Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump
WASHINGTON DC, jurnal9.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan kebijakan perdagangan dengan menaikkan tarif baru untuk barang-barang yang masuk ke AS. Termasuk dari Indonesia.
“Ini perlu dilakukan, mengingat Amerika Serikat telah diperlakukan dengan buruk oleh negara-negara asing. Mereka senang menjual barang ke AS dengan menggunakan batasan perdagangan yang membuat barang-barang produk AS tidak kompetitif,” kata Trump dalam pernyataan yang dirilis Gedung Putih, Rabu (2/4/2024) seperti dikutip The Independent.
“Saya menemukan adanya kurang timbal balik dalam hubungan perdagangan bilateral kita, seperti tingkat tarif dan hambatan non-tarif yang berbeda,” lanjutnya.
Trump menyebutkan kebijakan ekonomi dengan mitra dagang AS selama ini menekan upah dan konsumsi domestik. “ Ini bisa dilihat dari defisit perdagangan barang AS yang cukup besar dan terus-menerus. Sehingga ini menjadi ancaman yang luar biasa bagi keamanan nasional dan ekonomi AS,” ungkap Presiden AS ini.
“Defisit ini terjadi karena barang-barang yang masuk ke AS lebih besar dibandingkan ekspornya. Seperti pada 2024 lalu, mencapai US$1,2 triliun. Ini merupakan ancaman nasional. Imbas dari kebijakan ekonomi domestik dengan mitra dagang dan ketidakseimbangan struktural dalam sistem perdagangan global,” kata Trump menegaskan lagi.
Indonesia kena imbasnya
Akibat kebijakan kenaikan tarif baru AS ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena imbasnya. Seperti dikutip dari laman Kemendag, Indonesia dikenakan tarif bea masuk sebesar 32 persen.
Pengenaan tarif bea masuk barang Indonesia ke AS ini hampir mendekati tarif baru AS ke China sebesar 34 persen. Sebelumnya AS mengenakan tarif bea masuk sebesar 20 persen untuk semua produk yang diimpor dari China.
Beberapa negara ASEAN lain seperti Thailand dan Vietnam menghadapi tekanan lebih berat lagi. Melebihi dari Indonesia dan China. Thailand dikenakan tarif bea masuk 36 persen. Dan Vietnam dikenakan tarif bea masuk 46 persen.
Sementara itu Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, menyebutkan dengan kenaikan tarif baru 32 persen kepada Indonesia, ia meminta pemerintah harus berhati-hati dalam menghitung untung rugi atas kebijakan Trump ini.
“Kebijakan Trump ini sangat berdampak terhadap ekspor Indonesia ke AS. Begitu pun pasar lokal bisa makin tertekan, akibat barang impor dari China. Karena produk tekstil murah dari China bisa membanjiri pasar global, setelah AS mengenakan tarif tinggi terhadap produk China,” ujarnya.
Dia mengatakan ekspor Indonesia ke AS bisa terganggu akibat kebijakan Trump yang mengguncang perdagangan global. Selama ini perdagangan Indonesia-AS menjadi salah satu andalan mitra dagang utama Indonesia.
Pada 2024 lalu, surplus perdagangan non-migas Indonesia dengan AS mencapai US$ 16,08 miliar. Ekspor utama Indonesia ke AS meliputi produk garmen, peralatan listrik, alas kaki, dan minyak nabati.
Dari Uni Eropa merespon kebijakan tarif Trump ini dengan mengambil langkah tegas, seperti disampaikan Presiden Komisi Eropa, Ursula Von der Leyen.
“Uni Eropa tidak ingin membalas kebijakakan tarif dagang AS secara frontal. Kami tidak akan memulai konfrontasi ini. Tapi kami punya rencana balasan yang kuat untuk menghadapi AS,” tuturnya dalam pidato di Parlemen Eropa di Strasbourg, Selasa (1/4/2025).
Von der Leyen juga mengkritik kebijakan Trump itu. Kebijakan tarif AS tersebut bisa memperburuk inflasi.
“Uni Eropa punya strategi menghadapi kebijakan tarif baru AS dalam tiga tahap. Eropa memegang banyak kartu. Mulai dari perdagangan, teknologi hingga target pasar kami,” ia menegaskan.
Ia menyebut pentingnya penguatan pasar tunggal Eropa untuk meningkatkan daya saing dan solidaritas. “Respon kami pada kebijakan Trump ini dengan persatuan dan tekad. Kami sudah melakukan komunikasi dengan kepala negara dan pemerintahan Eropa untuk menyusun strateginya. Sebelum melakukan pembalasan yang tepat,” tuturnya.
ARIEF RAHMAN MEDIA