
Presiden AS Donald Trump marah
WASHINGTON DC, jurnal9.com – Setelah Presiden AS Donald Trump mengunggah di media sosialnya menyebut Iran dalam kondisi sudah runtuh. Dan kini Teheran sedang mencari solusi untuk menentukan kepemimpinan mereka
“Iran baru saja memberi tahu Washington, kalau Teheran dalam kondisi runtuh,” tulis Trump di Truth Social, miliknya, Selasa (28/4/2026).
“Dan Teheran meminta kami untuk membuka Selat Hormuz segera mungkin,” lanjut Presiden AS itu.
Bahkan Trump mengklaim bahwa perang yang dilancarkan AS bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu telah berhasil mengubah rezim di Teheran.
Klaim Trump diperkuat pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyebutkan AS tidak ragu kalau di Teheran sedang terjadi perubahan rezim.
“Sebab jika rezim ulama radikal ini tetap berkuasa di Iran, kemungkinan mereka akan terus menginginkan senjata nuklir. Dan ini yang menjadi permasalahan bagi generasi masa depan Iran,” kata Menlu AS ini.
Iran tidak runtuh
Menanggapi klaim Presiden AS itu, produser CBS News, Seyed Rahim Bathaei menyebutkan Iran berada dalam kondisi tidak runtuh seperti yang diklaim Trump.
“Saya lihat di lapangan, pemerintah Teheran tetap memegang kendali penuh, tidak berada dalam kondisi runtuh, keadaanya baik-baik saja,” kata Bathaei menegaskan lagi.
Dia mengatakan perundingan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang belum membuahkan hasil, sejak genjatan senjata diberlakukan. Dan bahkan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Kanselir Jerman Friedrich Merz
Kanselir Jerman, Friedrich Merz tidak percaya dengan omongan Trump. Apalagi klaim serangan AS ke Iran telah berhasil meruntuhkan rezim Teheran. “Ini sulit dipercaya,” ujarnya.
Kanselir Jerman itu mengkritik pernyataan Trump. “Serangan AS-Israel ke Iran untuk menumbangkan rezim Teheran, saya kira tidak berhasil. Bahkan taktik serangan AS dipermalukan Iran,” ujarnya.
Begitu pun klaim Tramp berkali-kali menyatakan AS berhasil membuka kembali Selat Hormuz. Bahkan Trump kini menyebut Teheran meminta ke AS untuk membuka Selat Hormuz. “Ucapan Trump yang mana yang bisa dipercaya,” kritiknya.
Bahkan Merz menganggap AS gagal dalam melakukan diplomasi, buktinya Iran menolak bertemu pejabat AS sebelum blokade terhadap pelabuhan dicabut.
Apalagi Trump, kata Merz, membuat ketegangan dengan sekutu Eropa dan NATO, setelah sekutu-sekutunya menolak memberikan dukungan militer kepada AS untuk melakukan penyerangan ke Iran.
“Trump merasa kecewa karena sekutu-sekutu Eropa menolak ikut berperang untuk membantu AS menyerang Iran guna memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz,” ungkap Merz.
Usai AS-Israel membombardir lagi Iran pada 28 Februari 2026, Trump menyatakan serangan AS ke Iran pada Juni 2025 telah menghancurkan fasilitas program nuklir Teheran.
“Tapi kenyataannya Iran masih memberikan perlawanan yang luar biasa, membuat sejumlan pangkalan AS di beberapa negara Timur Tengah, hancur. Begitu pun serangan ke Israel. Ini bukti AS dipermalukan Iran,” tegasnya lagi.
Mendengar pernyataan Kanselir Jerman ini, Trump marah. “Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan. Dia tidak tahu kalau Iran memiliki senjata nuklir,” ungkap Trump di media sosial yang dikutip dari Al Jazeerra, Selasa (28/4/2026).
Dan Trump menyindir kondisi Jerman yang mengalami kesulitan ekonomi karena kepemimpinan Kanselir Jerman yang tidak tegas. “Dia pemimpin yang gagal. Kondisi ekonomi negaranya sangat sulit,” balas sindir Trump.
ARIEF RAHMAN MEDIA
