikat dan manusia [yang mengetahui suka ingkar janji] pun turut melaknatnya. Begitu besar dosa bagi orang yang mengingkari janji itu.

Perbuatan ingkar janji itu dikategorikan sebagai teman setan. Karena ini merupakan perbuatan setan untuk mengelabui manusia.

Setan merasa senang saat manusia berhasil dikelabui dengan membuat janji kosongnya itu.

Dalam Al-qur’an surat An Nisa ayat 120 disebutkan:

Syaitan itu memberikan janji-janji dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka [manusia], padahal syaitan tak menjanjikan apa-apa selain tipuan belaka.”

Dan Nabi Muhammad sendiri menyebut orang yang sering ingkar janji itu termasuk dalam golongan orang-orang munafik.

“Tanda orang-orang munafik: Pertama, kalau berbicara ia sering berbohong. Kedua, kalau berjanji ia sering mengingkari. Ketiga, kalau diberi amanah (kepercayaan) ia sering mengkhianatinya.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Orang yang sering mengingkari janji, menjadi bukti kalau orang itu tidak beriman. Meskipun ia rajin beribadah. Sebab ini termasuk golongan orang fasiq.

RAFIKI ANUGERAHA M

Related posts

Tragis Nasib Irjen Teddy Minahasa, Mau Menjabat Kapolda Jatim, Eh.. Malah Ditangkap

adminJ9

RKUHP Hapus Pasal Pencemaran Nama Baik dan Penghinaan yang Tercantum dalam UU ITE

adminJ9

Kenapa Biaya Haji 2023 Melonjak Tajam? Ini Alasannya

adminJ9