Jurnal9.com
BusinessHeadline

Mentan Membantah, Tapi Jokowi Mengakui Teken MoU Impor Beras dari Thailand dan Vietnam

Presiden Joko Widodo

JAKARTA, jurnal9.com –  Ketika Menteri pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo ditanya soal Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Thailand akan meneken MoU impor beras 1 juta ton dari Thailand pada Maret ini, Mentan membantahnya.

“Secara jujur ingin saya katakan kepada forum ini bahwa rencana impor itu baru wacana. Saya sama sekali belum pernah melihat ada sebuah keputusan yang pasti mengenai itu,” kata Syahrul dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI pekan lalu.

Sejak itu polemik soal rencana impor beras 1 juta ton ini mendapat kritik dan penolakan dari berbagai kelompok petani di tanah air.

Melihat polemik yang berkepanjagan itu akhirnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui jika Pemerintah Indonesia telah melakukan nota kesepahaman atau MoU terkait impor beras dengan Thailand dan Vietnam.

“MoU itu memang benar terjadi. Saya tegaskan memang ada MoU dengan Thailand dan Vietnam. [Namun] itu hanya untuk berjaga-jaga mengingat situasi pandemi yang penuh dengan ketidakpastian,” kata Jokowi dalam keterangannya yang disiarkan lewat kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (26/3).

Meski sudah ada MoU, kata Presiden Jokowi, tapi beras dari Thailand dan Vietnam itu sama sekali belum masuk ke Indonesia. Dengan demikian, presiden meminta semua pihak mengakhiri polemik terkait impor beras tersebut, sebab bisa membuat harga beras di tingkat petani bisa anjlok.

“Bukan itu saja, saya memastikan beras petani akan diserap oleh Perum Bulog. Saya segera memerintahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani agar membantu terkait anggaran,” tutur presiden.

“Saya tegaskan sekali lagi berasnya [impor] belum masuk,” tegas Jokowi.

Sebelumnya, Bangkok Post memberitakan bahwa kabinet Negeri Gajah Putih itu telah menyepakati rencana ekspor [beras] sebesar 4 juta ton selama 4 tahun ke Indonesia.

Baca lagi  Membiarkan Moeldoko Rampok Partai Demokrat, Ini Cawe-Cawe Jokowi yang Nyata

Selain itu Kementerian Perdagangan Thailand juga menyebutkan rencana untuk peningkatan ekspor beras menjadi 6 juta ton pada 2021. Ada peningkatan dibandingkan pada 2020 yang hanya 5,7 juta ton.

Dalam mencapai target ini pemerintah Thailand membidik Indonesia, China, Bangladesh, dan Irak sebagai pasar utama di bawah payung kesepakatan G2G.

“Kesepakatan G2G dan kampanye agar beras Thailand lebih dikenal masyarakat dunia akan menjadi pelopor upaya meningkatkan ekspor dari 5,7 juta ton,” kata Menteri Perdagangan Thailand Jurin Laksanawisit.

ARIEF RAHMAN MEDIA

 

Related posts

Sinergi Tiga Menteri Usung Sentra Pengolahan Beras Terpadu di Kebumen

adminJ9

Wangi-Wangian yang Mengandung Alkohol; Haram?

adminJ9

Sinergi 3 Kementerian, Kadin akan Tingkatkan Peran UKM Suplai Kebutuhan Haji dan Umrah

adminJ9

Leave a Comment