Jurnal9.com
Business

Antisipasi Krisis Pangan, MenKopUKM Dorong Koperasi Pangan Diperkuat

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menemui para petani bawang merah dari anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) KUD Mintorogo di Demak, Jawa Tengah.

DEMAK, jurnal9.com – Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) mengingatkan bahwa dunia akan menghadapi krisis pangan. Untuk mengantisipasi tersebut, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan Indonesia perlu memperkuat koperasi pangan agar siap menghadapi itu dan bisa tumbuh kekuatan ekonomi baru.

“Pak Presiden ingin ke depan koperasi pangan harus diperkuat,” tegas MenKopUKM Teten Masduki usai berdialog dengan Ibu Mardiyah, petani bawang merah, di Demak, Jawa Tengah, Jumat (3/7).

Menurut Teten, memperkuat koperasi pangan sebagai bagian dari instruktur ketahanan pangan nasional. Pihaknya berharap koperasi simpan pinjam (KSP) dapat ikut andil dalam mensejahterakan anggotanya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan prioritas di sektor pangan.

“Jadi saya katakan seperti KSP harus punya komitmen untuk membesarkan anggotanya, UMKM di sektor pangan,” katanya.

MenKopUKM menjelaskan, pihaknya diingatkan oleh FAO terhadap ancaman krisis pangan dunia. Upaya mengantisipasi itu, ia berharap masyarakat bisa memanfaatkan lahan dan tanah Indonesia yang subur dengan menanam tanaman pangan.

“Dalam jangka pendek, dalam mengantisipasi krisis pangan, setiap jengkal tanah harus dimanfaatkan untuk tanaman pangan,” tegasnya.

Dalam jangka panjang, kata Teten, Indonesia harus menyiapkan koperasi pangan yang kuat, melalui pembiayaan yang lebih murah dan ramah, serta persyaratan yang tidak berbelit-belit.

“Kita harus siapkan koperasi pangan yang kuat. sistem pembiayaan yang lebih murah, lebih ramah, dan jangan berbelit belit,” ujarnya.

MenkopUKM melihatnya sektor pangan yang bisa dikembangkan koperasi adalah yang memiliki keunggulan. Seperti jagung dan padi, di Indonesia komoditas ini dinilai belum dimaksimalkan, karena masih diimpor.

Baca lagi  MenkopUKM: Kolaborasi Multistakeholder, Kunci untuk Meningkatkan Ekspor Nasional

“Pangan apa yang unggul. Padi dan jagung masih impor,” tegas Teten.

Selain itu menurutnya, koperasi juga harus menyentuh sektor kelautan, dimana Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah. Teten mencontohkan garam, rumput laut dan semua jenis ikan, berpotensi dikembangkan karena nilai ekspor yang terus tumbuh.

“Garam kita masih impor. Kita perlu juga masuk ke sektor kelautan. Kita unggul di situ. Mulai rumput laut hingga jenis ikan. Saya lihat ekpor ikan masih tinggi, kita harus perkuat di sektor itu,” paparnya lagi.

Petani Bawang Merah

Petani bawang merah di Demak, Ibu Mardiyah mengaku membutuhkan modal pembiayaan pertanian dengan bunga kecil. Sehingga memilih untuk bergabung dengan koperasi di KSP KUD Mintorogo.

“Saya mohon pemerintah membantu kami agar bisa membiayai pertanian kami. Mohon bisa dengan bunga kecil, lebih kecil dari bank,” kata Mardiyah pintanya kepada Menteri Koperasi dan UKM.

Menteri Teten mengaku, mendapat masukan langsung dari petani bawang merah di Demak. Petani perlu pembiayaan yang murah dan mudah untuk bisa mengembangkan sektor pertanian.

“Hari ini saya dapat pembelajaran Ibu Mardiyah untuk disampaikan ke presiden. Saya diminta (presiden) pelajari dan evaluasi pembiayaan koperasi langsung ke masyarakat,” tutur Teten.

Pihaknya memerintahkan agar LPDB-KUMKM bermitra dengan koperasi simpan pinjam yang membina UMKM.

“Kita ingin LPDB bermitra dengan KSP yang membina UMKM. Di semua tempat punya kelembagaan pembiayaan agar lebih cepat menjawab kebutuhan masyarakat yang memerlukan permodalan,” kata MenkopUKM mengakhiri pertemuan dengan para petani di Demak.

MULIA GINTING

Related posts

Saat Pandemi, Trias Sentosa Tunjukkan Kinerja Positif, Penjualan Domestik dan Ekspor Meningkat

adminJ9

KemenkopUKM Upayakan Bantuan untuk Usaha Mikro Tepat Sasaran melalui Akurasi Data

adminJ9

Bupati Bolaang Mongondow Timur Minta Maaf Terkait Pernyataan Banpres Produktif Usaha Mikro

adminJ9