Jurnal9.com
Business

Pemberdayaan UMKM Lewat Digitalisasi

Menteri Koperasi & UKM Teten Masduki saat menjadi pembicara utama dalam webinar bertajuk ‘Digital Economy dan Pemberdayaan UMKM: TantanganMembangun Ekosistemnya’.

JAKARTA, jurnal9.com – Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) hari ini menggelar web seminar bertajuk “Digital Economy dan Pemberdayaan UMKM: Tantangan Membangun Ekosistemnya”.

Pembicara utama dalam webinar ini adalah Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki. Webinar juga menghadirkan Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmaputra; Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono; dan Iqbal Farabi, Wakil Komite Tetap Bidang UMKM Kadin Indonesia.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan survey beberapa lembaga memperkirakan separuh dari jumlah UMKM tidak akan mampu survive setelah pandemi covid-19 melanda Indonesia dan dunia.  Berbeda dengan krisis 1998, UMKM mampu bertahan. Saat ini akibat dampak pandemi covid-19, sekitar 30 sampai 50 persen UMKM diperkirakan gulung tikar setelah September 2020 mendatng,” papar Teten dalam webinar LPPI itu.

Meski demikian, pemerintah berupaya optimal untuk menyelamatkan UMKM dengan berbagai stimulus senilai Rp 600 triliun, baik lewat bantuan sosial (bansos) ataupun bantuan modal kerja, agar bisa ekonomi bergerak kembali, selain menekan bertambahnya pengangguran dan kemiskinan.

“Pemerintah berusaha membangkitkan UMKM dengan berbagai cara karena di sana ada 60 juta pengusaha UMKM, belum lagi jumlah tenaga kerjanya,” kata Teten.

Namun, dari semua UMKM yang terdampak, ada UMKM yang bisa bertahan dan ada yang tumbuh. Mereka adalah UMKM yang sudah terhubung ke marketpalce, terkoneksi secara digital. Jumlahnya sekitar 13 persen.

Pelaku UMKM yang  bertahan adalah mereka yang melakukan adaptasi bisnis dan inovasi produk, sesuai  permintaan market yang baru. Orang sekarang lebih  mengkonsumsi makanan, minuman, kebutuan  kesehatan, dan kebutuhan  rumah tangga.

“Bidang usaha fashion berkurang. Tapi ada perajin batik jualan batik fashion ke daster, wah lakunya bukan main. Itulah inovasi dan adaptasi bisnis,” jelas mantan juru bicara presiden ini.

Baca lagi  Menkeu Jadi Kagok Tanggapi Kritik Terkait Tarif PPN Sembako, Padahal Belum Dibahas

Menurutnya, kondisi UMKM saat ini berbeda dengan saat krisis pada 1998 lalu, waktu itu UMKM menjadi pahlawan ekonomi. Namun, dirinya yakin saat ini UMKM masih bisa menjadi bumper ekonomi nasional dengan stimulus yang dilakukan pemerintah.

Selain stimulus dari pemerintah, kementerian Koperasi dan UKM saat ini juga terus mendorong digitalisasi di sektor UMKM, termasuk membangun database UMKM. “Pasalnya saat ini database UMKM ada di 18 kementerian dan 40 lembaga terkait, belum terintegrasi. Ke depan, pemerintah akan terus membenahi sistem pembiayaan yang ramah, mudah dan murah bagi UMKM, supaya bisa melahirkan startup-starup baru,”  tegasnya.

Sementara itu, Iqbal Farabi, wakil Komite Tetap Bidang UMKM Kadin Indonesia mengatakan, mengaca kepada sejumlah strategi UMKM mulai dari pembiayaan, perpajakan, pelindungan konsumen, pendidikan sampai  sumber daya manusia,  kebanyakan UMKM bermodal nekad dan network.  Namun belum ditunjang oleh kemudahan-kemudahan di  pembiayaan.

“Berapa banyak mereka dapat KUR yang disalurkan Pemerintah? Belum semuanya dapat. Makanya UMKM melakukan kerjasama dengan platform e-commerce saat ini di pembiayaan UMKM. Fintech memang sudah masuk tapi terlalu tinggi (bunganya) bagi pembiayaan UMKM,” ujarnya.

Menurut dia, pelaku ekonomi digital dan UMKM sudah siap masuk ke era sekarang. Tapi memang butuh sinergi antara kementerian terkait, lembaga lain, supaya para pelaku UMKM ini bisa naik kelas. “Ada prediksi di 2025 potensi ekonomi digital kita bisa sampai Rp 200 triliun,. Ini artinya, UMKM tak bisa lagi dilihat sebelah mata.”

Sedangkan  Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur OVO menuturkan, perkembangan digital teknologi, digital ekonomi dan financial techlology menjadi opportunity di Indonesia, termasuk bagi pelaku UMKM.

Bagi OVO dan perusahaan digital technology yang lain, perusahaan fintech, marwah dari digital ekonomi bukan karena kami didesain regulator. Tapi karena karakter utama, ekosistemnya menyasar ke menengah bawah, UMKM. Sudah tercipta sistem untuk memanfaatkan teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan ini.

MULIA GINTING 

 

Related posts

Factory Sharing Solusi UMKM Atasi Masalah Bahan Baku dan Teknologi

adminJ9

Target Pembangunan Koperasi dan UMKM Tercapai Jika Program Pusat dan Daerah Selaras

adminJ9

BPS: Laju Inflasi Melambat, Pandemi Terus Bayangi Ekonomi Indonesia

adminJ9