Jurnal9.com
BusinessHeadline

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47%, Tapi Masyarakat Merasakan Ekonomi Makin Sulit

Tukiman, seorang pekerja kuli bangunan, lulusan SLTA

JAKARTA, jurnal9.com –  Pemerintah mengklaim ekonomi Indonesia pada kuartal III/2026 tumbuh 5,47% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar 5,04%.

Angka itu lebih tinggi dari perkiraan sejumlah lembaga atau ekonom yang memproyeksikan ekonomi Indonesia ke depan akan melambat.

“Angka pertumbuhan ekonomi 5,47% itu dipertanyakan oleh berbagai pihak. Keraguan ini muncul karena adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dengan kondisi yang dirasakan masyarakat,” ungkap ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky dalam rilisnya.

“Karena pertumbuhan ekonomi 5,47% yang diklaim pemerintah itu tak membuat seluruh kelompok masyarakat menikmati manfaatnya secara merata,” ia menambahkan.

Kalau dari riset yang dilakukan LPEM FEB UI, kata dia, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2026 diperkirakan hanya sebesar 5,28% secara tahunan. Namun yang dirasakan masyarakat hanya setara 4,74% secara tahunan.

Bahkan diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2026 mencapai 5,39%, sebelum melambat menjadi 5,25% pada 2027. Tetapi pertumbuhan yang dirasakan masyarakat diperkirakan hanya 4,90% pada 2027.

“Pertumbuhan PDB yang relatif kuat belum tentu membuat seluruh kelompok masyarakat menikmati manfaatnya secara merata,” kata Teuku Riefky menegaskan.

Pendapat senada juga disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, yang memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2026 hanya tumbuh 5,23% secara tahunan. Meskipun ekonomi Indonesia memiliki katahanan yang cukup baik di tengah tekanan eksternal, namun akselerasi pertumbuhannya dinilai belum merata.

“Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III/2026 ini sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan II sebesar 5,29% dan triwulan I sebesar 5,61%,” kata Josua dalam keterangan tertulisnya.

Buktinya meski pemerintah menyatakan ekonomi tumbuh 5,47%, tetapi di mana-mana masyarakat banyak yang masih susah ekonominya. Bahkan makin sulit. Banyak yang menganggur, karena kehilangan pekerjaan.

“Ekonomi masih susah begini, kok pemerintah bilang kondisi ekonomi masyarakat sudah membaik. Apa nggak lihat, sekarang banyak orang yang kelaparan, cari uang buat makan sehari-hari saja susah sekali. Coba presiden turun ke bawah, lihat langsung ke kampung-kampung. Jangan cuma dengar laporan dari menterinya, kalau ekonomi sudah membaik,” keluh Tukiman, 43, asal Jombang yang bekerja kuli bangunan di kota Surabaya.

Baca lagi  Ucapan Ganjar Meremehkan Wartawan di Acara Mata Najwa, Banyak Dihujat Netizen

Dia harus pulang pergi dari Jombang ke Surabaya dengan naik sepeda motor. “Iya kalau sekarang lagi ada pekerjaan di Surabaya, nanti kalau sudah selesai, ya menganggur lagi. Ini baru bulan ini saya bekerja, setelah hampir enam bulan tak ada pekerjaan. Saya kan harus menanggung tiga anak yang sudah sekolah,” ujarnya.

Tukiman sendiri mengaku lulusan SLTA di Jombang. Dulu sempat bekerja di pabrik pakan di daerah Krian, Sidoarjo. Setelah kontraknya selesai. Tak diperpanjang lagi. “Dari pada saya nganggur, saya cari pekerjaan apa saja. Terakhir ini saya diajak teman bekerja jadi kuli bangunan,” tuturya.

“Katanya pertumbuhan ekonomi makin baik, tapi saya nggak merasakan itu. Malah ekonomi makin susah, iya,” cetus dia.

Ini penjelasan BPS                 

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik (BPS), Moh Edy Mahmud mengatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% ini terbilang tinggi. Namun dalam kenyataannya belum dirasakan oleh seluruh masyarakat.

“Angka 5,47% ini merupakan gambaran pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) secara agregat dari lapangan usaha maupun pengeluaran. Tapi kalau masyarakat masih ada yang merasakan susah ekonominya. Ini karena mereka tidak berada di sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan,”  ia menjelaskan.

“Angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS ini merupakan gambaran kondisi perekonomian secara agregat, dari sisi lapangan usaha maupun komponen pengeluaran,” ujarnya.

“Artinya pertumbuhan ekonomi nasional tidak serta-merta mencerminkan kondisi seluruh sektor usaha maupun kelompok masyarakat. Karena setiap sektor memiliki tingkat pertumbuhan yang berbeda-beda,” kata Edy menjelaskan.

Edy mengakui perbedaan proyeksi pertumbuhan ekonomi dengan ekonom atau lembaga lain karena model penghitungannya yang berbeda. “Angka dihitung kami mengikuti metodologi statistik yang sudah terstandarisasi internasional,” ucapnya.

“Penghitungan pertumbuhan ekonomi oleh BPS mengacu pada System of National Accounts (SNA) 2008. Metodologi ini banyak digunakan kantor statistik nasional di berbagai negara,” kata Edy memberi alasan tentang perbedaan angka pertumbuhan ekonomi oleh BPS dengan lembaga lain.

ARIEF RAHMAN MEDIA  

Related posts

KemenkopUKM Luncurkan Template Anggaran Dasar Pendirian Koperasi

adminJ9

Aida yang Ngidap Kanker Payudara, Dianiaya Temannya Gara-Gara Chat Kata ‘Sayang’

adminJ9

Anak Kiai Lakukan Pencabulan pada Santri Putri, Pesantren di Jombang ini Dibekukan

adminJ9

Leave a Comment