Jurnal9.com
HeadlineProfile

Perjuangan Kiai As’ad Saat Peristiwa 10 November Gerakkan Bajingan untuk Bertempur

KH. As’ad Syamsul Arifin

SITUBONDO, jurnal9.com – Kisah perjuangan KH As’ad Syamsul Arifin dalam peristiwa 10 November 1945 di kota Surabaya tak banyak diingat oleh masyarakat awam. Padahal  peran kiai pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Kabupaten Situbondo, ini sangat besar dalam menggerakkan para pejuang dari kalangan preman untuk ikut bertempur di kota Surabaya.

Pejuang yang ikut berbaur bersama Arek Suroboyo kala itu banyak dari daerah Tapal Kuda Jawa Timur, yakni dari Pulau Madura (Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep), serta ditambah dari para pemuda asal Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi.

Dalam peristiwa bersejarah itu kiai As’ad tak hanya menghimpun masyarakat biasa, tetapi para preman yang disadarkan secara spiritual agar berani bertempur melawan penjajah. Mereka diberi pemahaman bahwa bertempur melawan penjajah merupakan jihad di jalan Allah.

Kisah perjuangan KH As’ad Syamsul Arifin dalam peristiwa 10 November ini ditulis oleh Samsul A Hasan, yang banyak menulis buku-buku sejarah tentang tokoh NU.

Dalam buku yang ditulisnya, menceritakan bagaimana Kiai As’ad terlibat dalam pertemuan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Surabaya pada 22 Oktober 1945 yang juga dihadiri Rais Akbar NU Hadratus Syech KH Hasyim Asy’ari yang kemudian menghasilkan “Resolusi Jihad”.

Resolusi Jihad itu kemudian dikenal sebagai motor spiritual penggerak semangat warga Surabaya dan sekitarnya untuk berjihad melawan penjajah.

Dikisahkan bahwa setelah pertemuan di PBNU itu, Kiai As’ad kemudian bergerak ke Madura, yang diawali dari Bangkalan, dilanjutkan ke Sampang dan Pamekasan hingga ke Sumenep.

Di empat kabupaten di Madura itu, Kiai As’ad menemui para ulama dan menyampaikan bahwa Rais Akbar NU menyerukan jihad untuk melawan penjajah. Untuk itu Kiai As’ad meminta ulama di Madura mengumpulkan warga untuk dilatih fisik dan rohani agar memiliki kemampuan bertempur.

Ketika Kiai As’ad mau mengumpulkan massa, sempat menghadapi dilematis bagi dirinya maupun ulama yang ditemui. “Kalau memilih kiai atau ulama untuk bertempur, siapa yang akan mengurusi pendidikan agama, khususnya di pesantren?,” di benak pikiran Kiai As’ad.

“Kalau santri, siapa yang akan meneruskan dakwah di masyarakat, apalagi sampai banyak santri yang gugur. Kalau wali santri, siapa yang akan membiayai santri dalam menuntut ilmu agama?,” pikirnya.

Karena itu Kiai As’ad kemudian punya inisiatif untuk menghimpun para preman untuk dilatih fisik dan rohaninya secara spiritual.

“Rasa-rasanya, inilah pilihan yang paling pas. Bukankah mereka [preman yang dulu disebut bajingan] memiliki modal keberanian? Lagi pula kalau mereka nantinya mati, berarti mengurangi jumlah orang jahat. Syukur-syukur kalau mereka nantinya insyaf,” demikian kisah dalam buku “Kisah Tiga Kiai Mengelola Bekas Bajingan; Sang Pelopor”.

Kemudian para ulama di Madura yang telah didatangi Kiai As’ad menghubungi para bajingan. Setelah kembali ke pesantrennya di Sukorejo, Kiai As’ad kemudian menghubungi beberapa anggota Pelopor (Palopor), pasukan inti gerilya yang dibina oleh Kiai As’ad.

Baca lagi  Awas! Serangan Jantung Mendadak Tanpa Ada Rasa Nyeri Dada, Ini Gejalanya:

Kelak, para bajingan itu menjadi bagian pasukan Pelopor yang legendaris itu. Anggota Pelopor ini tersebar di Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi.

