Jurnal9.com
News

KemenkopUKM Mengapresiasi Pelaku UMK Milenial Papua Andalkan Produk Lokal

Sekretaris Kementerian Koperasi & UKM Prof Rully Indrawan saat memberikan bimbingan teknis pemuda milenial di Balai Pelatihan Koperasi Jayapura, Papua, akhir pekan lalu.

JAYAPURA, jurnal9.com –  Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM)  mendukung usaha mikro kecil (UMK) dan wirausahawan pemula millenial untuk meningkatkan daya saing produknya. Pemerintah siap memberi kemudahan akses pembiayaan jika terkendala modal.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Prof Rully Indrawan, mengatakan rata-rata pelaku UMK pemula menghadapi tiga tantangan menjalankan usahanya. Yakni kompetensi atau kemampuan sumber daya manusia (SDM) terbatas, permodalan minim serta akses pemasaran yang sempit.

Kendala itu kerap terjadi hampir pada tiap UMK yang baru memulai usahanya. Mengatasi persoalan itu, KemenkopUKM  menunjuk Smesco Indonesia sebagai pusat konsultasi, kurasi dan coaching clinic bagi pelaku UMK.

Karena pelaku usaha  tersebar di seluruh wilayah dan jauh dari Smesco Indonesia, proses pendampingan atau konsultasi bisa dilakukan virtual. Saat pandemi seperti ini, proses interaksi secara daring (dalam jaringan) menjadi opsi paling efektif.

“Kita komunikasi dengan Direktur Utama Smesco Indonesia bahwa pemuda-pemudi di Papua perlu bantuan peningkatan SDM. Enggak perlu jauh-jauh ke Jakarta, tapi kita bisa secara virtual dengan modal efisien. Mohon rencana ini ditindaklanjuti, dan saya akan terus monitor dari Jakarta,” ujar Rully Indrawan saat acara bimbingan teknis pemuda milenial di Balai Pelatihan Koperasi Jayapura, Papua, akhir pekan lalu.

Smesco Indonesia, lanjutnya, bisa dijadikan pusat pemasaran bagi produk-produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) seluruh Indonesia. Produk di galeri Smesco lolos kurasi dan memenuhi standar ekspor. Untuk pelaku UMK pemula, bisa memanfaatkan media digital seperti media sosial, market place dan lainnya untuk memasarkan produk-produknya.

KemenkopUKM menjalin kerjasama dengan pemilik marketplace besar di Indonesia seperti Blibli, Tokopedia, Bukalapak dan lainnya bersama memfasilitasi pelaku UMKM memasarkan produknya.

Di KemenkopUKM juga terdapat program pelatihan e-commerce untuk memberikan pemahaman kepada pelaku usaha berjualan secara daring. Untuk memastikan agar produk UMKM bisa laku di pasaran dibuat berbeda dengan produk lainnya baik dari packaging ataupun dari varian produknya.

“Produk kita harus ada yang khas membuat orang ingat terus. Di Manokwari ada abon gulung karena rasanya khas dan tidak ditemukan di wilayah lain. Itu salah satu contoh, jadi harus ada sesuatu yang selalu diingat konsumen,”  kata Rully.

Baca lagi  Kemenag Siapkan Regulasi Umrah pada Masa Pandemi

Pemerintah juga menyediakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga relatif murah. Kemudian program kredit ultra mikro (UMi) yang bisa diakses pelaku usaha pemula. Ada pembiayaan yang disalurkan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dengan bunga sangat rendah. Untuk bisa mengakses pembiayaan UMKM harus bersatu dalam wadah koperasi. Ia berharap agar UMKM di Papua membentuk koperasi agar usahanya bisa lebih maju dan mudah mendapatkan akses pembiayaan.

“Sekarang ini eranya sudah economic sharing jadi tidak bisa bergerak sendiri-sendiri lagi. Silahkan saudara produksi apapun, tapi berkoperasi mudah mencari modal dan aktivitas pendukung berupa kelembagaan ekonomi bersama,” tegas Rully.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah Provinsi Papua, Soleman Hamzah, meminta kepada kaum millenial yang sedang memulai usaha memanfaatkan kesempatan dan kebijakan pemerintah demi mendorong peningkatan usahanya. Terlebih di saat pandemi banyak pelaku UMKM di Papua yang terkena imbasnya.

Diawali dari pertemuan ini, dia berharap kaum milenial Papua yang sedang merintis usaha dapat fokus dan pantang menyerah meskipun dihadapkan berbagai persoalan saat masa pandemi.

“Mau tidak mau kita harus mulai bergairah kembali, secara kelembagaan ada dinas koperasi dan UKM yang bisa dimanfaatkan menggali berbagai kebijakan pemerintah. Mari kita bersama-sama bangkit kembali mengisi ruang-ruang kosong agar perekonomian bisa kembali pulih,” tuturnya.

Amelia Ludia Kafiar (21 tahun), siap bersaing dengan pelaku UMKM lainnya di wilayah Wamena. Jika mendapat dukungan dari pemerintah dirinya yakin bisa bersaing dengan pelaku UMK di luar Papua. Sebagai produsen minuman alami dan juga cemilan khas berbahan dasar komoditas lokal, produknya saat ini sudah mulai diminati masyarakat di wilayah Wamena dan sekitarnya.

Dia terkendala modal usaha dan peralatan memadai untuk meningkatkan produksinya. Dengan keterbatasan permodalan dan peralatan saat ini, permintaan keripik, jus dan minuman segar lainnya hanya bisa memenuhi permintaan dengan skala terbatas. “Untuk suplai bahan baku, Amelia memanfaatkan hasil pertanian atau perkebunan dari Mama-Mama di Wamena.”

“Ke depan kami harap bisa membuat produk dengan kemasan bagus kemudian dipasarkan tidak hanya di Papua, tapi kalau bisa sampai ke pulau jawa. Kami ada kendala modal dan alat kerja. Kalau dibantu alat dan modal,kami yakin bisa bersaing dengan teman-temab di Jakarta,” ujar dia.

MULIA GINTING

Related posts

Imbas Covid-19 Selama 7 Bulan Sudah 6,4 juta Pekerja yang Dirumahkan dan PHK

adminJ9

IPW harus Buktikan Jika di Rumah Sakit Ada Mafia Covid-19

adminJ9

Pesta Raffi Ahmad Cs yang Berkerumun dan Tanpa Masker, Menurut Polisi Tak Ada Pelanggaran

adminJ9