JAKARTA, jurnal9.com – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengajak kolaborasi entitas pendidikan di tanah air untuk menciptakan entrepreneur muda profesional sejak usia dini agar mampu menguasai pasar global.
“Perlu kolaborasi berbagai pihak termasuk civitas akademika Yayasan Taruna Bakti dalam menciptakan entrepreneur yang profesional sejak usia dini, sehingga menguasai pasar global,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat memberikan sambutan dalam acara Pisah Sambut Yayasan Taruna Bakti secara virtual di Jakarta, Senin (1/3).
Teten mengatakan, semua pihak harus mengantisipasi bonus demografi. Menurut data BPS; penduduk Indonesia tahun 2020 telah mencapai 270,20 juta jiwa, di mana 68,75% masuk dalam usia produktif, dan 24% masuk kategori pemuda (berusia 16-30 tahun sesuai dengan UU tentang Pemuda).
Pada 2024, diperkirakan total populasi Gen Milenial, Gen Z, dan Post Gen Z mencapai 174,79 juta orang. Jumlah ini tentu tidak dapat seluruhnya diserap oleh sektor pemerintah dan perusahaan swasta. Karena itu perlu untuk mendorong upaya penciptaan entrepreneur muda lebih banyak.
Pemerintah, kata Teten, mempersiapkan keterhubungan ekosistem kewirausahaan meliputi jejaring, inovasi produk/jasa, dan iklim usaha yang kondusif yang akhirnya mendorong kreativitas.
Dengan perkembangan teknologi yang terintegrasi berbagai ide kreatif anak muda lewat usaha rintisannya (startup) akan menjawab kebutuhan masyarakat, memecahkan masalah sosial, dan memiliki dampak luas.
Berdasarkan GEI (Global Entrepreneurship Index), pada 2019 posisi Indonesia pada peringkat 74 dari 137 negara dengan nilai index sama dengan Vietnam. Dalam hal digital platform, berdasarkan GDPEI (Global Digital Platform Economy Index), Indonesia berada pada posisi ke-76 dari 116 negara, di bawah Filipina dan Kazakhstan.
Menurut RPJMN 2020-2024, rasio Kewirausahaan Indonesia pada 2019 sebesar 3,4%, dan pada 2024 diharapkan dapat mencapai 4% atau sebanyak 11,2 juta orang atau 17,45% dari seluruh pelaku UMKM. Sesuai proyeksi tersebut, sebesar 82,55% pelaku UMKM belum memiliki kualitas kewirausahaan yang baik.
“Hal tersebut mengakibatkan produktivitas rendah, kurang inovasi, usaha yang tidak berkelanjutan, dan kurang kompetitif di pasar global. Apalagi sebagian besar UMKM adalah skala usaha mikro dan berada di sektor pertanian yang owner operator,” katanya.
Implikasinya, keterlibatan langsung sebagai mitra perusahaan PMDN dan PMA sulit terwujud. Demikian pula proses industrialisasi dengan supporting industry atau terhubung dengan rantai pasok juga sulit terwujud.
Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum pandemi hanya mampu mencapai sekitar 5% per tahun dengan potensi lebih dari 7%. Adanya pandemi, perekonomian Indonesia berada di zona negatif. BPS mencatat minus 2,07%. Pada 2021 ini diprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali ke posisi normal sekitar 5%.
Pada 2018, UMKM Indonesia menyumbang PDB 61,07%, investasi 60,42%, namun menyumbang ekspor 14,37%. UMKM juga menjadi penyangga lapangan kerja dengan penyerapan 97% tenaga kerja. Jumlah UMKM Indonesia mencapai 64,2 juta unit atau 99,99% dari total dunia usaha.
Masih ada disparitas tinggi antara pelaku UMKM dan usaha besar. Karena itu, Teten berharap UU Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah terkait kemudahan, pelindungan, dan pemberdayaan KUMKM yang telah disahkan oleh pemerintah dapat menciptakan iklim investasi dan usaha yang kondusif dengan penyederhanaan perizinan berusaha bagi investor.
“Pemerintah mewajibkan belanja pemerintah dan BUMN maupun investasi yang melibatkan UMKM lokal,” katanya.
Keterhubungan rantai nilai hulu hilir dengan pola pikir dan perilaku wirausaha dalam satu ekosistem terintegrasi menjadi kunci.
“Kami yakin di lingkungan pendidikan Yayasan Taruna Bakti dapat senantiasa menanamkan pola pikir dan perilaku inovatif, kreatif, dan mandiri sehingga menghasilkan wirausaha sukses demi Indonesia Maju,” kata Teten.
ARIEF RAHMAN MEDIA