Makanan tradisional yang sering disajikan saat lebaran
JAKARTA, jurnal9.com – Lebaran Hari Raya Idul Fitri tiba. Seperti biasanya berbagai sajian lebaran yang lebih banyak menyajikan jenis makanan tradisional seperti opor ayam, semur daging, atau ditambah aneka jajanan kue nastar, putri salju, dan minuman yang manis-manis, semuanya mengundang selera.
Jangan lupa, jenis makanan tradisional sajian lebaran ini memang lezat rasanya. Tapi banyak yang tinggi lemak, garam dan gula. Ini yang berisiko untuk kesehatan, jika tak bisa menahan nafsu seleranya. Jadi harus dikontrol porsi makannya.
Gula dan garam punya risiko masing-masing dalam tubuh. Keduanya tetap dibutuhkan sebagai kalori atau energi. Namun mana yang lebih dibutuhkan tubuh, gula atau garam? Berikut ini dikutip dari Hallo Dokter, para ahli kesehatan memberikan penjelasan.
Kenapa tubuh perlu gula dan garam?
Gula yang menjadi sumber karbohidrat dibutuhkan tubuh untuk menghasilkan kalori atau energi. Energi ini dibutuhkan untuk fungsi kognitif otak, fungsi sistem pencernaan, dan fungsi gerak tubuh.
Sedangkan zat mineral seperti natrium yang terkandung dalam garam dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Lalu mana yang lebih berisiko penyakit pada kesehatan, kebanyakan gula atau garam?
Dari penjalasan para ahli kesehatan itu menyebutkan kelebihan asupan gula maupun garam, dua-duanya sangat berisiko pada kesehatan. Jadi yang bisa mengontrol jangan sampai kelebihan gula atau garam, ya dirinya sendiri.
Artinya mencari tahu perbandingan makanan mana yang kebanyakan gula dan kebanyakan garam. Jika makan opor ayam misalnya, terasa asin yang menunjukkan lebih banyak garamnya, ya sebaiknya dikurangi porsinya.
Risiko kebanyakan garam
Para ahli gizi dan kesehatan menyebutkan risikonya pada kesehatan tubuh jika mengkonsumsi makanan yang kebanyakan garam, yaitu darah tinggi (hipertensi). Ini karena natrium dalam garam itu berfungsi untuk menahan cairan dalam tubuh.
Jadi kalau orang yang mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi garam, makin banyak pula cairan yang menumpuk atau terjebak di pembuluh darah, ginjal, jantung, serta otak. Sehingga berakibat seseorang akan mengalami darah tinggi. Dan ini dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti serangan jantung, gagal jantung dan stroke.
Risiko kebanyakan gula
Kalau kebanyakan garam berisiko kena penyakit jantung, gagal jantung dan stroke. Tapi kalau kebanyakan gula efeknya bisa menjalar ke mana-mana. Risiko kebanyakan gula jauh lebih rumit ketimbang garam.
Kalau berlebihan gula prosesnya akan disimpan dalam tubuh sebagai cadangan lemak. Dalam waktu singkat, orang yang sering mengkonsumsi gula itu akan membuat tubuhnya cepat gemuk.Tapi kalau sudah sering mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak gula bisa meningkatkan risiko darah tinggi, obesitas, stroke, penyakit jantung, dan kanker.
Ini karena kadar gula yang berlebihan bisa menyebabkan peradangan serta penuaan sel-sel dalam tubuh.
Seperti dijelaskan ahli gizi dari Pennsylvania State University, Dr. Mike Roussell, kebanyakan gula lebih bahaya daripada kebanyakan garam, karena ternyata keduanya saling berkaitan.
Kalau seseorang kebanyakan gula, tubuhnya akan memproduksi hormon insulin untuk mencerna gula. Padahal hormon insulin ini akan meningkatkan fungsi natrium untuk menahan cairan di ginjal. Ini berakibat sama seperti kebanyakan makan garam, berisiko darah tinggi.
Kuncinya pola makan seimbang
Meski kebanyakan gula ternyata lebih berbahaya daripada kelebihan garam, tapi bukan berarti seseorang tak boleh mengkonsumsi keduanya sama sekali. Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa tubuh tetap membutuhkan gula dan garam. Tapi harus seimbang. Tak boleh berlebihan.
Dalam laman Kementerian Kesehatan, disebutkan anak usia muda dan orang dewasa harus membatasi konsumsi gula dengan porsi sebanyak 5-9 sendok teh sehari. Sedangkan asupan garam, batasi sampai satu sendok teh dalam sehari.
Dan dianjurkan menghindari makanan atau camilan dalam kemasan. Karena makanan camilan dalam kemasan itu punya kandungan gula dan garam lebih tinggi dari yang dibutuhkan tubuh.
RAFIKA ANUGERAHA M I RAFIKI ANUGERAHA M