Jurnal9.com
HeadlineProfile

Pemikiran Gus Yahya Saat Akan Menakhodai PBNU yang Baru

KH Yahya Cholil Staquf  atau akrab dipanggil Gus Yahya

LAMPUNG, jurnal9.com – Pemikiran KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab dipanggil Gus Yahya ini mengajak kalangan nahdhiyin untuk tidak sekadar memahami NU sebagai identitas, tetapi NU harus mampu membawa mandat peradaban.

“Jadi warga NU jangan hanya berjalan di tempat, dan baru bergerak jika diserang. Tapi tidak ada langkah untuk mengejar tujuan. Tidak bekerja menjalankan agenda organisasi,” ungkap Gus Yahya saat ngobrol bareng awak media, sebelum acara Muktamar NU dimulai.

Gus Yahya yang pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini menyebutkan NU berdiri pada 1926 seusai kekhalifahan Turki Ustmani runtuh pada 1924. Padahal pada waktu itu, kekhalifahan Turki Ustmani menjadi model dunia keislaman.

Itulah pemikiran Gus Yahya yang akan dikembangkan saat dirinya menjadi nakhoda baru PBNU menggantikan KH Said Aqil Siradj yang berakhir masa kepemimpinannya.

Nama Gus Yahya sendiri sudah tidak asing di kalangan nahdhiyin. Apalagi Gus Yahya yang merupakan kakak kandung Yaqut Cholil Qaumas, yang menjabat Menteri Agama RI saat ini, keduanya masih putra (alm) KH Cholil Bisri Mustofa.

Ayahnya, KH Cholil Bisri Mustofa dulu dikenal sebagai kiai yang juga aktif dalam kancah perpolitikan nasional. Jabatan yang pernah diembannya, yaitu Wakil Ketua MPR dan salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Karier Gus Yahya sendiri sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 31 Mei 2018. Pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Gus Yahya ditunjuk menjadi juru bicara Presiden Gus Dur.

Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, 16 Februari 1966. Pendidikan yang pernah ditempuhnya; ia pernah jadi santrinya KH Ali Maksum, di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Baca lagi  Seorang Ibu di AS Keliru Lahirkan Anak Orang Lain, Ajukan Gugatan Hukum

Karena dari keluarga keturunan kiai, ia pun mengaku sebagai santri tulen yang besar di lingkungan pesantren. Apalagi keluarganya sangat kuat yang lahir dari garis keturunan santri.

Setelah Gus Yahya menempuh pendidikan pesantren, ia selepas tamat madrasah Aliyah di pesantren, ia kemudian melanjutkan studi di FISIPOL Unviersitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Saat dirinya menjadi mahasiswa yang aktif di UGM, ia pernah memenuhi undangan American Jewish Committee (AJC) Global Forum pada 2018 lalu untuk pergi ke Israel. Ketika itulah nama Gus Yahya sebagai mahasiswa dan putra KH Bisri Mustofa yang kondang itu.menuai kontroversi.

Langkah Gus Yahya yang mengundang kontroversial itu dianggap tidak selaras dengan komitmen terhadap kemerdekaan Palestina.

Kehadiran Gus Yahya memenuhi undangan ke Israel itu ditanggapi Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini, di bawah kepemimpinan KH Said Aqil Siradj. Helmy menilai langkah Gus Yahya itu selaras dengan yang pernah dilakukan Gus Dur untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina lewat diplomasi segala cara.

Gus Dur sendiri pernah diundang oleh Forum Global AJC pada 2002 di Washington DC, Amerika Serikat.

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

Perubahan Sistem Pemilihan Presiden akan Dipilih MPR Bisa Loloskan Tunda Pemilu 2024

adminJ9

Rusia Tak akan Izinkan Media Anti Islam, Seperti Terbitkan Karikatur Hina Islam

adminJ9

Menkeu Ingatkan Risiko Global: Laju Inflasi AS yang Tinggi Dampaknya ke Ekonomi RI

adminJ9

Leave a Comment