Dokter Terawan Agus Putranto
JAKARTA, jurnal9.com – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memecat dokter Terawan Agus Putranto dari keanggotaan dan tidak diizinkan melakukan praktik kedokteran. Ini yang bikin kisruh.
Pemecatan terawan sebagai anggota IDI berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). “Iya dipecat dari hasil muktamar yang kita terima. Dan diserahkan panitia memang begitu sesuai MKEK,” kata dr Nasrul Musadir Alsa, Sabtu (26/3/2022).
Hubungan renggang Terawan dan IDI sudah sempat ‘panas-dingin’ sejak lama. Ini diduga karena dipicu munculnya terapi cuci otak yang dilakukan Terawan.
Karena pemecatannya diduga dikaitkan dengan terapi cuci otak itu, maka Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly rela pasang badan menentang pemecatan bekas Menteri Kesahatan tersebut.
“Saya menuding ada oknum IDI yang mencuri momen untuk memecat Terawan,” kata Wakil Ketua DPR RI itu.
Sementara itu Wakil Ketua Komisi IX DPR Melkiades Laka Lena menyebut dokter Terawan adalah dokter yang banyak membantu dan memberikan pelayanan kesehatan. Jadi jangan sampai kepentingan publik atau rakyat yang ingin berobat jadi terganggu.
“Sebenarnya kita mencari jenis pengobatan apa saja. Esensi dari pengobatan itu yang penting menyembuhkan penyakit. Soal urusan keilmuan, nanti bisa diatur secara internal. Jangan sampai masalah ini menjadi ramai. Sehingga terjadi pemecatan pada seorang dokter yang punya keahlian ini. Akhirnya menimbulkan kekisruhan,” ungkap Melki, Minggu (31/3/2022).
IDI harus dievaluasi
Menkumham Yasonna Laoly menyayangkan pemecatan dokter Terawan dari IDI. “Keputusan IDI memberhentikan permanen Let. Jend. TNI (Purn) Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad sebagai anggota IDI, tanggal 3 Maret 2022, ini yang bikin gonjang ganjing,” kata Yasonna, dikutip dari akun Instagram resminya, @yasonna.laoly, Rabu (30/3/2022).
Yasonna mengaku tidak meragukan kredibilitas Terawan sebagai dokter. Ini terbukti pemakaian vaksin Nusantara yang pernah dilakukan Terawan. Saya yang sudah divaksin tidak mendapatkan efek samping. Bahkan ia merekomendasikan dua temannya diterapi oleh Terawan.
“Karena kredibilitas dan keahlian dokter Terawan yang tidak saya ragukan itu, sejak lama saya sangat berminat untuk Vaksin Nusantara. Saya tahu banyak pejabat tinggi negara yang sudah menerima suntikan Vaknus dari dokter Terawan, serta sangat meyakini keampuhannya. I feel great!!! No doubt about it!” kata Yasonna.
“Pada saat yang sama, saya membawa dua orang teman yang ingin mengikuti treatment DSA dari dokter Terawan. Sahabat saya tersebut sangat tertarik karena kesaksian dari beberapa teman yang telah pernah mendapat treatment DSA.”
“Setelah mendapat treatment DSA dari dokter Terawan, seminggu kemudian saya tanya kepada mereka, bagaimana hasilnya? Mereka berdua mengatakan super dan mantap, dan merekomendasi saya untuk DSA,” lanjutnya.
Yasonna mengatakan pemecatan dokter Terawan merupakan buntut dari kearoganan pihak tertentu. Buktinya pasien yang mendapatkan pengobatan dari Terawan ada yang mengaku puas.
“Ketika teman berdua ini mendengar keputusan IDI, kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah: ‘sirik dan arogan!!! Kami merasakan manfaat treatment yang dilakukan oleh dokter Terawan.’ Itu adalah pengalaman empirik mereka! Fakta! Saya kira ribuan pasien yang mendapat treatment DSA dari dokter Terawan mengatakan hal yang sama,” ungkap Yasonna dalam akun Instagramnya .
Yasonna mengaku menyayangkan terkait keputusan IDI memecat Terawan, sehingga berdampak tidak dapat melakukan praktik.
Yasonna menilai justru IDI harus dievaluasi, ia mengusulkan agar pemerintah membuat undang-undang izin praktik dokter merupakan domain pemerintah.
“Secara science, itu adalah bukti empirik! Karenanya, saya sangat menyesalkan putusan IDI tersebut, apalagi sampai memvonis tidak diizinkan melakukan praktek untuk melayani pasien,” ujar Yasonna.
“Posisi IDI harus dievaluasi! Kita harus membuat undang-undang yang menegaskan izin praktek dokter adalah domain pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Kepada dokter Terawan: ‘tetaplah berkarya untuk bangsa dan negara, serta untuk kemaslahatan umat manusia’,” tutur Yasonna.
RAFIKA ANUGERAHA M I ARIEF RAHMAN MEDIA