Ilustrasi suasana di Masjidil Haram
MAKKAH, jurnal9.com – Pusat Meteorologi Nasional (NCM) Arab Saudi, mengumumkan jamaah haji tahun 2022 ini akan menghadapi cuaca ekstrim di kota Makkah dan Madinah. Dan suhu diperkirakan mencapai 42-45 derajat celsius pada siang hari. Kondisi tersebut akan terjadi sepanjang tahun ini.
Melihat kondisi suhu tinggi itu para calon jamaah haji pada tahun ini diminta untuk menjaga kesehatannya dan banyak mengkonkonsumsi vitamin. Dan banyak minum air putih. Sebab dengan cuaca ekstrim: suhu tinggi ini akan berisiko berbagai penyakit, termasuk ancaman covid-19 yang masih hingga saat ini.
dr Nadia Octavia dari KliKDokter menyebutkan dalam kondisi suhu tinggi 42-45 derajat celsius yang terjadi di Arab Saudi itu jamaah dapat berisiko mengalami heat stroke.
Menurut dia, heat stroke itu suatu kelainan pada tubuh yang disebabkan suhu panas yang tinggi. “Gejala heat stroke berupa demam di atas 39 derajat celcius, denyut nadi cepat, sulit bernapas, tekanan darah meningkat atau menurun, dan gangguan kesadaran yang berujung koma,” jelasnya.
“Kalau pasien tidak cepat ditangani, heat stroke bisa berakibat fatal dan terjadi serangkaian komplikasi mematikan,” ia menambahkan.
Selain itu dalam kondisi suhu tinggi, lanjut Nadia, calon jamaah haji dan umrah juga bisa berisiko mengalami gangguan pernapasan yang biasa disebut flu. “Biasanya flu ini menimbulkan gejala demam, batuk, pilek, nyeri kepala, badan lemas, pegal, dan sakit tenggorokan,” ujarnya.
Nadia juga mengingatkan mereka berisiko menjadi tinggi, jika mereka memiliki kekebalan tubuh rendah, ada penyakit kronis seperti diabetes, infeksi paru kronis, dan penyakit jantung.
“Lalu, lansia, pasien transplantasi organ, serta pasien dengan kekebalan tubuh rendah seperti kanker,” tuturnya.
Melihat pengalaman pada musim haji 2017, kata Nadia, dengan suhu tinggi rata-rata di atas 42-45 derajat celcius, jamaah haji berisiko diserang penyakit kolera.
“Kolera adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Gejalanya berupa buang air besar encer alis diare, mual, maupun muntah. Gejala ini bisa muncul selama 8–27 jam setelah terpapar bakteri penyebab kolera,” tuturnya.
Selain itu hampir setiap musim haji yang bersuhu tinggi, lanjut dia, banyak jamaah yang diserang meningitis. Makanya calon jamaah haji maupun umrah saat masih berada di tanah air, biasanya harus disuntik vaksin meningitis.
“Meningitis itu penyakit yang menginfeksi selaput otak dan sumsum tulang belakang. Gejala awalnya: mual, muntah, ruam di kulit, panas mendadak, dan nyeri di kepala,” kata Nadia.
Dia mengatakan meningitis bisa ditularkan saat di tanah suci karena di sana orang-orang dari berbagai negara di dunia bertemu.
“Tapi kalau mereka ada yang stres saat menjalankan ibadah haji dan umrah, ini karena faktor kondisi lelah. Apalagi bagi mereka yang sudah lansia, menghadapi suasana padat dengan lautan manusia, dan antrean anjang, lalu pulang ke penginapan jaraknya jauh, ini yang bisa menyebabkan stress,” kata Nadia.
Sumber: hypeabis.id
RAFIKI ANUGERAHA M