Ilustrasi siswa sedang belajar dalam Kurikulum Merdeka Belajar
JAKARTA, jurnal9.com – Ganti menteri, ganti lagi kurikulum baru. Sampai orang tua murid ikut pusing dengan pergantian kurikulum. Sudah pasti ada yang dibeli, seperti buku baru LKS atau LKPD. Setiap siswa wajib memiliki buku itu. Karena di perpustakaan sekolah biasanya tidak tersedia.
Biaya lagi, biaya lagi, pusing deh…itu yang biasa dikeluhkan orang tua murid setiap ada perubahan kurikulum baru.
Tak heran kalau orang tua ikut pusing untuk memenuhi kebutuhan buku-buku baru yang sesuai dengan kurikulum baru.
Kalau si anak tak dibelikan buku-buku ajar itu, atau mungkin si ibunya menyuruh anaknya pinjam dulu buku ke temannya untuk difoto copy.
Kalau si murid tak membeli buku ajar itu, nanti orang tua murid yang dianggap belum memahami pentingnya pergantian kurikulum.tersebut.
Sebaliknya ibu-ibu yang biasanya mengantar anaknya ke sekolah (siswa SD) menuturkan pengalamannya. Setiap tahun ajaran baru. Atau saat ada pergantian kurikulum baru, biasanya pihak sekolah mengadakan rapat orang tua murid.
Nanti dalam rapat itu, guru-guru menyampaikan alasan kepada orang tua murid, kalau menunggu buku dari dinas pendidikan, buku kurikulum baru ini akan lama sampai di sekolah.
“Bagaimana kalau kita beli buku itu dengan cara order cetak sendiri ke percetakan? supaya anak-anak kita cepat memperoleh buku-buku itu. Dan bisa mulai belajar,” ucap seorang guru kepada orang tua murid di salah satu SD daerah Sukadanau, Cikarang, Kab. Bekasi, Jawa Barat.
Mau tidak mau, ibu-ibu yang ikut rapat itu menyetujui tawaran untuk order buku itu. Dan selang semingguan, buku yang dipesan itu sudah sampai di sekolah. Padahal orang tua murid itu tahu kalau sebenarnya buku paket LKS itu bisa diperoleh secara cuma-cuma dari Kementerian Pendidikan.
Akhirnya para orang tua murid itu menganggap pihak sekolah telah melakukan bisnis secara diam-diam. Itu dari sisi perspektif orang tua murid dalam setiap menghadapi tahun ajaran baru atau pergantian kurikulum baru.
Tetapi pihak guru sendiri mengalami stres melihat setiap pergantian menteri pendidikan, sudah pasti melakukan pergantian kurikulum baru.
Sebab para guru sendiri juga ikut melakukan perubahan program belajar-mengajar dengan mengikuti metode kurikulum baru.
Seperti dalam pemerintahan Prabowo yang baru ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menyebutkan akan menggagas Kurikulum Deep Learning untuk menggantikan Kurikulum Merdeka Belajar yang berlaku sekarang.
Dalam kurikulum Deep Learning ini memiliki tiga elemen:
Mindfull Learning, menyadari keadaan murid yang berbeda-beda.
Meaningfull Learning, mendorong murid berpikir dan terlibat dalam proses belajar.
Joyfull learning, mengedepankan kepuasan dan pemahaman mendalam.
Abdul Mu’ti menjelaskan istilah Deep Learning atau pembelajaran mendalam ini adalah suatu upaya pendekatan belajar untuk meningkatkan kapasitas siswa.
“Sebenarnya Deep Learning ini bukan kurikulum. Tapi pendekatan belajar,” tegasnya.
Adapun untuk kurikulum Pendidikan yang akan diterapkan di Indonesia, menurut dia, kini masih dikaji secara mendalam. Dari sisi materi atau bobot untuk pembelajaran, sehingga tidak membebani murid dan guru.
“Jadi kami belum memutuskan untuk mengganti Kurikulum Merdeka Belajar yang diberlakukan dari Mendikbudristek Nadiem Makarim,” kata Abdul Mu’ti menjelaskan lagi.
“Tapi kami juga sedang mengkaji ulang penerapan Kurikulum Merdeka Belajar, kemudian sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan zonasi, dan Penghapusan Ujian Nasional (UN) yang diberlakukan sebelumnya.
Dia juga mengatakan dari sisi komputasi, Deep Learning ini sejenis pembelajaran mesin atau proses komputer untuk meningkatkan kemampuan melakukan tugas dengan menganalisis data baru dan pemprosesan data.
“Iya Deep Learning ini bisa membuat siswa mampu berpikir kritis, punya rasa ingin tahu, komunikasi yang baik dan bekerja dengan orang lain secara efektif untuk semua mata pelajaran,” ujarnya.
ARIEF RAHMAN MEDIA