Jurnal9.com
Business Headline

Diprediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Masih Minus 2 Persen, Indonesia Resesi?

Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III masih bisa tumbuh, memang kunci utamanya bergantung pada konsumsi dan investasi.

JAKARTA, jurnal9.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal III masih bisa tumbuh yang kunci utamanya bergantung pada konsumsi dan investasi.

Tentu saja risiko proyeksi pertumbuhan ekonomi negatif sepanjang kuartal III, kata Menkeu, bisa terjadi jika berdasarkan pergerakan beberapa indikator ekonomi yang belum cukup solid.

“Ini terbukti pada bulan Juli ini kontraksinya lebih dalam dibandingkan Juni. Tadinya kami harapkan Juli lebih baik dari Juni, ternyata tidak. Jadi ini harus kita waspadai dari sisi perdagangan. Ini nanti ada hubungannya dengan pengembalian konsumsi masyarakat,” ungkapnya.

Menkeu melihat peta ini menggambarkan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia pada bulan Juli masih sangat rapuh, dan bahkan bisa terjadi pembalikan kembali. Karena itu berupaya keras agar tidak resesi dan berada pada zona netral untuk pemulihan.

“Jadi kuartal III kita outlooknya antara 0 persen sampai negatif 2 persen. Keseluruhan, negatif 1,1 persen hingga 0,2 persen untuk tahun 2020, kunci utamanya bergantung pada konsumsi dan investasi,” tegas Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual APBN KiTa pada Selasa (25/8).

Terjadinya kontraksi PDB Indonesia pada kuartal II lalu, menurut dia, utamanya memang disebabkan pada sisi konsumsi dan investasi. Hal ini antara lain terjadi karena adanya pembatasan mobilitas masyarakat seiring penerapan PSBB, termasuk adanya larangan mudik saat masa lebaran lalu.

Tetapi Sri Mulyani masih berharap investasi bisa rebound ke level netral sejalan dengan langkah-langkah yang kini dilakukan pemerintah di sektor pasar keuangan.

Sebagai gambaran, pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih menunjukkan tren perbaikan, antara lain ditandai dengan yield SBN dan credit default swap yang terus menurun, penawaran SBN yang cukup tinggi di setiap lelang, serta aliran modal asing yang mulai masuk kembali

Baca lagi  “Perubahan Hidup (meyakini Islam) Terjadi dalam Keluarga Saya”

Dari segi konsumsi, kata Sri Mulyani, stimulus APBN berupa bantuan sosial bagi penduduk miskin, rentan miskin yang terdampak pandemi covid-19,  juga dinilainya sangat membantu untuk menahan kontraksi ekonomi yang lebih dalam.

Belanja pemerintah terkait bantuan sosial dinilai sudah sangat besar dengan pertumbuhan sebesar 55 persen dibandingkan tahun lalu menjadi sebesar Rp170 triliun.

Namun, pertumbuhan tingkat konsumsi, lanjutnya, tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah saja. Dia juga menekankan pentingnya consumer confidence bagi kalangan masyarakat menengah atas untuk membelanjakan uangnya.

“APBN akan terus melaksanakan fungsinya sebagai upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ini dan pemulihan. Baik dari sisi penerimaaan seperti insentif di bidang perpajakan maupun dari sisi belanja, baik itu belanja bansos, Kementerian Lembaga dan transfer daerah. Untuk mengembalikan konsumsi masyarakat dan mengembalikan confidence investasi,” ujarnya.

ARIEF RAHMAN MEDIA

 

Related posts

KemenkopUKM Gandeng Perbarindo Percepat Penyaluran Anggaran PEN bagi UMKM

adminJ9

Terdampak Pandemi, MenkopUKM Dorong Petani Kopi Bentuk Koperasi

adminJ9

KemenKopUKM Kembangkan Inkubasi Usaha Terintegrasi

adminJ9