Tak lama kemudian, Pesantren Sukorejo dipenuhi oleh “santri” baru, yakni terdiri para bajingan dari Madura dan beberapa wilayah di Tapal Kuda Jawa Timur. Kemudian Kiai As’ad memberi motivasi kepada mereka untuk menempuh jalan mulia, yakni berjuang melawan penjajah.

Kiai As’ad mempercayakan latihan fisik dan rohani untuk para bajingan itu kepada Mabruk dan Abdus Shomad, santri kiai As’ad yang telah mendalami ilmu kanuragan. Tidak hanya dilatih fisik, mereka juga diberi amalan atau ijazah [di Madura disebut jaza] dzikir agar mereka selamat dari serangan musuh.

Bahkan, KH Syamsul Arifin, abah dari Kiai As’ad sendiri juga turut membekali “jaza” kepada para bajingan itu. Beberapa dari mereka juga diajari ilmu menghilang yang biasa digunakan oleh anggota Pelopor untuk mencuri senjata di gudang penjajah.

Maka saat pecah pertempuran 10 Novermber 1945, pasukan mantan bajingan ini ikut ambil bagian, khususnya di wilayah Tanjung Perak, Jembatan Merah dan di wilayah Wonokromo, Surabaya. Mereka dimobilisasi dari Situbondo dan sekitarnya dengan menggunakan kereta api. Supaya para mantan bajingan ini tidak ketahuan musuh, mereka diberangkatkan secara bergelombang.

Sejarah mencatat bahwa dalam pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Mallaby itu ternyata mengalami kekalahan. Bahkan  sang jenderal tewas di tangan Arek-Arek Suroboyo bersama kekuatan masyarakat lain di Jawa Timur, termasuk mantan bajingan binaan Kiai As’ad.

Peristiwa itu kemudian diabadikan oleh keputusan negara sebagai Hari Pahlawan. Pemerintah juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH As’ad Syamsul Arifin pada 9 November 2016.

Terkait pilihan Kiai As’ad untuk memberdayakan kaum bajingan itu, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo KHR Ahmad Azaim Ibrahimy mengatakan ada sejumlah pelajaran penting yang bisa dimaknai oleh generasi saat ini.

Menurut ulama muda kharismatik ini, upaya Kiai As’ad memberdayakan para bajingan untuk mengusir penjajah memberi pelajaran tentang berprasangka baik terhadap manusia dan ini lebih tinggi lagi kepada Allah.

“Prasangka baik kita ini adalah energi yang luar biasa. Kita saat ini sedang krisis energi positif. Jadi, seburuk apapun tampilan orang, kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah. Allah yang bisa membolakbalikkan hati. Yang dulunya dinilai tidak bermanfaat, bisa menjadi bermanfaat, bahkan hingga akhir hayatnya,” tutur cucu dari Kiai As’ad ini.

Ulama yang juga dikenal sebagai sastrawan ini menjelaskan bahwa kaum pelopor yang dibina Kiai As’ad itu banyak memberikan manfaat dengan segala potensinya untuk membangun bangsa, kemudian di atas itu adalah agama.

“Ada banyak orang yang tidak terbaca di masyarakat, bahkan dianggap sebagai sampah masyarakat, masyarakat marjinal atau pinggiran, kemudian bisa berubah menjadi kekuatan sumber daya dalam berjuang untuk bangsa dan agama,” ujarnya.

Sumber: Ant/berbagai referensi buku

ARIEF RAHMAN MEDIA

Related posts

50 Destinasi Wisata yang Paling Favorit dan Banyak Dikunjungi, Bali Urutan ke-30

adminJ9

WHO: Hasil Riset Menunjukkan Bukti Virus Corona Terjadi Secara Alami

adminJ9

Sambo Tuding Brigadir J Mengidap Kepribadian Ganda, Kamaruddin: Ini Mengada-Ngada

adminJ9

Leave a Comment